GUNUNG KIDUL - Gatot Gunung Kidul menjadi salah satu kuliner tradisional yang menarik perhatian karena bentuk dan proses pembuatannya tidak seperti olahan singkong pada umumnya.
Berwarna hitam pekat dan memiliki tekstur kenyal, makanan ini dibuat dari singkong yang dikeringkan kemudian direndam selama tiga hari tiga malam sebelum dikukus dan diberi campuran kelapa parut, gula, serta garam.
Sekilas, warna hitam pada gatot mungkin membuat orang bertanya-tanya mengenai bahan yang digunakan. Namun, warna tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan singkong, bukan karena penggunaan pewarna makanan.
Gatot juga menjadi contoh bagaimana bahan sederhana dapat diolah menjadi makanan yang memiliki cita rasa khas. Meski membutuhkan waktu beberapa hari, proses tersebut justru menjadi bagian penting dalam menghasilkan gatot yang siap disantap.
Baca Juga: Pendap Bengkulu Bertahan di Tengah Badai, Dari Keliling Naik Motor Kini Raup Puluhan Juta
Kenapa Singkongnya Berwarna Hitam ?
Bahan utama gatot adalah singkong yang telah melalui proses pengeringan. Dalam kondisi sebelum direndam, singkong tersebut memiliki warna hitam pekat dan tekstur yang masih keras.
Singkong kemudian direndam selama tiga hari tiga malam. Selama proses tersebut, air rendaman harus diganti setiap hari. Tujuannya agar tekstur singkong menjadi lebih lunak dan aroma yang tidak diinginkan dapat dikurangi.
Setelah direndam, perubahan tekstur terlihat cukup jelas. Singkong menjadi empuk dan mudah dipatahkan atau dipotong menggunakan tangan.
Tahap perendaman inilah yang membuat gatot tidak dapat langsung dimasak seperti singkong segar. Orang yang ingin membuatnya harus mempersiapkan bahan beberapa hari sebelumnya.
Dikukus hingga Matang
Setelah singkong cukup lunak, bahan tersebut dipotong menjadi beberapa bagian. Bagian tulang atau serat keras di tengah singkong juga dibersihkan.
Potongan singkong kemudian dikukus selama sekitar 30 menit. Setelah matang, teksturnya menjadi lebih siap untuk disantap dan diberi pelengkap.
Sambil menunggu singkong matang, kelapa parut dapat dipersiapkan. Kelapa yang digunakan sebaiknya masih agak muda sehingga teksturnya lebih lembut dan cocok dipadukan dengan gatot.
Kelapa parut tersebut kemudian diberi garam dan gula pasir. Takaran bumbu dapat disesuaikan dengan selera. Campuran tersebut menjadi pendamping utama yang memberikan rasa gurih sekaligus manis.
Tekstur Kenyal dengan Rasa Gurih
Setelah proses pengukusan selesai, kelapa parut berbumbu ditaburkan ke atas gatot. Keduanya kemudian dicampur hingga merata.
Hasil akhirnya merupakan makanan dengan tekstur kenyal dan rasa gurih yang berpadu dengan rasa manis dari gula. Kesederhanaan bahan justru menjadi karakter utama kuliner tersebut.
Gatot juga memperlihatkan bahwa makanan tradisional tidak selalu identik dengan proses yang cepat. Sebaliknya, beberapa kuliner membutuhkan waktu panjang agar menghasilkan tekstur dan rasa tertentu.
Tidak Bisa Dibuat Secara Dadakan
Salah satu hal menarik dari Gatot Gunung Kidul adalah waktu pengolahannya. Jika makanan modern dapat dibuat dan dikonsumsi dalam waktu relatif singkat, gatot membutuhkan persiapan sejak beberapa hari sebelumnya.
Singkong harus direndam terlebih dahulu selama tiga hari. Airnya pun harus diganti setiap hari sebelum bahan tersebut akhirnya dikukus.
Proses panjang itu membuat gatot memiliki karakter yang berbeda dibandingkan olahan singkong lainnya. Warna hitam, tekstur kenyal, serta perpaduan kelapa, gula, dan garam menjadi identitas dari makanan tersebut.
Bagi pencinta kuliner tradisional, Gatot Gunung Kidul bukan sekadar makanan berbahan singkong. Di balik tampilannya yang sederhana terdapat proses pengolahan yang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Kuliner tersebut sekaligus memperlihatkan cara masyarakat mengolah bahan pangan sederhana menjadi sajian yang khas dan tetap menarik untuk dicoba.
Baca Juga: Pendap Bengkulu Bertahan di Tengah Badai, Dari Keliling Naik Motor Kini Raup Puluhan Juta
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Wulan Kuncoro