JAKARTA - Gatot Gunungkidul menjadi salah satu kuliner tradisional berbahan singkong yang menarik perhatian karena bentuknya berwarna hitam, teksturnya kenyal, serta proses pengolahannya membutuhkan waktu cukup panjang.
Dalam video YouTube yang menjadi rujukan, pembuatan gatot dilakukan dengan merendam singkong selama tiga hari tiga malam, mengukusnya, lalu menyajikannya bersama kelapa parut, garam, dan gula pasir. Gatot sendiri tercatat sebagai camilan khas Gunungkidul yang dibuat dari ketela atau gaplek dan umumnya disajikan dengan parutan kelapa.
Baca Juga: Pendap Bengkulu Bertahan di Tengah Badai, Dari Keliling Naik Motor Kini Raup Puluhan Juta
Singkong Harus Direndam Lebih Dulu
Bahan utama yang digunakan adalah singkong yang telah dikeringkan hingga menjadi bahan gatot. Sebelum diolah, singkong direndam selama tiga hari tiga malam. Air rendaman diganti setiap hari agar teksturnya menjadi lebih empuk dan aroma yang kurang sedap dapat dikurangi.
Dalam video tersebut terlihat perbedaan kondisi singkong sebelum dan sesudah direndam. Singkong yang belum direndam tampak keras dan berwarna hitam pekat. Setelah melalui proses perendaman selama beberapa hari, teksturnya menjadi lebih lunak sehingga mudah dipatahkan dan dipotong.
Tahap ini menjadi bagian penting karena gatot tidak dapat dibuat secara instan. Bahan harus dipersiapkan lebih dahulu sebelum masuk ke proses pemasakan. Secara tradisional, gatot memang berasal dari gaplek atau singkong kering yang kemudian diproses kembali hingga siap dikonsumsi.
Dipotong dan Dikukus hingga Empuk
Setelah proses perendaman selesai, singkong dipotong menjadi bagian-bagian kecil menggunakan tangan. Bagian tulang atau serat tengah singkong turut dibersihkan agar hasil akhirnya lebih nyaman disantap.
Singkong yang sudah dipotong kemudian dikukus selama kurang lebih 30 menit. Setelah matang, teksturnya menjadi lebih empuk dan siap diberi campuran pelengkap.
Untuk bumbu, digunakan kelapa parut yang masih agak muda. Kelapa tersebut dicampur dengan garam dan gula pasir. Campuran ini kemudian ditaburkan ke singkong yang sudah dikukus dan diaduk hingga merata.
Hasil akhirnya adalah gatot dengan perpaduan tekstur kenyal serta rasa gurih dan manis dari kelapa, garam, dan gula. Sajian sederhana tersebut menjadi salah satu bentuk olahan pangan lokal yang masih mempertahankan cara pengolahan tradisional.
Gatot, Jejak Kuliner Tradisional Gunungkidul
Dinas Pariwisata Gunungkidul mencatat Gathot sebagai camilan khas daerah tersebut. Makanan ini dibuat dari ketela yang dikeringkan atau gaplek, kemudian diproses secara tradisional dan disajikan dengan parutan kelapa. Gatot juga dikenal sebagai menu sarapan yang dapat disantap bersama teh atau kopi.
Sejumlah sumber pemerintah dan literatur kebudayaan juga menjelaskan bahwa gatot dan tiwul sama-sama berbahan dasar singkong, tetapi memiliki bentuk dan proses pengolahan berbeda. Gatot menggunakan gaplek berwarna gelap, sedangkan tiwul diolah dari gaplek yang ditumbuk menjadi bahan bertekstur berbeda.
Keberadaan gatot tidak sekadar memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam mengolah singkong. Kuliner ini juga berkaitan dengan kondisi lingkungan Gunungkidul yang dikenal sebagai kawasan kering dan berbatu, sehingga singkong menjadi salah satu tanaman yang dapat diandalkan sebagai sumber pangan.
Mengapa Warnanya Hitam?
Ciri paling mudah dikenali dari gatot adalah warnanya yang gelap. Dalam literatur kuliner Yogyakarta, gatot dibuat dari gaplek berwarna hitam, sementara warna tersebut berkaitan dengan proses pengeringan dan fermentasi pada singkong. Karena itu, tampilan hitam pada gatot bukan sekadar hasil pemberian bumbu, melainkan bagian dari karakter bahan bakunya.
Bagi masyarakat Gunungkidul, gatot juga menjadi contoh pemanfaatan singkong sebagai sumber pangan yang diolah melalui tahapan panjang. Dinas Pariwisata Gunungkidul menempatkan gatot dalam daftar kuliner khas daerah bersama sejumlah panganan tradisional lain. Penyajiannya yang sederhana justru memperlihatkan karakter makanan rumahan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Proses panjang menjadi salah satu daya tarik gatot. Dari singkong yang dikeringkan, direndam berhari-hari, dipotong, hingga dikukus dan diberi kelapa parut, seluruh tahapan membutuhkan ketelatenan. Karena itu, siapa pun yang ingin mencoba membuat gatot di rumah perlu menyiapkan bahan sejak beberapa hari sebelumnya.
Dengan rasa kenyal, gurih, dan manis, gatot menunjukkan bahwa makanan tradisional berbahan sederhana tetap memiliki cerita dan karakter tersendiri. Kuliner khas Gunungkidul ini pun menjadi bagian dari kekayaan pangan lokal yang masih menarik untuk dikenalkan kepada generasi sekarang.
Baca Juga: Pendap Bengkulu Bertahan di Tengah Badai, Dari Keliling Naik Motor Kini Raup Puluhan Juta
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Wulan Kuncoro