PALU - Sup Kaledo menjadi salah satu pilihan menu berbuka puasa yang menarik di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Hidangan khas suku Kaili ini berbahan kaki sapi yang dimasak selama dua hingga tiga jam hingga empuk.
Kuahnya menggunakan bumbu sederhana berupa asam, cabai, dan garam yang menghasilkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan segar.
Suasana Ramadan memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin menikmati kaledo. Selain hidangan utama, rumah makan yang menjadi lokasi liputan juga menyediakan sejumlah takjil khas Sulawesi yang dapat disantap sebelum menikmati semangkuk kaledo.
Baca Juga: Pendap Bengkulu Dimasak Semalaman, Teksturnya Bikin Nex Carlos Terkejut
Kaki Sapi Menjadi Bahan Utama
Pemilik rumah makan Kaledo Stereo, Dahlia, menjelaskan bahwa kaledo merupakan masakan khas Sulawesi Tengah yang menggunakan kaki sapi sebagai bahan utama.
Nama kaledo sendiri berkaitan dengan istilah “kaki lembu Donggala”. Donggala merupakan salah satu wilayah di Sulawesi Tengah yang turut melekat dalam identitas makanan tersebut.
Kaki sapi kemudian dimasak dalam waktu cukup lama. Menurut Dahlia, proses memasaknya membutuhkan sekitar dua sampai tiga jam agar daging dan bagian tulangnya menjadi empuk.
Proses tersebut juga menghasilkan kaldu yang menjadi bagian penting dalam kuah kaledo. Setelah matang, hidangan dapat disajikan dan dinikmati bersama pendamping seperti singkong rebus.
Bumbu Sederhana dengan Rasa Kuat
Salah satu hal yang menarik dari kaledo adalah penggunaan bumbunya yang tidak terlalu banyak. Asam, cabai, dan garam menjadi beberapa bahan utama yang digunakan untuk memberikan rasa pada kuah.
Meski sederhana, perpaduan tersebut menghasilkan karakter rasa yang cukup kuat. Rasa asam dan pedas berpadu dengan kaldu dari kaki sapi sehingga menghasilkan kuah yang cocok disantap dalam kondisi hangat.
Kaledo juga memiliki tekstur khas karena menggunakan bagian kaki sapi. Proses memasak selama berjam-jam membuat daging menjadi lebih lunak sehingga lebih mudah disantap.
Bagi masyarakat maupun wisatawan yang baru mengenal kuliner Sulawesi Tengah, karakter tersebut menjadi bagian menarik dari pengalaman mencicipi kaledo.
Ada Barongko hingga Otak-Otak Tenggiri
Menjelang waktu berbuka, pengunjung tidak langsung disuguhi kaledo sebagai satu-satunya pilihan. Rumah makan tersebut juga menyediakan beberapa makanan ringan yang bisa disantap sebagai takjil.
Salah satunya adalah barongko, makanan berbahan dasar pisang. Ada pula puding gula aren yang menawarkan cita rasa manis.
Sementara untuk pilihan gurih, tersedia otak-otak ikan tenggiri. Beragam makanan tersebut dapat menjadi hidangan pembuka sebelum pengunjung menikmati kaledo sebagai makanan utama.
Penyajian berbagai makanan tersebut membuat pengalaman berbuka tidak hanya berfokus pada satu menu. Pengunjung bisa memilih makanan ringan terlebih dahulu sebelum menikmati hidangan yang lebih berat.
Kaledo dan Identitas Kuliner Palu
Keberadaan kaledo menjadi salah satu gambaran kekayaan kuliner yang dimiliki Palu dan Sulawesi Tengah. Hidangan ini memiliki ciri khas dari bahan utama, teknik memasak, hingga perpaduan rasa dalam kuahnya.
Bagi wisatawan yang sedang berada di Palu, kaledo dapat menjadi salah satu kuliner lokal yang layak masuk daftar makanan untuk dicoba. Terlebih, proses memasaknya yang memakan waktu membuat hidangan ini memiliki karakter tersendiri.
Tidak hanya mengandalkan rasa, kaledo juga membawa identitas kuliner masyarakat Sulawesi Tengah. Dari kaki sapi yang dimasak hingga empuk hingga kuah bercita rasa asam dan pedas, setiap unsur memberikan kekhasan pada hidangan tersebut.
Saat Ramadan, kaledo bahkan dapat dinikmati bersama berbagai pilihan takjil lokal. Perpaduan menu tersebut memberikan alternatif bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin menikmati sajian khas Palu saat waktu berbuka tiba.
Baca Juga: Pendap Bengkulu Dimasak Semalaman, Teksturnya Bikin Nex Carlos Terkejut
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Metro TV