JAKARTA- Kasuami menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih dipertahankan masyarakat keturunan Suku Buton di Pulau Pemanah, Kecamatan Alo, Kabupaten Sikka.
Berbahan dasar singkong, makanan ini tidak sekadar menjadi santapan sehari-hari, tetapi juga bagian dari tradisi yang hadir dalam pesta pernikahan, syukuran kelahiran hingga perayaan hari raya.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan Kasuami menjadi bukti bagaimana tradisi kuliner dapat ikut berpindah bersama masyarakat dari satu daerah ke daerah lain. Kuliner yang dikenal luas sebagai makanan khas masyarakat Buton, Sulawesi Tenggara, itu diwariskan secara turun-temurun.
Menariknya, Kasuami di wilayah tersebut memiliki cara pengolahan yang cukup khas. Bahan utamanya berupa singkong atau ubi kayu. Selain itu, digunakan pula parutan kelapa dan gula untuk memberikan cita rasa yang lebih gurih sekaligus manis.
Baca Juga: Bukan Cuma Papeda, 13 Makanan Khas Papua Ini Punya Cita Rasa Tak Biasa
Dua Jenis Kasuami dengan Karakter Berbeda
Dalam proses pembuatannya, masyarakat mengenal dua jenis Kasuami, yakni Kasuami dari ubi kering dan Kasuami dari ubi basah. Perbedaan bahan tersebut membuat tampilan keduanya juga tidak sama.
Kasuami yang menggunakan singkong kering memiliki warna lebih gelap. Sementara Kasuami dari singkong basah cenderung berwarna putih. Meski berbeda secara tampilan, keduanya memiliki cita rasa yang sama-sama khas.
Untuk membuat Kasuami kering, singkong terlebih dahulu diiris kemudian direndam selama dua malam. Setelah itu, singkong dijemur hingga kering. Saat akan diolah, singkong tersebut ditumbuk menggunakan lesung dengan sedikit tambahan air.
Singkong tidak ditumbuk hingga menjadi tepung halus. Teksturnya justru dibiarkan agak kasar. Setelah proses tersebut selesai, hasil tumbukan dimasukkan ke dalam karung untuk menjalani tahap berikutnya.
Mengandalkan Alat Tradisional
Salah satu bagian menarik dari pembuatan Kasuami adalah penggunaan alat tradisional bernama hobia. Alat tersebut terbuat dari papan kayu dan digunakan untuk membantu mengeluarkan kandungan air dari singkong, baik yang berasal dari bahan kering maupun basah.
Setelah kandungan air berkurang, singkong kemudian dicampur dengan parutan kelapa dan gula. Campuran tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam wadah berbentuk kerucut yang dibuat dari anyaman lontar.
Wadah tersebut kemudian ditempatkan di atas mulut periuk tembaga. Sebelumnya, periuk diisi air yang kemudian dipanaskan hingga mendidih. Uap panas dari air mendidih itulah yang membantu proses pematangan Kasuami.
Teknik memasak menggunakan uap tersebut menjadi bagian penting dalam menghasilkan makanan dengan tekstur dan karakter yang khas. Penggunaan peralatan tradisional juga memperlihatkan bahwa proses pembuatan Kasuami masih mempertahankan cara yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Disantap Bersama Kopi hingga Ikan
Kasuami tidak hanya dinikmati sebagai makanan tradisional dalam berbagai acara. Makanan berbahan singkong ini juga dapat menjadi teman bersantai.
Kasuami kering maupun basah disebut memiliki cita rasa yang nikmat. Sebagian masyarakat menikmatinya bersama segelas kopi. Namun, bagi masyarakat Suku Buton, Kasuami juga kerap disantap bersama lauk, termasuk ikan dengan kuah mangga muda.
Tradisi tersebut membuat Kasuami memiliki posisi lebih dari sekadar makanan. Ia menjadi bagian dari identitas dan kebiasaan masyarakat yang terus dipertahankan.
Di tengah banyaknya makanan modern, keberadaan Kasuami menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat. Dari singkong sederhana, lahir makanan yang membawa cerita tentang perpindahan masyarakat, tradisi keluarga, serta cara generasi sebelumnya memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan mereka.
Baca Juga: Bukan Cuma Papeda, 13 Makanan Khas Papua Ini Punya Cita Rasa Tak Biasa
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Tribun Flores