Radar Tulungagung - Masyarakat Jawa Timur dikenal sebagai masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan tradisi leluhur.
Termasuk juga tentang berbagai tradisi menyambut bulan puasa di Jawa Timur yang masih tetap dilestarikan hingga saat ini.
Hal ini mencerminkan kearifan lokal dan harmonisasi antara nilai-nilai Islam dengan budaya setempat.
Keberagaman tradisi ini menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Jawa Timur mampu mempertahankan warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Dilansir dari liputan6 Berikut beberapa tradisi menyambut bulan puasa di wilayah Jawa Timur:
Nyekar
Tradisi yang paling umum dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur menjelang bulan Ramadan adalah Nyekar atau ziarah kubur.
Tradisi ini dilaksanakan dengan mengunjungi makam leluhur dan kerabat yang telah tiada.
Makna mendalam dari tradisi nyekar tidak hanya sebatas membersihkan makam, tetapi juga sebagai pengingat tentang setiap orang hidup pasti akan meninggal, dan pentingnya mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan puasa.
Unggahan/Megengan
Unggahan atau yang di beberapa daerah dikenal dengan istilah megengan merupakan tradisi yang dilaksanakan sekitar seminggu sebelum Ramadan.
Di Blitar dan sekitarnya, tradisi ini dilakukan dengan cara yang unik di mana setiap warga membawa satu hingga dua lebih berkatan atau nasi kotak untuk dikumpulkan dan didoakan bersama.
Dalam tradisi ini, setiap berkatan memiliki komponen wajib berupa nasi dengan lauk pauk seperti tahu, ayam, dan mie.
Yang menarik, tradisi ini juga mengharuskan adanya kue apem sebagai simbol permohonan maaf atau ampunan.
Kata "apem" sendiri berasal dari bahasa Arab "afwan" yang memiliki arti maaf, mencerminkan harapan untuk mendapatkan pengampunan menjelang bulan suci Ramadhan.
Tradisi Kolak Ayam
Masyarakat Probolinggo memiliki tradisi unik dalam menyambut Ramadan dengan membuat kolak ayam.
Berbeda dengan kolak pada umumnya yang terbuat dari pisang atau ubi, kolak ayam merupakan hidangan khas yang mencampurkan konsep kolak manis dengan pengolahan daging ayam.
Tradisi ini dilaksanakan beberapa hari menjelang Ramadan, di mana warga akan berkumpul untuk memasak dan menikmati kolak ayam bersama dengan lingkungan sekitar.
Selain sebagai hidangan khas, tradisi ini juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar warga sebelum memasuki bulan puasa.(Vivi)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz