Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jaranan Jawa Sepi Peminat di Tulungagung, Benarkah Kalah dengan Jenis Jaranan Lain?

Sandy Sri Yuwana • Kamis, 20 Februari 2025 | 05:20 WIB

Salah satu pertunjukan Jaranan Jawa di Tulungagung beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)
Salah satu pertunjukan Jaranan Jawa di Tulungagung beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

RADAR TULUNGAGUNG - Seni Jaranan Jawa kini semakin terpinggirkan di tengah arus modernisasi, tak terkecuali di Tulungagung.

Bahkan para seniman Jaranan Jawa di Tulungagung juga merasa dianaktirikan pemerintah.

Baca Juga: Cerita Andik Gusdianto, Guru Bahasa Inggris Ajarkan Seni Reog dan Jaranan di Tulungagung

Indikasinya, Jaranan Jawa paling jarang dipentaskan dibandingkan seni jaranan lain yang lebih populer di Tulungagung

"Kami seniman Jaranan Jawa merasa kurang diperhatikan oleh pemerintah," kata Riyadi, salah satu pelatih Jaranan Jawa asal Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung .

Baca Juga: Ada Sejak Ratusan Tahun Lalu, Intip Kesenian Tiban di Desa Kedungcangkring Tulungagung

Seperti diketahui, ada banyak jenis dan grup jaranan di Tulungagung. Antara lain Jaranan Jawa, Jaranan Senterewe, Jaranan Pegon, Turangga Yaksa, dan lain sebagainya.

Di antara jenis-jenis itu, Jaranan Jawa paling sedikit diminati masyarakat.

Baca Juga: Inilah Reog Kendang Kesenian Tradiosional Asli Tulungagung

Alasannya, menurut beberapa pecinta seni jaranan, karena Jaranan Jawa paling sedikit garap dan kreasinya.

Sehingga kesannya monoton. Baik secara dinamika gerak maupun musikalnya.

Baca Juga: Mengenal Sanggar Seni Gedhang Godhog Tulungagung, Pelestari Kesenian Kentrung yang Melegenda

"Ragam geraknya itu-itu saja dan banyak pengulangan. Sehingga membosankan bagi penonton" kata Soleh, seorang penggemar jaranan yang tinggal di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu.

Dio, seorang seniman tari dari daerah Kecamatan Pakel, berpendapat bahwa Jaranan Jawa secara esensi sebatas bagus sebagai bahan baku untu dikembangkan pada tari jaranan lainnya.

Maksudnya, Jaranan Jawa bagus sebagai sumber. "Kalau tidak dikembangkan justru terancam punah," katanya.

Edy, penari senior Jaranan Jawa, mengakui kalau Jaranan Jawa termasuk kurang diminati penonton karena kurang dinamis.

Baca Juga: Jedoran: Kesenian Musik Legendaris di Tulungagung yang Mulai Ditinggalkan, Beni Harjanto: Betapa Indahnya Jika Dimainkan Anak-anak

Tetapi dia menjelaskan bahwa Jaranan Jawa tetap ada peminatnya yang fanatik. "Eforia pecinta jaranan sudah berubah. Sekarang pada tertarik pada jaranan yang ada dangdut atau campur sarinya," kata Edy.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bambang Ermawan membenarkan jika sudah lama tidak ada gelaran untuk kesenian Jaranan Jawa diTulungagung yang diselenggarakan dinas,

"Jika pergelaran pribadi masih ada. Namun kalau dari dinas kok belum. Tapi ada yang mengusulkan di tahun ini," jelasnya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#jaranan #tulungagung #kesenian #jaranan senterewe #jaranan jawa #jaranan tulungagung