RADAR TULUNGAGUNG - Dapur keris babaran (buatan) empu dari tanah Jawa selalu dikaitkan dengan nilai-nilai filosofi.
Baik bentuk dapur keris, condong leleh (sudut kemiringan), maupun jumlah luknya (jumlah kelokan). semua selalu ada maknanya.
Keris dapur Balebang adalah salah satu contohnya.
Keris dapur Balebang memiliki ciri luk 7 dengan ricikan; gandik, kembang kacang, jalen, lambe gajah, sraweyan, ada-ada, sogokan rangkep, dan greneng di ganja bagian belakang.
Keris ini ukuran panjangnya sedang sekitar 37 - 38 sentimeter dengan condong leleh mayuk alias sumungkem (kemiringannya agak tajam).
Keris sumungkem sebagai simbul sikap yang selalu menunduk. Sebagai tanda bahwa pemiliknya adalah orang yang berilmu. Bagaikan 'ilmu padi', semakin menunduk semakin berisi.
Sedangkan luk 7 disebut sebagai luk pitu. Pitu di sini bermakna pitulungan atau pertolongan. Sehingga keris luk 7 dimaknai banyak mendapat pertolongan, tapi juga harus suka memberi pertolongan.
Balebang merupakan kependekan dari Bale Kambang. Bale adalah balai atau bangunan yang terbuat dari kayu. Sedangkan Kambang artinya mengapung di atas air.
Secara harafiah Bale Kambang berarti balai yang mengapung di atas air.
Dalam budaya Jawa kuno, Bale Kambang diibaratkan bagai puncak Maha Meru yang dikelilingi tujuh lautan. Sedangkan Maha Meru sendiri adalah puncak atau tempat tertinggi di Pulau Jawa.
Secara filosofi Balebang adalah kekuasaan tertinggi yang selalu dikelilingi oleh kehidupan di bawahnya.
Bale Kambang zaman dahulu sering digunakan untuk beribadah para raja dan pembesar kerajaan. Sehingga keris berdapur Balebang umumnya dimiliki oleh para tokoh spiritual dan para penguasa di kerajaan.
Selain itu Bale Kambang juga digunakan untuk memantau keamanan kerajaan, karena tempatnya di ketinggian.
Oleh karena itu pemilik keris berdapur Balebang dipercaya akan memiliki kemampuan bisa mengetahui hal-hal yang akan terjadi, alias waskita.
Makanya keris tersebut dulunya juga lazim dipunyai oleh para pimpinan pasukan perang.
Dapur Balebang tergolong salah satu dapur keris yang sangat sepuh. Yakni sudah ditemukan di zaman Kerajaan Kediri, Singasari, Majapahit, dan zaman-zaman berikutnya.
Namun, keris Balebang di zaman Kediri dan Singasari biasanya ukurannya lebih besar dan panjang. Seperti lazimnya keris Kabudan.
Sumber : Buku Dapur Keris
Editor : Sandy Sri Yuwana