Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menguak Tabir Punden Mbah Drono Sumito, Sejarah dan Dinamika Desa Sumberdadi: Menjaga Warisan Leluhur di Era Modern

Rinto Wahyu Hidayat • Senin, 31 Maret 2025 | 22:48 WIB
Punden Mbah Drono Sumito di Desa Sumberdadi Tulungagung
Punden Mbah Drono Sumito di Desa Sumberdadi Tulungagung

Radar Tulungagung - Di balik ketenangan sebuah desa yang tampak biasa, Desa Sumberdadi menyimpan rangkaian kisah sejarah yang kaya dan penuh nuansa budaya.

Terletak di Kecamatan Sumbergempol, desa yang terbagi atas dua dusun yaitu: Gempol dan Selojeneng ini menyimpan jejak asal-usul nama yang tak lepas dari legenda dan kepercayaan leluhur.

Asal Usul Nama dan Sumber Mata Air yang Legendaris Menurut keterangan para sesepuh, khususnya Mbah Maksum (88) dan Mbah Basyar (88) dari Dusun Gempol, nama “Gempol” diambil dari jenis pohon yang pernah tumbuh besar di atas sumber mata air.

Konon, sumber tersebut tidak pernah kering meski musim kemarau tiba. Cerita turun-temurun menyebutkan bahwa aliran air hanya berhenti jika ditutup dengan “sodo lanang”, yakni lidi, meskipun hingga kini belum ada bukti tertulis yang menguatkan kebenarannya.

Buyut Mbah Iro Dermo sempat mencoba menutup aliran tersebut agar rawa yang melimpah itu bisa diolah menjadi lahan pemukiman dan pertanian.

Berbagai metode pun dicoba, mulai dari penutupan dengan tanah, batu, hingga kapas pohon aren, yang akhirnya berhasil mengubah kondisi alam wilayah itu.

Warisan Budaya dan Keberadaan Punden Desa, Di samping sejarah alamnya, Desa Sumberdadi juga kaya akan tradisi spiritual yang melekat pada punden-punden atau tempat suci yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya danyang leluhur.

Salah satunya adalah Punden Srigading, yang kini berada di wilayah Desa Plosokandang. Dahulu, kawasan tersebut dikenal dengan pohon Ploso yang besar dan keberadaan kendang yang dipercaya menyimpan segala jenis kehidupan.

Tak hanya itu, terdapat pula punden seperti Ki Ageng Nilo Suwarni (Mbah Ageng) di Dusun Selojeneng Barat dan Punden Mbah Drono Sumito di Dusun Selojeneng Timur.

Kedua punden tersebut menjadi saksi bisu sejarah perjalanan para pendatang yang datang untuk mencari tanah pemukiman dan menyebarkan dakwah Islam.

 

Cerita ini memberikan gambaran yang mendalam tentang transformasi alam dan sosial yang dialami oleh masyarakat desa, sekaligus melestarikan warisan budaya yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.(rin)

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#Sumberdadi #tulungagung #Punden