Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Yuk Mengenal 12 Prosesi Pernikahan Adat Jawa, Nomor 6 Mirip Nama Pantai di Tulungagung

Dharaka R. Perdana • Kamis, 3 April 2025 | 23:54 WIB

Ilustrasi pengantin adat Jawa. (PASSION JEWELERY)
Ilustrasi pengantin adat Jawa. (PASSION JEWELERY)

RADAR TULUNGAGUNG - Bulan Syawal di kalangan masyarakat Jawa identik dengan bulan baik untuk menggelar pernikahan.

Namun pernikahaan saat ini sering diambil praktisnya saja. Selain menyingkat durasi resepsi, pernikahan tanpa ada adat ideal dilakukan untuk menghemat budjet.

Tidak ada yang salah sebenarnya karena secara hukum dan agama sudah sah. Padahal, meskipun terlihat ribet prosesi pernikahan adat Jawa penuh simbol dan sarat akan doa untuk kedua calon pengantin.

Yuk mengenal dan makna prosesi pernikahan adat Jawa berikut ini.

1. Prosesi Pasang Tarub, Bleketepe, dan Tuwuhan

Pasang tarub, bleketepe, dan tuwuhan adalah awal dari proses pernikahan adat Jawa.

Tarub yang dipasang di pagar atau pintu masuk memiliki arti sebagai atap sementara atau peneduh rumah.

Pemasangan tarub ini dibarengi dengan pemasang bleketepe ini sebagai penanda rumah sedang melakukan acara pernikahan.

Bleketepe, tarub, dan tuwuhan ini juga jadi simbol tolak bala. Bleketepe yang terbuat dari anyaman daun kelapa ini akan dipasangkan dengan tuwuhan.

Tuwuhan dipasang di kiri dan kanan gerbang biasanya isinya adalah tumbuh-tumbuhan. Salah satu yang wajib ada adalah pisang raja, kelapa muda, batang padi, dan janur.

Pemasangan bleketepe, tarub, dan tuwuhan ini berisi harapan pasangan yang akan segera menikah.

Diharapkan calon pengantin memperoleh keturuan yang sehat, berbudi baik, berkecukupan dan selalu bahagia.

2. Sungkeman

Sungkeman mungkin jadi hal yang sudah sering kamu dengar karena prosesi ini bukan hanya ada di prosesi pernikahan saja.

Sungkeman ini bukti penghormatan kepada orang tua dan sesepuh. Prosesi ini biasanya terasa lebih intim karena sang calon mempelai akan meminta maaf dan meminta izin untuk segera menjalani kehidupan baru.

3. Siraman

Siraman dimaknai sebagai penyucian diri atau membersihkan diri sebelum upacara sakral.

Air untuk siraman dipenuhi dengan bunga sebagai simbol doa agar rumahtangga anak senantiasa indah seperti bunga.

Hanya orang yang lebih tua dan sudah menikah yang boleh menyiramkan air pada calon pengantin.

Biasanya 7 orang wakil keluarga yang akan menyiramkan air dengan tujuan meminta berkah dan doa pada pernikahan.

4. Dodol dawet

Setelah acara siraman berakhir, kedua orang tua mempelai  berjualan dawet atau disebut dengan dodol dawet.

Ibu dari calon pengantin akan berjualan sambil dipayungi sang suami. Dodol dawet  ini mempunyai arti kebulatan kehendak orang tua untuk menjodohkan atau melepaskan anaknya.

Tamu yang ingin membeli dawet atau cendol ini harus membayar dengan uang kreweng yang terbuat dari tanah liat.

Kreweng ini menunjukan kehidupan manusia yang berasal dari tanah. Selama prosesi berlangsung ibu akan melayani pembeli dan ayah akan menerima pembayarannya.

Ini memiliki arti mengajarkan calon pengantin untuk mencari nafkah dan saling membantu.

5. Meratus Rambut dan Ngerik

Rambut yang basah sehabis disiram dikeringkan oleh perias dengan diratus. Tidak hanya kering, rambut pun akan senantiasa harum hingga hari pernikahan.

Setelah itu, perias akan mulai ngerik untuk menghilangkan rambut halus yang ada di dahi, yang bertujuan membuang sial atau hal buruk yang pernah menimpa calon mempelai.

Lalu, perias akan mulai membuat pola cengkorong paes.

6. Midodareni

Salah satu acara yang paling dinanti pada acara pranikah adat Jawa adalah ritual midodareni.

Prosesi ini dilakukan oleh calon mempelai wanitaIa diharuskan berdiam diri di dalam kamar sejak pukul 18.00-24.00 biasanya sang mempelai dirias dengan riasan sederhana.

Calon pengantin wanita ini akan ditemani ibu dan kerabat dekat yang semuanya wanita.

Pada malam hari ada prosesi tantingan yang dilakukan oleh ayah calon pengantin wanita. Ayah akan menanyakan bagaimana kesiapan dan kamantapan hati sang putri untuk berumah tangga.

Pada prosesi midodareni ini calon pengantin pria akan datang ke rumah sang calon pengantin wanita.

Tapi kedua calon pengantin ini tidak boleh bertemu sama sekali. Calon pengantin pria yang datang ke rumah ini mempunyai makna kesiapan pernikahan.

7. Srah-srahan di Malam Midodareni

Di malam yang sama calon pengantin pria akan membawa srah-srahan ke rumah calon pengantin wanita.

Srah-srahan ini biasanya berisi perhiasan, pakaian, alat mandi, alat sholat, makeup, dan berbagai makanan tradisional.

Biasanya di dalam serah-serahan ini juga ada setanda pisang raja yang memiliki arti berkah dan rasa syukur.

8. Balang Gantal

Balang gantal adalah awal dari upacara panggih yang biasanya digelar setelah ijab Kabul. Pengantin saling melempar sirih inilah yang disebut dengan balang gantal.

Gantal dibuat dengan daun sirih yang diisi dengan bunga pisang, kapur sirih, gambir dan tembakau hitam.

Prosesi ini dilangsungkan dengan cara pengantin berdiri di arah berlawan dan saring melempar gantal.

Ritual ini melambangkan kedua mempelai saling melempar kasih sayang.

9. Ngidak Endhog

Ngidak endhog dalam bahasa Indonesia mempunyai arti menginjak telur.

Prosesi ini memiliki arti pengharapan kedua pasangan baru untuk mendapatkan keturunan yang merupakan tanda cinta kasih.

Selain itu ini juga dilambangkan sebagai kesetiaan istri kepada suaminya.

10. Sindur

Setelah prosesi injak telur selesai, pengantin akan melanjutkan dengan prosesi sindur.

Kain sindur akan dibentangkan kepada pengantin oleh ibu dan bersama-sama dituntun sang ayah berjalan menuju pekaminan.

Hal ini adalah pengharapan agar pengantin baru ini siap menghadapi segala kesukaran dalam hidup.

11. Kacar kucur

Sebelum prosesi kacar kucur dilangsungkan ada prosesi timbangan, pasangan baru ini duduk di pangkuan ayah mempelai wanita.

Setelahnya baru dilangsungkan proses adat kacar kucur, mempelai pria akan mengucurkan biji-bijian dan uang receh yang disimbolkan sebagai penghasilan.

Ini menunjukkan pria bertanggung jawab untuk memberi nafkah kepada keluarganya.

12. Dulangan atau suap-suapan

Proses suap-suapan atau dulang-dulangan juga ada di prosesi pernikahan adat Jawa.

Dulangan ini mengandung arti kiasan kalau pasangan pria dan wanita diharapkan selalu rukun dan pengertian.

13. Sungkeman

Sungkeman adalah prosesi terakhir pernikahan adat Jawa. Sungkeman pengantin kepada orangtua ini untuk meminta doa dan memohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan, kedua mempelai sembah sungkem kepada kedua pasang orang tua.

Apabila kakek dan nenek turut hadir, urutan sembah sungkem diawali dari nenek dan kakek, barulah kedua orang tua.

 
 
Editor : Dharaka R. Perdana
#makna #masyarakat jawa #pernikahan #tulungagung #Prosesi #menikah #bulan syawal #adat jawa