RADAR TULUNGAGUNG - Pemerintah Desa Ngrendeng, Kecamatan Gondang, Tulungagung memahami upaya melestarikan budaya dan dukung ketahanan pangan.
Warga desa yang berada Tulungagung barat ini pun menggelar tradisi bertajuk Miwiti Panen lan Methik, Kaki Sedana, Nini Sedana, Jumat (11/4/2025). Hal ini sebagai wujud syukur masyarakat akan hasil panennya tahun ini.
Kepala Desa Ngrendeng, Nurjiman, menyebut, tradisi ini merupakan bagian dari syukuran adat sebelum masa panen dimulai.
Baca Juga: Hangatnya Keberaamaan, Tradisi Makan Bersama di Tulungagung Setelah Salat Id
Tradisi ini merupakan tradisi tahunan di Desa Ngrendeng yang tidak hanya menjadi momentum spiritual dan budaya, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan leluhur yang sarat makna.
“Makna dari tradisi ini adalah bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil bumi, serta sebagai penghormatan terhadap nilai-nilai luhur warisan leluhur,” ujarnya
Dia menjelaskan acara adat yang diselenggarakan di sekitar areal persawahan seluas 58 hektare di Desa Ngrendeng ini juga dihadiri langsung para stakeholder di Tulungagung, khususnya di Kecamatan Gondang.
Yaitu ada dari, Forkopimcam Kecamatan Gondang, Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, pendamping desa, Ketua Lembaga Adat Desa Ngrendeng, Ketua Baranusa Tulungagung, tokoh masyarakat, serta para warga yang antusias mengikuti jalannya prosesi.
“Tradisi ini dilaksanakan sebelum proses panen dimulai. Kita percaya bahwa hasil panen adalah berkah, maka sebelum memetiknya, kita rayakan dulu sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan restu kepada Tuhan dan leluhur,” jelas Nurjiman.
Baca Juga: Berikut Makna Filosofis Lima Riasan Pengantin Adat Jawa, Mana yang Kamu Tahu?
Lebih dari itu, prosesi ini juga memiliki makna filosofis tentang keseimbangan hidup, yang digambarkan melalui mengambil sampel padi simbol Kaki dan Nini Sedana.
Dalam budaya tani Jawa, Nini Sedana melambangkan padi berisi yang mengarah ke dalam (perempuan), sedangkan Kaki Sedana melambangkan padi yang mengarah ke luar (laki-laki).
Keduanya mencerminkan keseimbangan yang dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Acara semakin meriah dengan kirab budaya yang menghadirkan grup jaranan Sentono Putro Asli dari Desa Ngrendeng, mengiringi pemetikan simbolis hasil panen oleh tokoh-tokoh adat.
Di sela acara, turut diberikan edukasi dan sosialisasi program serap gabah kepada petani desa.
Disampaikan bahwa Desa Ngrendeng kini mampu melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun, dengan hasil stabil dan minim kendala berkat dukungan pola tanam teratur dan pendampingan intensif dari Dinas Pertanian Tulungagung.
Sementara itu Kabid Sarana Muchamad Mahmudi, dalam sambutannya mengapresiasi langkah Desa Ngrendeng yang tidak hanya berhasil menjaga produktivitas pertanian, tetapi juga tetap konsisten menjaga tradisi sebagai kekayaan budaya yang tak ternilai.
Di akhir acara, Nurjiman menegaskan harapannya agar generasi muda Desa Ngrendeng mampu menjaga dan meneruskan tradisi ini sebagai bagian dari identitas desa.
“Tradisi ini bukan sekadar budaya, tapi juga bentuk penghargaan terhadap bumi, kerja keras petani, dan filosofi hidup masyarakat agraris. Jika generasi muda memahami ini, maka kita tidak hanya menjaga masa lalu, tapi juga menanamkan nilai luhur untuk masa depan,” pungkasnya.
Dengan kombinasi antara pelestarian budaya dan semangat pertanian modern, Desa Ngrendeng menunjukkan bahwa kemandirian desa, bukan hanya soal ekonomi saja, tapi juga soal merawat akar budaya yang memperkuat jati diri.
Gelaran tradisi tersebut diakhiri dengan prosesi makan-makan, atau selamatan. Para undangan dan warga yang hadir sangat bergembira dalam menyambut musim panen di 2025 ini. ****
Editor : Dharaka R. Perdana