RADAR TULUNGAGUNG - Ada keris luk 3 yang namanya seolah mengilhami pembangunan jembatan di tengah laut, dengan fungsi menghubungkan dua pulau. Seperti jembatan Suramadu (Surabaya Madura).
Dapur apakah itu? Tak lain dan tak bukan, inilah dapur Segara Winotan (Segoro Winotan). Ada yang menyebut Jangkung Segara Winotan.
Segara Winotan berupa keris luk 3 disertai ricikan; kembang kacang, jenggot, jalen, dua lambe gajah, tikel alis, pejetan, sraweyan, greneng pada ganja bagian belakang, dan sogokan rangkap memanjang sampai pucuk bilah.
Dua ricikan yakni jenggot dan sogokan sampai pucuk bilah, itulah yang menjadi ciri khas dapur ini. Sehingga mudah membedakan Segara Winotan dengan dapur Jangkung lain.
Segara artinya laut atau samudera. Winotan artinya jembatan. Secara harafiah Segara Winotan berarti jembatan di lautan.
Mungkin hanya sebuah kebetulan. Tetapi nyatanya jembatan di tengah laut yang menghubungkan dua wilayah daratan, sudah menjadi nama dapur keris sejak zaman Majapahit.
Dapur Segara Winotan mengandung makna agar manusia selalu berpikiran maju dan selalu berusaha dengan keras agar bisa mencapai tujuan. Sehingga sesuatu yang dianggap tak mungkin terjadi, bakal bisa terjadi jika Tuhan menghendaki.
Ada yang menafsirkan Segara Winotan memiliki arti secara tersirat. Yakni jembatan menuju pengadilan Tuhan. Maknanya segala perbuatan manusia kelak akan mendapat pengadilan dari Tuhan.
Karena itu secara filosofi, empu yang mbabar (membuat) keris dapur Segara Winotan berpesan kepada pemilik tersebut, agar selalu memilih jalan Tuhan. Bukan bisikan setan.
Baca Juga: Ingin Panjang Umur atau Disayangi Pimpinan? Keris Ini Bisa Menjadi Solusi...
Meski dapur Segara Winotan sudah ada pada masa peralihan Kerajaan Majapahit - Demak, tetapi dapur tersebut sempat populer lagi pada tangguh Surakarta pada akhir abad - 19. Karena dapur ini pernah dikoleksi oleh salah satu putra Pakubuwana X.
Keris dapur Segara Winotan yang benar-benar original sepuh, sangat langka. Saat ini masih banyak kolektor yang berusaha mendapatkan Segara Winotan meski dengan mas kawin yang mahal.
Sumber:
- Dapur Keris
- Panangguhing Dhuwung
Editor : Sandy Sri Yuwana