Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jangan Nekat Dilanggar! Ini 8 Larangan Pernikahan Adat Jawa Menurut Leluhur yang Bisa Bikin Rezeki Seret hingga Petaka Nyawa

Natasha Eka Safrina • Minggu, 24 Mei 2026 | 20:12 WIB
Larangan pernikahan adat Jawa menurut leluhur dipercaya bisa bikin rezeki seret hingga petaka nyawa. Simak mitos weton, jilu, hingga ngalor ngulon!(Pinterest)
Larangan pernikahan adat Jawa menurut leluhur dipercaya bisa bikin rezeki seret hingga petaka nyawa. Simak mitos weton, jilu, hingga ngalor ngulon!(Pinterest)

 

JAKARTA - Larangan pernikahan adat Jawa menurut kepercayaan leluhur hingga kini masih dipegang erat oleh sebagian masyarakat karena mitosnya bisa memicu rezeki seret hingga petaka hilangnya nyawa. Kepercayaan turun-temurun ini mengatur berbagai aspek, mulai dari penentuan bulan sakral, hitungan weton jodoh yang tidak cocok, posisi rumah kedua mempelai, hingga urutan kelahiran di dalam keluarga.

Bagi masyarakat yang masih merawat kebudayaan Nusantara, petuah atau wanti-wanti dari para pendahulu ini dianggap sebagai panduan spiritual demi mencapai keharmonisan rumah tangga. Sebaliknya, jika nekat melanggar pantangan tersebut, mitosnya pernikahan akan diwarnai pertengkaran, perceraian (pegat), nasib sial, hingga kematian salah satu anggota keluarga.

Ritual Bulan Sura dan Misteri Larangan Pernikahan Weton Jodoh

Larangan Menikah di Bulan Sura dan Hitungan Weton yang Tabu

Dalam kalender spiritual masyarakat Jawa, bulan Sura atau Muharam dikenal sebagai waktu yang sangat sakral karena dipercaya sebagai momen dibukanya gapura gaib atau pintu spiritual. Pada bulan ini, energi difokuskan untuk kegiatan spiritual seperti Jamas Pusoko (mencuci benda pusaka), sehingga masyarakat dilarang keras mengadakan hajatan besar termasuk pernikahan dan khitanan. Jika ada yang nekat melanggar, mitosnya ekonomi keluarga akan seret, memicu penyakit, bahkan berujung pada kematian anggota keluarga.

Baca Juga: Jejak Majapahit di Ringin Pitu Tulungagung Terungkap, Desa Perdikan Raja Brawijaya Kini Bersiap Jadi Desa Budaya

Selain bulan, hitungan weton lahir juga menjadi penentu utama. Ada larangan pernikahan ketemu satwelas (neptu kedua mempelai berjumlah 25) yang diyakini bisa memicu pegat urip (cerai hidup) atau pegat pati (cerai mati). Ada pula pantangan geying (pertemuan pasaran Wage dan Pahing). Wage memiliki neptu 4 sedangkan Pahing memiliki neptu 9, di mana perbedaan karakter yang sangat mencolok ini dipercaya membuat rumah tangga sulit tentram dan seret rezeki.

Rumitnya Pantangan Dadung Kepuntir, Jilu, dan Kebo Balik Kandang

Silsilah Keluarga yang Dilarang: Dadung Kepuntir, Jilu, hingga Kebo Balik Kandang

Larangan pernikahan adat Jawa juga mengatur hubungan silsilah antar-keluarga demi mencegah carut-marut komunikasi dan masalah biologis. Salah satunya adalah pernikahan dadung kepuntir, yaitu kondisi pernikahan silang antara dua keluarga (misalnya, anak tertua keluarga A menikah dengan anak bungsu keluarga B, sementara anak bungsu keluarga A menikah dengan anak tertua keluarga B). Mitosnya, selain merusak tatanan sebutan atau panggilan keluarga, pernikahan silang yang masih sedarah ini dipercaya para leluhur dapat menyebabkan anak yang dilahirkan mengalami gangguan fisik atau mental.

Selanjutnya, dikenal pula larangan pernikahan jilu atau siji karo telu (anak pertama menikah dengan anak ketiga). Perbedaan karakter anak pertama yang mandiri dan anak ketiga yang manja sering kali memicu cekcok besar dan kesialan. Ada juga mitos kebo balik kandang, yaitu ketika seorang anak menikah dengan pasangan yang berasal dari desa kelahiran ayahnya. Jika dilanggar, salah satu mempelai atau sang ayah dipercaya tidak akan kuat menahan energi spiritualnya sehingga jatuh sakit atau meninggal dunia.

Baca Juga: Sejarah Tulungagung Terungkap, dari Kerajaan Medang hingga Majapahit, Ternyata Pernah Jadi Penyelamat Raja Jawa

Geografis Mistis: Ngalor Ngulon, Siji Jejer Telu, dan Rumah Berhadapan

Posisi Geografis Rumah dan Urutan Lahir: Ngalor Ngulon hingga Adep-adepan

Aspek geografis atau posisi rumah juga memegang peranan penting dalam tradisi ini. Pernikahan ngalor ngulon terjadi jika posisi rumah mempelai pria dan wanita ditarik garis siku membentuk arah utara lalu ke barat. Mitosnya, hal ini bisa membawa petaka rumah tangga tidak tentram hingga kematian orang tua. Namun, leluhur memberikan solusi buang balak berupa ritual melepas anak ayam hidup di jembatan yang dilewati, serta menggelar pesta hanya di rumah mempelai wanita.

Sementara itu, larangan siji jejer telu terjadi jika mempelai pria anak pertama, mempelai wanita anak pertama, dan salah satu orang tua mereka juga anak pertama. Pernikahan tiga anak pertama ini dipercaya membawa dampak buruk yang instan berupa kesialan hidup dan usia muda. Terakhir, larangan pernikahan adep-adepan (rumah calon mempelai saling berhadapan hanya dipisahkan jalan) dilarang karena alasan logis: posisi rumah yang terlalu dekat rawan memicu campur tangan orang tua secara berlebihan dalam urutan domestik, yang akhirnya memicu keretakan rumah tangga.

Kesimpulan dan Penegasan Tradisi Jawa

Segala larangan pernikahan adat Jawa ini kembali kepada pilihan hidup masing-masing individu untuk percaya atau sekadar menghormatinya sebagai kekayaan budaya. Sebagian besar pantangan ini sejatinya merupakan simbol kehati-hatian agar calon pasangan matang secara mental, ekonomi, dan sosial sebelum membina rumah tangga. Menghormati tradisi leluhur adalah bentuk pelestarian budaya, namun kebahagiaan sejati sebuah pernikahan tetap bertumpu pada komitmen, komunikasi, dan restu dari Tuhan Yang Maha Esa.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Larangan pernikahan adat Jawa #Mitos pernikahan Jawa #Weton Jodoh Jawa #Pernikahan Ngalor Ngulon