Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mitos Larangan Nikah Ngalor Ngulon Kembali Viral, Benarkah Bisa Datangkan Mara Bahaya dan Ekonomi Seret?

Natasha Eka Safrina • Minggu, 24 Mei 2026 | 18:45 WIB
Mitos larangan nikah ngalor ngulon kembali viral. Benarkah arah jodoh barat laut bisa datangkan mara bahaya dan ekonomi seret? (Pinterest)
Mitos larangan nikah ngalor ngulon kembali viral. Benarkah arah jodoh barat laut bisa datangkan mara bahaya dan ekonomi seret? (Pinterest)

 

JAKARTA - Mitos larangan nikah ngalor ngulon kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah video YouTube membahas kepercayaan masyarakat Jawa terkait arah jodoh yang dianggap membawa kesialan. Dalam tradisi Jawa, ngalor ngulon berarti arah barat laut dan dipercaya dapat memicu mara bahaya, masalah ekonomi, hingga rumah tangga penuh cobaan jika pernikahan tetap dilangsungkan.

Kepercayaan soal larangan nikah ngalor ngulon hingga kini masih diyakini sebagian masyarakat Jawa, terutama di daerah pedesaan. Bahkan, tidak sedikit pasangan yang gagal menikah karena orang tua atau keluarga besar menolak hubungan tersebut akibat dianggap melanggar adat dan weton.

Dalam video tersebut, narator menjelaskan bahwa mitos ngalor ngulon berkembang turun-temurun tanpa banyak dipertanyakan kembali logika maupun sumber kebenarannya. Ia juga menyoroti banyaknya pasangan yang akhirnya batal menikah hanya karena persoalan arah rumah calon pasangan.

Baca Juga: Situs Misterius di Lereng Gunung Budeg Tulungagung Bikin Penasaran, Diduga Peninggalan Majapahit

Larangan Nikah Ngalor Ngulon Disebut Masih Dipercaya Masyarakat Jawa

Dalam penjelasannya, narator mengungkapkan bahwa larangan nikah ngalor ngulon dipercaya dapat membawa kesialan bagi kedua mempelai. Mulai dari masalah ekonomi, pertengkaran rumah tangga, hingga datangnya mara bahaya setelah menikah.

Ia mencontohkan kisah seorang pria mapan berusia 32 tahun yang gagal menikah karena calon mertua melarang hubungan tersebut. Alasannya, arah rumah calon pasangan dianggap masuk kategori ngalor ngulon.

“Sudah siap menikah, mapan, bertanggung jawab, tapi gagal karena takut akan mara bahaya,” ungkap narator dalam video tersebut.

Tak hanya itu, ia juga menceritakan pengalaman lain yang terjadi di Jombang. Seorang pemuda disebut batal menikah karena tempat kos calon mempelai perempuan berada di arah barat laut dari rumah laki-laki, meski bukan alamat asli tempat tinggalnya.

Cerita tersebut dinilai menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih memegang teguh mitos tanpa mempertimbangkan logika maupun kondisi sebenarnya.

Fenomena larangan nikah berdasarkan weton dan arah rumah memang masih sering ditemukan di berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Bahkan, perhitungan adat kerap dijadikan pertimbangan utama sebelum pernikahan dilangsungkan.

Asal Usul Mitos Ngalor Ngulon Dikaitkan dengan Legenda Prabu Watugunung

Narator kemudian menjelaskan dugaan asal-usul mitos ngalor ngulon yang disebut berasal dari legenda kerajaan kuno. Kisah tersebut berkaitan dengan tokoh Prabu Watugunung dan Dewi Sinta.

Baca Juga: Candi Sanggrahan Tulungagung Jadi Jejak Majapahit, Diduga Tempat Persinggahan Abu Gayatri Rajapatni

Dalam cerita yang disampaikan, Prabu Watugunung memiliki istri cantik bernama Dewi Sinta dan dikisahkan memiliki 27 anak. Namun, suatu ketika ia mengetahui fakta mengejutkan bahwa perempuan yang dinikahinya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri.

Karena merasa malu dan marah, Prabu Watugunung disebut berlari ke arah ngalor ngulon atau barat laut sambil mengucapkan sumpah bahwa siapa pun yang mengikuti arah tersebut akan mengalami nasib buruk dalam percintaan dan rumah tangga.

Legenda itulah yang dipercaya menjadi salah satu akar munculnya mitos larangan menikah ngalor ngulon di masyarakat Jawa.

Meski begitu, kisah tersebut lebih banyak berkembang sebagai cerita turun-temurun dibandingkan fakta sejarah yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Narator juga menyebut banyak masyarakat menerima cerita tersebut begitu saja tanpa kajian mendalam.

Banyak Pasangan Gagal Menikah karena Mitos dan Hitungan Weton

Fenomena larangan nikah ngalor ngulon dinilai berdampak besar terhadap hubungan asmara pasangan muda. Tidak sedikit calon pengantin yang akhirnya membatalkan pernikahan demi mengikuti permintaan keluarga atau adat setempat.

Narator menilai persoalan tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang utama dalam menentukan jodoh seseorang. Menurutnya, keputusan menikah semestinya didasarkan pada kesiapan, tanggung jawab, dan kecocokan pasangan.

Ia juga mengingatkan bahwa menemukan jodoh bukan perkara mudah. Karena itu, hubungan yang sudah terjalin baik sebaiknya tidak kandas hanya karena mitos atau kepercayaan turun-temurun.

“Kalau memang jodoh lalu disia-siakan karena mitos, akhirnya bisa benar-benar tidak berjodoh,” ujarnya.

Meski demikian, sebagian masyarakat tetap memilih mencari hari baik, menghitung weton, hingga menggunakan simbol-simbol tradisional untuk menghindari sengkala atau kesialan dalam rumah tangga.

Perdebatan soal mitos larangan nikah ngalor ngulon pun terus berlangsung hingga sekarang. Sebagian menganggapnya bagian dari warisan budaya Jawa, sementara lainnya menilai hal tersebut tidak relevan jika sampai menggagalkan hubungan serius dua orang yang ingin menikah.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Mitos pernikahan Jawa #larangan nikah ngalor ngulon #asal usul ngalor ngulon #Weton Jawa