JAKARTA - Larangan pernikahan ngalor ngulon kembali menjadi perbincangan setelah sebuah video membahas dampak dan solusi adat Jawa terkait arah rumah calon pengantin viral di media sosial. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, pernikahan ngalor ngulon dianggap berisiko mendatangkan musibah, mulai dari rumah tangga tidak harmonis hingga keluarga jatuh sakit.
Istilah ngalor ngulon merujuk pada posisi rumah calon pengantin pria dan wanita yang jika ditarik garis lurus berada di arah utara lalu ke barat. Dalam budaya Jawa, arah tersebut dipercaya sebagai pantangan pernikahan yang sebaiknya dihindari.
Kepercayaan mengenai larangan pernikahan ngalor ngulon masih cukup kuat di sejumlah daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tidak sedikit keluarga yang menolak hubungan anaknya karena khawatir akan dampak buruk setelah pernikahan berlangsung.
Apa Itu Larangan Pernikahan Ngalor Ngulon?
Dalam penjelasan video tersebut, larangan pernikahan ngalor ngulon berkaitan dengan posisi tempat tinggal kedua calon mempelai. Jika rumah calon pengantin perempuan berada di arah utara lalu barat dari rumah calon pengantin pria, maka hubungan tersebut dianggap kurang baik menurut adat Jawa.
“Ini adalah masalah posisi tempat tinggal mempelai pria dan mempelai wanita,” jelas narator dalam video tersebut.
Sebagai contoh, jika mempelai pria berasal dari Kota A dan mempelai wanita berasal dari Kota B, lalu arah dari rumah pria menuju rumah wanita bergerak ke utara kemudian ke barat, maka kondisi tersebut disebut ngalor ngulon.
Pantangan ini dipercaya sudah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Jawa sejak zaman dahulu. Karena itu, sebagian keluarga masih menggunakan hitungan arah rumah sebagai pertimbangan sebelum melangsungkan pernikahan.
Dalam tradisi Jawa, arah rumah dianggap memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan rumah tangga pasangan setelah menikah. Meski begitu, kepercayaan tersebut tetap menjadi perdebatan di masyarakat modern.
Dampak Pernikahan Ngalor Ngulon Disebut Bisa Berat
Menurut penjelasan dalam video, dampak larangan pernikahan ngalor ngulon disebut cukup beragam, mulai dari masalah ringan hingga berat.
Akibat pertama yang dipercaya paling sering terjadi adalah salah satu pihak keluarga atau kedua mempelai mengalami kondisi “kalah sisih”. Istilah ini merujuk pada kondisi kesehatan yang menurun setelah pernikahan berlangsung.
“Biasanya akan sakit-sakitan bahkan bisa jadi meninggal dunia,” ujar narator.
Selain masalah kesehatan, dampak lain yang dipercaya muncul adalah rumah tangga sering mengalami pertengkaran atau cekcok berkepanjangan. Kesulitan ekonomi juga disebut menjadi salah satu efek yang sering dikaitkan dengan pernikahan ngalor ngulon.
Meski demikian, narator menegaskan bahwa masyarakat boleh percaya atau tidak terhadap pantangan tersebut karena semuanya kembali kepada keyakinan masing-masing individu.
Di era modern, sebagian masyarakat menganggap larangan tersebut sebagai bagian budaya dan tradisi leluhur yang patut dihormati, tetapi tidak selalu harus dijadikan penentu utama dalam memilih pasangan hidup.
Solusi Pernikahan Ngalor Ngulon Menurut Tradisi Jawa
Video tersebut juga menjelaskan beberapa solusi yang biasa dilakukan masyarakat Jawa ketika pasangan tetap ingin menikah meski masuk kategori ngalor ngulon.
Solusi pertama adalah salah satu calon mempelai pindah rumah ke daerah lain sebelum pernikahan berlangsung. Tujuannya untuk mengubah arah rumah sehingga tidak lagi masuk hitungan ngalor ngulon.
Namun, cara ini dinilai cukup sulit dilakukan karena menyangkut tempat tinggal dan kondisi keluarga masing-masing.
Solusi kedua adalah pesta pernikahan hanya dilaksanakan di satu tempat, biasanya di rumah mempelai perempuan. Sementara pihak mempelai pria tidak mengadakan acara resepsi di rumahnya.
Selain itu, ada juga tradisi mempelai pria berangkat dari tempat lain saat hari akad nikah, misalnya dari rumah saudara atau lokasi tertentu, bukan langsung dari rumah sendiri.
“Dipercaya bisa mengurangi risiko akibat buruk yang bakal terjadi,” jelas narator.
Meski solusi tersebut tidak diyakini mampu menghilangkan dampak negatif sepenuhnya, sebagian masyarakat Jawa masih mempercayainya sebagai bentuk ikhtiar dan penghormatan terhadap adat leluhur.
Perdebatan mengenai larangan pernikahan ngalor ngulon pun masih terus berlangsung hingga kini. Sebagian menganggapnya warisan budaya yang harus dijaga, sementara lainnya menilai kebahagiaan rumah tangga lebih ditentukan oleh kesiapan pasangan dan komunikasi setelah menikah.
Editor : Natasha Eka Safrina