JAKARTA - Keris Pamengkang Jagat menjadi salah satu pusaka yang paling diburu para kolektor dan pecinta tosan aji di Indonesia. Di kalangan penggemar keris tradisional, pusaka ini bahkan dianggap sebagai koleksi wajib karena memiliki nilai sejarah, filosofi, dan tuah yang sangat tinggi.
Keistimewaan Keris Pamengkang Jagat tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya yang unik, tetapi juga pada statusnya sebagai salah satu keris pusaka berdapur Sangkelat yang dipercaya memiliki kharisma dan energi spiritual kuat. Tak heran jika banyak kolektor menganggap kepemilikan keris ini sebagai pencapaian tersendiri dalam dunia perkerisan.
Dalam sebuah ulasan yang dibagikan oleh pemerhati keris, disebutkan bahwa keris berdapur Sangkelat dengan pamor Pamengkang Jagat termasuk pusaka kelas tinggi yang banyak dicari oleh para pecinta benda pusaka Nusantara.
Dapur Sangkelat dengan Luk 13 yang Istimewa
Keris yang direview tersebut merupakan keris berdapur Sangkelat dengan luk 13. Dalam tradisi perkerisan Jawa, jumlah luk 13 dikenal sebagai jumlah luk tertinggi yang umum ditemukan pada keris pusaka.
Karena itulah, banyak sesepuh dan kolektor senior menganggap bahwa koleksi keris belum lengkap apabila belum memiliki keris berdapur Sangkelat. Dapur ini dikenal memiliki kedudukan istimewa dalam berbagai literatur dan primbon perkerisan.
Keris tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-18 dengan tangguh Mataram Madiun. Selain dikenal memiliki kualitas tempa yang baik, keris dari wilayah tersebut juga sering dikaitkan dengan karakter yang kuat, wingit, dan berwibawa.
Baca Juga: 13 Alasan Om Faiz Beli Lagi Motor Listrik Alpha One Bekas, Harga Murah Jadi Daya Tarik Utama
Keunikan Pamor Pamengkang Jagat
Salah satu daya tarik utama keris ini adalah keberadaan pamor Pamengkang Jagat yang terlihat berupa lubang atau rongga pada bagian bilah keris.
Menurut penjelasan yang disampaikan dalam ulasan tersebut, bentuk tersebut bukanlah akibat korosi, kerusakan, atau proses alamiah. Sebaliknya, lubang tersebut memang sengaja dibuat oleh empu sebagai bagian dari rancangan pamor saat proses penempaan berlangsung.
Pamor Pamengkang Jagat dikenal sebagai pamor rekan, yaitu pamor yang dirancang dan dibuat secara sengaja sesuai kehendak empu. Karena tingkat kesulitannya cukup tinggi, tidak semua keris dapat memiliki bentuk pamor semacam ini.
Selain pamor Pamengkang Jagat, keris tersebut juga memiliki pamor Singkir yang turut menambah nilai artistik dan spiritual dari pusaka tersebut.
Kisah Legendaris Keris Sangkelat
Dapur Sangkelat memiliki cerita yang cukup populer di kalangan pecinta keris. Dalam salah satu riwayat yang sering diceritakan, Sunan Ampel disebut memiliki tongkat besi istimewa yang kemudian diserahkan kepada seorang empu untuk dibuatkan pedang.
Namun, sang empu justru membuat sebuah keris berluk 13 karena merasa sayang apabila bahan besi tersebut dijadikan pedang biasa. Ketika hasilnya diserahkan kepada Sunan Ampel, bentuknya tidak sesuai dengan pesanan awal sehingga muncul rasa kecewa atau "sengkel ati".
Dari istilah itulah, menurut cerita yang berkembang, muncul nama Sangkelat yang kemudian melekat pada dapur keris tersebut.
Selanjutnya, keris itu disebut diberikan kepada Raja Majapahit, yakni Prabu Brawijaya V. Sang raja dikisahkan menerima hadiah tersebut dengan senang hati dan menyimpannya bersama pusaka kerajaan lainnya.
Meski kisah tersebut banyak beredar di kalangan pecinta keris, berbagai versi cerita juga berkembang sehingga aspek sejarahnya masih menjadi bahan kajian para pemerhati budaya.
Dianggap Memiliki Tuah dan Energi Spiritual
Selain nilai sejarah dan keindahan pamornya, Keris Pamengkang Jagat juga dipercaya memiliki tuah yang kuat. Banyak kolektor menilai keris ini bukan sekadar benda seni, melainkan pusaka yang memiliki nilai spiritual tinggi.
Karakter wingit, angker, dan berwibawa sering dikaitkan dengan keris berdapur Sangkelat, terutama yang berasal dari era Mataram. Karena alasan itulah, banyak pemilik merawat keris tersebut dengan penuh penghormatan.
Bagi para pecinta tosan aji, keberadaan Keris Pamengkang Jagat menjadi simbol warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan filosofi serta tradisi panjang perkerisan Nusantara yang terus dijaga hingga sekarang.
Editor : Divka Vance Yandriana