JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Padepokan Rejo Sewu Tulungagung menjadi salah satu destinasi yang menyimpan sejarah sekaligus keunikan yang belum banyak diketahui wisatawan. Berlokasi di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kawasan ini dikenal memiliki sekitar 1.000 patung yang berjajar mengelilingi area padepokan.
Keberadaan Padepokan Rejo Sewu Tulungagung kembali menjadi perhatian setelah diulas dalam kanal YouTube Om Sontrip. Dalam video tersebut dijelaskan bahwa nama "Rejo Sewu" berasal dari kata "Rejo" yang berarti arca atau patung, sedangkan "Sewu" berarti seribu. Sesuai namanya, lokasi ini dipenuhi deretan patung yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Selain dikenal karena jumlah patungnya yang mencapai sekitar seribu buah, Padepokan Rejo Sewu Tulungagung juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perusahaan rokok legendaris Rejo Pentung yang pernah berjaya di Tulungagung.
Baca Juga: BYD Atto 1 Dynamic Dimodifikasi Ekstrem, Air Suspension hingga Big Brake Kit Jadi Sorotan
Memiliki Hubungan dengan Pabrik Rokok Rejo Pentung
Menurut penjelasan dalam video, padepokan ini dibangun oleh perusahaan rokok Rejo Pentung yang dahulu menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Tulungagung. Hampir seluruh patung yang berada di lokasi digambarkan memegang pentungan sebagai simbol identitas perusahaan tersebut.
Sayangnya, kejayaan perusahaan itu kini tinggal kenangan. Setelah perusahaan berhenti beroperasi, kondisi kawasan padepokan disebut tidak lagi mendapatkan perawatan maksimal sehingga beberapa bagian terlihat mulai kurang terawat.
Meski demikian, suasana kawasan masih terasa unik karena deretan patung memenuhi pagar hingga bagian dalam kompleks.
Diduga Menjadi Lokasi Makam Pendiri Rejo Pentung
Di bagian tengah kompleks terdapat bangunan yang diduga merupakan area makam pendiri perusahaan Rejo Pentung, Sumiran. Namun akses menuju lokasi tersebut tertutup sehingga pengunjung tidak dapat masuk secara bebas.
Di sekitar area makam terdapat berbagai ornamen, termasuk patung ular yang melingkari tiang serta sejumlah tulisan yang disebut sebagai wasiat suci. Karena akses terbatas, isi tulisan tersebut tidak dapat diamati secara langsung.
Salah satu ikon yang paling mencolok adalah tulisan besar bertuliskan "Rejo" berwarna kuning dengan tinggi diperkirakan mencapai enam hingga tujuh meter.
Baca Juga: BYD Atto 1 Dynamic Dimodifikasi Ekstrem, Air Suspension hingga Big Brake Kit Jadi Sorotan
Dekat dengan Pantai Popoh
Keunggulan lain dari kawasan ini adalah lokasinya yang berada tidak jauh dari Pantai Popoh, salah satu pantai wisata tertua di Kabupaten Tulungagung.
Kedekatan dengan kawasan wisata pantai membuat Padepokan Rejo Sewu berpotensi menjadi destinasi pelengkap bagi wisatawan yang berkunjung ke wilayah pesisir selatan Tulungagung.
Selain Pantai Popoh, wisatawan juga dapat melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sidem, Pantai Coro, Pantai Niyama hingga Pantai Midodaren yang berada di kawasan sekitar.
Masih Menyimpan Nilai Budaya
Di dalam kompleks juga ditemukan papan bertuliskan aksara Jawa yang memuat pesan-pesan filosofi kehidupan. Salah satunya berbunyi "Paugeraning Satriatama" yang dilengkapi dengan terjemahan menggunakan huruf latin.
Selain itu terdapat bangunan bertuliskan Paseban serta ruangan yang disebut berkaitan dengan Nyai Roro Kidul, meski tidak dijelaskan secara rinci mengenai fungsi maupun sejarahnya.
Keberadaan berbagai simbol budaya tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini tidak hanya menyimpan sejarah industri, tetapi juga mengangkat unsur budaya Jawa yang cukup kuat.
Melalui ulasannya, pembuat konten berharap masyarakat kembali mengunjungi Padepokan Rejo Sewu agar keberadaan situs tersebut tetap dikenal dan memiliki peluang untuk dirawat dengan lebih baik. Dengan sejarah panjang, deretan seribu patung, serta lokasi yang berdekatan dengan sejumlah objek wisata pantai, Padepokan Rejo Sewu menjadi salah satu destinasi unik yang layak masuk daftar kunjungan saat berada di Tulungagung.
Baca Juga: Review BYD Seal Setelah 1 Tahun, Segini Biaya Operasional dan Alasan Pemilik Masih Mau Beli Lagi
Editor : Cholifatun Nisak