Namun, hasil penelusuran sejarah dan arkeologi menunjukkan situs tersebut menyimpan jejak yang jauh lebih kompleks. Keberadaan relief Arjuna Wiwaha, altar batu suci, hingga ikonografi sepasang harimau memunculkan dugaan bahwa kompleks ini bukan hanya tempat bertapa, tetapi juga memiliki kaitan dengan tradisi spiritual para penguasa Jawa kuno.
Situs yang berada di lereng bukit di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu diperkirakan berasal dari masa yang berbeda menurut para ahli.
Arkeolog Bernet Kempers memperkirakan Goa Selomangleng dibangun sekitar abad ke-10 Masehi karena kemiripan reliefnya dengan Petirtaan Jolotundo bertahun 977 M. Sementara arkeolog N.J. Krom menilai situs tersebut berasal dari era Majapahit karena gaya mahkota relief yang khas.
Perbedaan pendapat tersebut justru menambah nilai historis Goa Selomangleng sebagai salah satu peninggalan penting yang masih menyimpan banyak misteri.
Relief Arjuna Wiwaha Jadi Petunjuk Fungsi Goa Selomangleng
Bagian paling mencolok dari Goa Selomangleng Tulungagung adalah relief yang mengisahkan kakawin Arjuna Wiwaha, karya Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Maharaja Airlangga (990–1049).
Relief itu menggambarkan kisah ketika Arjuna menjalani pertapaan, digoda para bidadari, hingga memperoleh tugas dari Dewa Indra untuk menghadapi raja raksasa Niwatakawaca.
Menariknya, rangkaian relief di dalam goa berhenti sebelum kisah peperangan berakhir. Seluruh adegan dipahat dalam bidang-bidang persegi yang menyerupai panel cerita.
Sejumlah peneliti menduga bentuk tersebut menjadi salah satu visual paling awal yang menggambarkan tradisi wayang beber di Nusantara.
Jejak seni pertunjukan wayang sendiri telah disebut dalam Prasasti Kuti (840 M) dan Prasasti Mantyasih (903 M), yang memuat istilah mawayang serta haringgit. Namun, bentuk visual pertunjukan wayang pada masa itu belum pernah dijelaskan secara rinci.
Keberadaan relief di Goa Selomangleng menjadi petunjuk penting mengenai perkembangan seni pertunjukan sekaligus sastra Jawa Kuno.
Goa Kedua dan Altar Batu Memunculkan Dugaan Tempat Penahbisan
Kompleks Goa Selomangleng memiliki dua goa buatan yang dipahat langsung pada batu sedimen.
Berbeda dengan goa utama yang dipenuhi relief, goa kedua justru polos tanpa pahatan.
Ada dua pendapat mengenai kondisi tersebut. Sebagian ahli menilai goa itu belum selesai dipahat. Namun, pendapat lain menyebut ruang tersebut memang sengaja dibuat tanpa relief karena memiliki tingkat kesakralan lebih tinggi sebagai lokasi meditasi bagi para pertapa yang telah mencapai tingkatan spiritual tertentu.
Sekitar 500 meter dari kompleks goa terdapat sebuah Candi Meja, berupa altar batu yang dipahat dari batuan sedimen.
Bangunan ini memiliki pelipit, hiasan tapak dara, serta tangga pendek yang dijaga sepasang relief harimau.
Keunikan ikonografi tersebut jarang ditemukan pada bangunan suci lain di Jawa Timur. Umumnya tangga candi dihiasi makara atau naga, bukan harimau.
Keberadaan altar tanpa bekas umpak bangunan membuat sejumlah peneliti menduga tempat itu sejak awal difungsikan sebagai altar terbuka untuk ritual penahbisan para pertapa atau tokoh spiritual.
Diduga Berkaitan dengan Tradisi Wanaprasta Raja-Raja Jawa
Keberadaan relief Arjuna Wiwaha di Goa Selomangleng juga memunculkan hipotesis mengenai hubungan situs tersebut dengan tradisi wanaprasta, yakni fase ketika seorang raja meninggalkan kekuasaan untuk menjalani kehidupan spiritual.
Dalam sejarah Jawa Kuno, tradisi tersebut pernah dilakukan beberapa penguasa, antara lain Rakai Pikatan, Maharaja Airlangga, hingga Raja Wisnuwardhana dari Singhasari.
Tokoh Arjuna dalam kakawin Arjuna Wiwaha digambarkan mampu memadukan dua peran sekaligus, yakni sebagai ksatria yang menjaga ketertiban dunia dan sebagai pertapa yang berhasil menaklukkan hawa nafsu.
Konsep inilah yang diduga menjadi pesan utama relief di Goa Selomangleng.
Hipotesis lain menyebut kompleks goa kemungkinan menjadi pusat pendidikan keagamaan atau karesian, tempat para resi mendidik calon pemimpin sebelum kembali menjalankan tugas pemerintahan.
Pendapat tersebut sejalan dengan penelitian arkeolog Hariani Santiko yang menyebut kawasan karesian pada masa Jawa Kuno tidak hanya menjadi lokasi pertapaan, tetapi juga pusat pendidikan spiritual dan ritual penobatan.
Meski demikian, hingga kini belum ditemukan bukti arkeologis yang dapat memastikan fungsi utama Goa Selomangleng Tulungagung.
Yang pasti, situs ini menjadi salah satu warisan budaya penting yang memperlihatkan kreativitas leluhur Nusantara dalam mengembangkan kisah Mahabharata menjadi karya asli Jawa melalui kakawin Arjuna Wiwaha.
Relief-relief yang masih terawat hingga sekarang sekaligus menjadi pengingat bahwa kepemimpinan ideal dalam pandangan Jawa Kuno bukan hanya ditentukan oleh kekuatan, tetapi juga kemampuan seorang pemimpin mengendalikan hawa nafsu demi kesejahteraan rakyat dan kelestarian alam.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber