RADAR TULUNGAGUNG – Goa Selomangleng Tulungagung tidak hanya menyimpan relief kuno di dalam guanya, tetapi juga memiliki altar suci di puncak bukit yang diduga menjadi pusat ritual pada masa Hindu-Buddha.
Temuan tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa kompleks situs ini merupakan kawasan peribadatan penting yang telah digunakan sejak sekitar abad ke-10 hingga era Majapahit.
Berada di kawasan perbukitan pesisir selatan Kabupaten Tulungagung, situs cagar budaya ini menjadi salah satu peninggalan sejarah yang masih menyisakan banyak teka-teki.
Selain dikenal sebagai goa pertapaan, kawasan ini juga menyimpan jejak bangunan batu di bagian atas bukit yang diyakini memiliki fungsi sakral.
Sejumlah ahli pun masih berbeda pendapat mengenai usia pasti Goa Selomangleng Tulungagung. Arkeolog Belanda Bernet Kempers memperkirakan situs tersebut berasal dari sekitar abad ke-10 Masehi, sedangkan sejarawan N.J. Krom menilai bangunan itu dibuat pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 hingga ke-15.
Goa Selomangleng Menyimpan Relief Kuno dengan Sembilan Panel Cerita
Goa utama di kompleks Selomangleng dipahat langsung pada batuan perbukitan dan memiliki sejumlah relief yang menghiasi dinding bagian dalam.
Dalam penelusuran di lokasi, terdapat sembilan panel relief dengan motif yang berbeda-beda. Setiap panel memperlihatkan teknik pahatan khas Jawa Kuno yang hingga kini masih menjadi objek penelitian para arkeolog.
Relief-relief tersebut diyakini memuat kisah dan simbol keagamaan pada masa Hindu-Buddha, meskipun sebagian detail ceritanya masih terus dikaji oleh para ahli.
"Bangunan klasik Goa Selomangleng ini diperkirakan dibuat sekitar abad ke-10. Namun, ada pula pendapat yang menyebut berasal dari masa Majapahit," demikian penjelasan yang disampaikan dalam penelusuran sejarah di kawasan tersebut.
Selain relief, bentuk pintu goa dan tata ruang di dalamnya memperlihatkan karakter arsitektur khas bangunan pertapaan Jawa Kuno yang berkembang sebelum masa Islam.
Baca Juga: Goa Selomangleng Sanggrahan: Jejak Sejarah dan Pesona Wisata Tulungagung
Altar Suci di Puncak Bukit Diduga Menjadi Pusat Ritual
Tidak jauh dari kompleks goa utama, terdapat jalur setapak menuju bagian atas bukit.
Perjalanan menuju lokasi melewati kawasan hutan jati dan perbukitan karst yang menjadi ciri bentang alam pesisir selatan Tulungagung.
Di puncak bukit inilah ditemukan sebuah altar batu yang diduga menjadi tempat pelaksanaan ritual keagamaan pada masa klasik Hindu-Buddha.
Menurut penelusuran di lapangan, masyarakat spiritual masih kerap mengunjungi lokasi tersebut karena dipercaya memiliki nilai historis dan religius.
Secara arkeologis, altar itu berada di kawasan yang lebih tinggi dibanding goa utama. Dalam tradisi Hindu, gunung dipandang sebagai tempat suci yang menjadi simbol kediaman para dewa.
"Gunung pada masa Hindu-Buddha memang dianggap sebagai tempat yang disucikan. Karena itu, banyak tempat ibadah dibangun di kawasan perbukitan," dijelaskan dalam dokumentasi penelusuran situs tersebut.
Bentuk altar batu juga menunjukkan adanya bekas pahatan yang diduga menjadi tempat meletakkan arca atau perlengkapan ritual pada masa lampau.
seBaca Juga: Eksplorasi Goa Selomangleng: Menyelami Jejak Sejarah di Dalam Perut Bumi
Perbukitan Bekas Dasar Laut Menambah Keunikan Situs
Keunikan Goa Selomangleng tidak hanya terletak pada peninggalan arkeologinya, tetapi juga kondisi geologinya.
Perbukitan di kawasan pesisir selatan Tulungagung diyakini terbentuk akibat proses pengangkatan dasar laut jutaan tahun lalu.
Fenomena tersebut menghasilkan bentang alam berupa bukit-bukit batu yang kemudian dimanfaatkan sebagai lokasi pertapaan dan pembangunan situs keagamaan.
Beberapa bagian altar yang berada di puncak bukit kini sudah mengalami kerusakan akibat pelapukan alami. Meski demikian, struktur utama bangunan masih dapat dikenali sehingga menjadi sumber informasi penting bagi penelitian sejarah Jawa Timur.
Hingga kini, para arkeolog belum mencapai kesepakatan mengenai waktu pasti pembangunan kompleks Goa Selomangleng maupun fungsi keseluruhannya.
Namun, keberadaan relief kuno, altar batu, serta lanskap pegunungan yang mengelilinginya menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas spiritual yang penting pada masa Hindu-Buddha.
Pelestarian situs menjadi langkah penting agar warisan budaya tersebut tetap terjaga sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.
Dengan nilai arkeologi, sejarah, dan geologi yang dimiliki, Goa Selomangleng Tulungagung terus menjadi salah satu destinasi cagar budaya yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
Editor : Vidya Sajar Fitri