BLITAR – Arah hari menurut Primbon Jawa masih menjadi salah satu pedoman yang dipercaya sebagian masyarakat Jawa dalam menentukan langkah sebelum melakukan aktivitas penting. Tradisi ini meyakini bahwa setiap hari memiliki arah yang dianggap membawa keberuntungan atau "arah hidup", sekaligus arah yang sebaiknya dihindari karena dikaitkan dengan hambatan maupun kesialan.
Dalam penjelasan yang disampaikan melalui sebuah video, arah hari menurut Primbon Jawa digunakan sebagai acuan ketika seseorang hendak menjalankan kegiatan besar, seperti menghadiri pernikahan, mencari rezeki, menghadap atasan, hingga mengurus kepentingan penting lainnya.
Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari ilmu titen yang diwariskan para leluhur Jawa. Meski tidak memiliki dasar ilmiah, banyak masyarakat yang masih menjadikannya sebagai salah satu pertimbangan sebelum memulai perjalanan atau aktivitas penting.
Arah Hidup Berbeda untuk Setiap Hari
Menurut Primbon Jawa, setiap hari dalam sepekan memiliki arah hidup, arah mati, dan arah sakit. Arah hidup dipercaya membawa kelancaran, sedangkan arah mati dan arah sakit sebaiknya dihindari saat pertama kali keluar rumah.
Untuk hari Senin, arah hidup berada di selatan. Arah utara disebut sebagai arah mati, sedangkan timur dan barat dikategorikan sebagai arah sakit. Karena itu, seseorang dianjurkan keluar rumah lebih dahulu menuju selatan sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan sebenarnya.
Pada hari Selasa, arah hidup bergeser ke utara. Sementara arah mati berada di barat dan arah sakit berada di timur.
Memasuki hari Rabu, arah hidup berada di utara dan timur. Sedangkan arah mati berada di selatan, sementara arah sakit berada di barat.
Panduan Arah untuk Kamis hingga Minggu
Untuk hari Kamis, Primbon Jawa menyebut arah hidup berada di timur dan selatan. Sebaliknya, arah utara dikaitkan sebagai arah mati dan arah barat dianggap sebagai arah sakit.
Hari Jumat memiliki arah hidup di utara. Arah selatan dipercaya sebagai arah mati, sedangkan timur dan barat menjadi arah sakit yang sebaiknya dihindari ketika memulai aktivitas penting.
Sementara itu, hari Sabtu memiliki arah hidup di barat. Arah utara disebut sebagai arah mati, sedangkan selatan dan timur termasuk arah sakit.
Adapun pada hari Minggu, arah hidup berada di timur dan selatan. Arah barat dipercaya sebagai arah mati, sedangkan utara dikategorikan sebagai arah sakit.
Dalam praktiknya, seseorang tidak harus mengubah tujuan akhir perjalanan. Yang dianjurkan adalah mengambil langkah pertama ke arah hidup terlebih dahulu sebelum berbelok menuju lokasi tujuan.
Digunakan untuk Aktivitas Penting
Pembahasan dalam video tersebut menegaskan bahwa pedoman arah hari tidak digunakan untuk seluruh aktivitas harian. Kegiatan sederhana seperti berkunjung ke rumah saudara atau bersilaturahmi dinilai tidak memerlukan acuan ini.
Sebaliknya, arah hari lebih sering dijadikan pedoman ketika seseorang hendak melakukan aktivitas yang dianggap memiliki dampak besar, seperti mencari pekerjaan, menghadap pimpinan, membuka usaha, menghadiri acara penting, hingga kegiatan yang berkaitan dengan rezeki.
Kepercayaan ini lahir dari pengalaman para leluhur yang kemudian dihimpun dalam kitab Primbon Jawa sebagai ilmu titen. Karena itu, setiap orang bebas mempercayai ataupun tidak mempercayainya.
Tetap Mengutamakan Ikhtiar dan Doa
Meski masih dipercaya oleh sebagian masyarakat, penjelasan tersebut mengingatkan bahwa Primbon Jawa hanyalah pedoman budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Keberhasilan seseorang tetap ditentukan oleh usaha, kerja keras, doa, serta izin Tuhan Yang Maha Esa. Arah hidup menurut Primbon dipandang sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang masih bertahan hingga kini, bukan sebagai kepastian mutlak dalam menentukan nasib seseorang.
Dengan demikian, masyarakat dapat menyikapi informasi tersebut sebagai bagian dari warisan budaya Jawa, sembari tetap mengedepankan ikhtiar dan keyakinan masing-masing dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Editor : Maylanni Diana Fitri