Ulam Bana Digelar Setiap Tahun, Ini Alasan Tradisi Keagamaan Masyarakat Tionghoa Tetap Dipertahankan

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 19:31 WIB
Ulam Bana terus dipertahankan sebagai ritual penghormatan arwah sekaligus cara masyarakat Tionghoa melestarikan warisan budaya.(ILUSTRASI AI)
Ulam Bana terus dipertahankan sebagai ritual penghormatan arwah sekaligus cara masyarakat Tionghoa melestarikan warisan budaya.(ILUSTRASI AI)

TULUNGAGUNG – Ulam Bana menjadi salah satu tradisi keagamaan masyarakat Tionghoa yang terus dipertahankan dari tahun ke tahun. Ritual sembahyang arwah tersebut bukan hanya berkaitan dengan penghormatan kepada mereka yang telah meninggal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi berikutnya. 

 

Ulam Bana tetap dilaksanakan secara rutin karena tradisi tersebut memuat nilai penghormatan kepada arwah sekaligus mempertemukan umat dalam sebuah kegiatan keagamaan bersama. Pelaksanaannya juga menunjukkan bahwa tradisi lama masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah.

Di TITD Tjoe Tik Kiong Tulungagung, Ulam Bana kembali digelar pada 31 Agustus. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian sembahyang arwah yang telah dilakukan secara turun-temurun, termasuk untuk arwah yang dipercaya sudah tidak memiliki keluarga atau keturunan yang memberikan penghormatan.

Baca Juga: Ramalan Shio Kuda 2026, Bukan Cari Uang tapi Waspadai 3 Bulan Ini

Mengapa Tradisi Ulam Bana Terus Dipertahankan?

Mempertahankan Ulam Bana tidak sekadar menjaga sebuah ritual tahunan. Di dalamnya terdapat nilai penghormatan terhadap orang yang telah meninggal dan keyakinan bahwa mereka tetap perlu diperhatikan secara simbolis meskipun sudah tidak memiliki keluarga yang mengurusnya.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, bulan ketujuh kalender lunar memiliki kaitan erat dengan penghormatan terhadap arwah. Sejumlah tradisi pada periode tersebut berkembang sebagai waktu untuk mengenang leluhur serta memberikan persembahan kepada arwah yang diyakini kembali mengunjungi dunia manusia.

Ullambana sendiri memiliki akar dalam tradisi Buddhis dan berkaitan dengan kisah Maudgalyayana yang berusaha membantu ibunya. Dalam perkembangannya di Asia Timur, tradisi tersebut berinteraksi dengan kebiasaan lokal dan kemudian memiliki beragam bentuk pelaksanaan.

Karena itu, Ulam Bana yang dilaksanakan di setiap daerah tidak selalu memiliki bentuk yang sama. Tradisi lokal dan pemahaman komunitas turut membentuk rangkaian ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Ramalan Shio Kuda Juli 2026, Rezeki Mulai Terbuka tapi Jangan Gegabah

Ritual Menjadi Cara Mewariskan Budaya

Pelaksanaan Ulam Bana secara rutin membuat generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal langsung tradisi yang diwariskan pendahulunya. Mereka tidak hanya mengetahui ritual tersebut dari cerita, tetapi dapat melihat bagaimana sembahyang, persembahan, dan kegiatan bersama dilaksanakan.

Di TITD Tjoe Tik Kiong, penghormatan dilakukan dengan menyiapkan sesajen sebagai simbol persembahan bagi arwah. Ritual tersebut menjadi bagian dari kegiatan keagamaan yang dipertahankan setiap tahun.

Rangkaian kegiatan juga melibatkan masyarakat secara luas. Sekitar 3.000 paket sembako disiapkan dalam pelaksanaan tahun ini dan sekitar 2.800 paket telah diambil atau dibagikan kepada umat serta relawan yang mengikuti kegiatan.

Kehadiran unsur sosial tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat berlangsung bersamaan dengan aktivitas kebersamaan masyarakat. Namun, inti Ulam Bana tetap berada pada penghormatan secara simbolis kepada arwah.

Baca Juga: Ramalan Shio Kuda 2026, Karier Disebut Berpeluang Naik dan Keuangan Mulai Stabil

Tidak Hanya untuk Arwah Leluhur

Hal menarik dari Ulam Bana adalah sasaran ritual yang tidak terbatas pada arwah yang masih memiliki keluarga. Ada pula penghormatan khusus bagi arwah yang diyakini sudah tidak mempunyai sanak famili ataupun keturunan.

Dalam pelaksanaannya, umat memberikan sesajen secara simbolis dengan keyakinan bahwa penghormatan tersebut dapat menjaga hubungan harmonis antara manusia dan arwah.

Kepercayaan mengenai pemberian persembahan kepada arwah tanpa keluarga juga dikenal dalam berbagai bentuk Festival Hantu di komunitas Tionghoa.

Dari sisi budaya, keberlanjutan ritual seperti ini menjadi penting karena tradisi tidak hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu. Tradisi tetap hidup ketika masyarakat masih menjalankannya, menjelaskan maknanya, dan meneruskannya kepada generasi selanjutnya.

Ulam Bana pada akhirnya bukan hanya agenda tahunan di kelenteng. Ritual tersebut menjadi salah satu cara masyarakat Tionghoa mempertahankan ingatan, penghormatan kepada arwah, serta identitas budaya melalui praktik yang terus diwariskan.

Pelaksanaan rutin di TITD Tjoe Tik Kiong menjadi contoh bahwa tradisi keagamaan dapat tetap bertahan ketika nilai dan maknanya terus dipahami oleh komunitasnya.

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
ulam bana sembahyang arwah tradisi ulam bana tradisi masyarakat tionghoa pelestarian budaya tionghoa