Sesajen Ulam Bana Bukan Sekadar Hidangan, Ini Fungsi dan Makna Simbolisnya dalam Tradisi Tionghoa

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 19:40 WIB

Sesajen dalam Ulam Bana menjadi simbol penghormatan kepada arwah, termasuk yang diyakini tidak lagi memiliki keluarga atau keturunan.(ILUSTRASI AI)

Sesajen dalam Ulam Bana menjadi simbol penghormatan kepada arwah, termasuk yang diyakini tidak lagi memiliki keluarga atau keturunan.(ILUSTRASI AI)

TULUNGAGUNG – Sesajen dalam Ulam Bana memiliki fungsi penting sebagai bagian dari penghormatan simbolis kepada arwah.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, persembahan tersebut tidak sekadar dipandang sebagai makanan, tetapi menjadi bagian dari ritual untuk menunjukkan penghormatan kepada mereka yang telah meninggal.

Sesajen dalam Ulam Bana juga berkaitan dengan kepercayaan mengenai keberadaan arwah pada bulan ketujuh kalender lunar.

Pada masa tersebut, terdapat tradisi yang meyakini arwah dapat kembali dan berkumpul dengan keluarga yang masih hidup.

Karena itu, sesajen dalam Ulam Bana disiapkan sebagai bagian dari rangkaian sembahyang. Ritual ini tidak hanya diperuntukkan bagi arwah yang masih mempunyai keluarga, tetapi juga bagi arwah yang diyakini sudah tidak memiliki sanak keluarga atau keturunan yang dapat memberikan penghormatan.

Baca Juga: Makna Tradisi Ulam Bana, Sembahyang untuk Arwah yang Tak Lagi Memiliki Keluarga

Fungsi Sesajen sebagai Persembahan Simbolis

Dalam pelaksanaan Ulam Bana, sesajen ditempatkan sebagai bentuk penghormatan kepada arwah. Persembahan tersebut menjadi simbol perhatian manusia kepada mereka yang telah meninggal, termasuk arwah yang dianggap tidak lagi memiliki keluarga untuk mengurus atau mengenangnya.

Makna tersebut sejalan dengan tradisi persembahan dalam berbagai ritual masyarakat Tionghoa yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur dan arwah.

Bentuk sesajian dapat berbeda antara satu komunitas dengan komunitas lain karena dipengaruhi tradisi keagamaan serta kebiasaan lokal.

Ullambana sendiri mempunyai akar dalam tradisi Buddhis. Dalam perkembangannya di Tiongkok dan wilayah Asia Timur, ritual tersebut kemudian berinteraksi dengan tradisi lokal dan praktik penghormatan leluhur sehingga memiliki bentuk yang beragam.

Dengan demikian, sesajen dalam Ulam Bana tidak tepat dipahami hanya dari bentuk bendanya. Yang lebih penting adalah fungsi simbolisnya dalam sebuah ritual, yakni menjadi sarana untuk menyampaikan penghormatan dan perhatian kepada arwah.

Baca Juga: Sembahyang Ulam Bana di TITD Tjoe Tik Kiong Tulungagung, 3.000 Paket Sembako Disiapkan

Berkaitan dengan Kepercayaan Bulan Ketujuh

Pelaksanaan Ulam Bana di TITD Tjoe Tik Kiong Tulungagung pada 31 Agustus berlangsung dalam rangkaian kegiatan sembahyang arwah. Tradisi tersebut berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat mengenai bulan ketujuh kalender lunar sebagai periode ketika arwah dapat kembali ke dunia manusia.

Dalam sejumlah komunitas Tionghoa, periode ini dikenal melalui tradisi Hungry Ghost Festival atau Festival Hantu. Ritualnya dapat mencakup doa, persembahan makanan, pembakaran dupa, hingga berbagai kegiatan penghormatan kepada arwah.

Namun, praktik tersebut tidak selalu memiliki bentuk seragam. Kajian akademis mengenai tradisi Ullambana dan Festival Hantu menunjukkan adanya percampuran unsur Buddhisme, Taoisme, serta kepercayaan rakyat dalam perkembangannya di Asia Timur.

Di Tulungagung, Ulam Bana secara khusus diarahkan kepada arwah yang dianggap sudah tidak memiliki sanak famili ataupun keturunan.

Dengan adanya ritual bersama, penghormatan tetap diberikan meskipun arwah tersebut tidak lagi mempunyai keluarga yang secara khusus melakukan sembahyang.

Baca Juga: Pesan Keras soal Pendidikan Indonesia: Praktik Joki, AI, hingga Kultur Belajar Jadi Sorotan di Bangkit Fest

Mengapa Arwah Tanpa Keluarga Ikut Diberi Sesajen?

Bagian tersebut menjadi salah satu makna penting dari pelaksanaan Ulam Bana. Ritual tidak hanya berpusat pada hubungan keluarga dengan leluhur masing-masing, tetapi juga mencakup arwah yang diyakini tidak lagi mempunyai pihak yang memberikan penghormatan.

Dalam konteks tersebut, sesajen berfungsi sebagai persembahan simbolis. Masyarakat yang mengikuti ritual meyakini penghormatan tersebut dapat menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dan arwah.

Pelaksanaan Ulam Bana di TITD Tjoe Tik Kiong juga memperlihatkan bahwa ritual keagamaan berjalan bersama kegiatan sosial.

Tahun ini, sekitar 3.000 paket sembako disiapkan untuk umat dan relawan yang mengikuti rangkaian kegiatan, dengan sekitar 2.800 paket telah dibagikan atau diambil saat pelaksanaan.

Kegiatan tersebut tetap menempatkan sembahyang dan persembahan sebagai bagian utama ritual. Sementara pembagian sembako menjadi aktivitas pendukung yang memperkuat kebersamaan umat dalam kegiatan tahunan tersebut.

Pada akhirnya, sesajen dalam Ulam Bana mempunyai makna yang tidak sebatas benda yang dipersembahkan.

Sesajen menjadi simbol penghormatan kepada arwah sekaligus bagian dari ritual yang diwariskan dalam komunitas. Di TITD Tjoe Tik Kiong, tradisi tersebut terus dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada arwah, termasuk mereka yang diyakini tidak lagi memiliki keluarga atau keturunan.

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
sembahyang arwah sesajen dalam ulam bana makna ulam bana fungsi sesajen ulam bana tradisi tionghoa