10 Benda Pembawa Sial Menurut Primbon Jawa, dari Sapu hingga Cermin Pecah Berita:

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 11:20 WIB
Keyword Utama: lungguhe nogo tahun

Judul: Lungguhe Nogo Tahun dalam Hitungan Jawa, Ini Arah yang Perlu Diperhatikan

Berita:

JAKARTA - Lungguhe nogo tahun menjadi salah satu bagian penting dalam perhitungan hari baik menurut tradisi Jawa. Perhitungan ini digunakan sebagai patokan arah ketika seseorang hendak melakukan kegiatan penting, seperti menempati rumah atau memulai perjalanan. Arah yang ditunjukkan dalam lungguhe nogo tahun dipercaya berkaitan dengan keberuntungan, rezeki, dan terutama keselamatan.

Penjelasan mengenai lungguhe nogo tahun disampaikan Teguh Sharno melalui kanal YouTube Dekong TV. Pria yang mengaku berasal dari Malang itu mengajak masyarakat, khususnya orang Jawa, untuk kembali mengenal berbagai perhitungan tradisional yang berkaitan dengan hari, bulan, dan tahun.

Menurut Teguh, nogo tahun terbagi menjadi empat fase. Setiap fase berlangsung selama tiga bulan. Pembagian tersebut menjadi patokan untuk mengetahui posisi nogo tahun pada arah tertentu. Setelah seseorang menentukan hari dan bulan yang dianggap baik, posisi nogo tahun juga perlu diperhatikan sebelum kegiatan penting dilakukan.

“Lungguhe no tahun pun juga sama,” ujar Teguh dalam penjelasannya. Ia menerangkan, nogo tahun merupakan patokan arah dari bulan-bulan tertentu. Karena itu, arah rumah, jalur masuk, atau arah langkah seseorang perlu disesuaikan dengan posisi nogo tahun pada periode tersebut.

### Empat Fase Lungguhe Nogo Tahun

Fase pertama berada pada bulan Besar, Sura, dan Sapar. Pada tiga bulan tersebut, nogo tahun disebut berada di lor atau utara. Dalam kepercayaan yang dijelaskan Teguh, seseorang sebaiknya tidak memulai kegiatan penting dengan arah menuju utara ketika nogo tahun berada di wilayah tersebut.

Teguh memberikan contoh seseorang yang hendak menempati rumah. Jika rumah menghadap ke selatan, orang tersebut secara otomatis akan masuk menuju arah utara. Kondisi itu dianggap perlu dihindari apabila nogo tahun sedang berada di utara.

Namun, terdapat beberapa solusi yang bisa dilakukan. Penghuni rumah dapat masuk melalui samping, baik dari arah timur menuju barat maupun dari arah barat menuju timur. Pilihan lain yang disebut lebih aman adalah menggunakan pintu belakang sehingga arah masuk menuju selatan.

Solusi lainnya adalah memilih bulan berbeda. Teguh menyebut bulan Mulud atau Bak Mulud serta Jumadilawal sebagai periode ketika nogo tahun berada di wetan atau timur. Dengan demikian, seseorang dapat menyesuaikan waktu pelaksanaan kegiatan agar arah yang ditempuh tidak berlawanan dengan posisi nogo tahun.

Fase berikutnya mencakup Jumadilakhir, Rejab, dan Ruwah. Pada periode tersebut, nogo tahun berada di kidul atau selatan. Teguh kembali mengingatkan agar arah masuk atau langkah untuk kegiatan penting tidak menuju selatan.

Contohnya, ketika seseorang hendak menempati rumah yang menghadap ke utara. Jika dilakukan pada bulan Jumadilakhir, Rejab, atau Ruwah, arah masuk rumah akan menuju selatan. Dalam perhitungan yang dijelaskan, arah tersebut dianggap perlu dihindari karena dikaitkan dengan upaya mendatangi sesuatu yang buruk.

Sementara itu, fase terakhir meliputi Poso, Syawal, dan Selo. Pada tiga bulan tersebut, nogo tahun berada di kulon atau barat. Penjelasan ini menjadi bagian dari pembagian empat fase yang digunakan untuk menentukan posisi arah dalam perhitungan nogo tahun.

Teguh menegaskan bahwa penjelasan tersebut merupakan referensi dalam mengenal tradisi Jawa. Ia mengajak masyarakat untuk tetap mengingat budaya Jawa sekaligus saling mengingatkan apabila terdapat kekeliruan dalam pemahaman.

“Bila ada yang salah kita benarkan, bila ada yang benar kita pertahankan,” tutur Teguh. Ia juga menyampaikan bahwa perhitungan tersebut dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi masyarakat yang ingin mendalami pengetahuan tradisional Jawa.

Meta Description: Lungguhe nogo tahun menjadi patokan arah dalam hitungan Jawa. Simak pembagian bulan dan arah yang perlu diperhatikan.(ILUSTRASI AI)
10 benda pembawa sial menurut primbon Jawa, mulai dari sapu di pintu, sisir patah, hingga cermin pecah yang dipercaya menghambat rezeki.(ILUSTRASI AI)

TULUNGAGUNG- Benda-benda yang dianggap biasa di rumah ternyata memiliki makna tersendiri dalam kepercayaan primbon Jawa. Sapu yang disandarkan di pintu, sisir patah, hingga cermin pecah disebut sebagai benda pembawa sial menurut primbon Jawa. Keberadaannya dipercaya dapat menghambat rezeki, memunculkan energi negatif, dan mengganggu keharmonisan penghuni rumah.

Kepercayaan tersebut menjadi pembahasan dalam sebuah video YouTube yang mengulas 10 benda yang sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja di dalam rumah. Video itu juga mengajak penonton mengganti atau menyingkirkan benda yang sudah rusak agar lingkungan tempat tinggal terasa lebih tertata.

Berikut 10 benda pembawa sial menurut primbon Jawa yang disebut dalam video tersebut.

1. Sapu yang disandarkan di pintu

Sapu merupakan alat untuk membersihkan rumah. Namun, menyandarkannya di pintu dipercaya dapat menghambat datangnya keberuntungan. Pintu dianggap sebagai jalur masuk energi ke dalam rumah, sedangkan sapu yang diletakkan di sana diyakini bisa mengusir rezeki.

Selain itu, sapu yang tidak disimpan rapi disebut melambangkan kehidupan yang tidak teratur. Karena itu, video tersebut menyarankan agar sapu disimpan di tempat tertutup setelah digunakan.

2. Sisir patah atau kotor

Dalam primbon Jawa, sisir dikaitkan dengan kepala yang melambangkan harga diri, keberuntungan, dan energi seseorang. Sisir yang rusak atau kotor dipercaya dapat memengaruhi aliran energi baik.

Keberadaannya disebut bisa dikaitkan dengan kesulitan memperoleh rezeki, kemunduran hidup, hingga hubungan yang tidak harmonis. Sisir yang bersih dan masih layak pakai dianggap lebih baik untuk digunakan.

Baca Juga: Terungkap 5 Posisi Pintu Rumah yang Dipercaya Menghambat Rezeki Menurut Primbon Jawa

3. Baju lusuh atau robek

Pakaian lama yang sudah lusuh atau robek sering kali masih disimpan karena rasa sayang. Namun, menurut kepercayaan yang dibahas dalam video, pakaian tersebut dapat membawa energi negatif.

Baju dianggap mencerminkan kondisi seseorang. Mengenakan pakaian yang sudah tidak layak secara terus-menerus dipercaya bisa menarik aura buruk dan memengaruhi pekerjaan maupun rezeki. Pakaian yang tidak lagi digunakan disarankan untuk disumbangkan atau dibuang.

4. Sepatu dan sandal yang diletakkan sembarangan

Sepatu atau sandal yang berantakan, terlebih dalam posisi terbalik, dipercaya membawa energi kacau ke dalam rumah. Kondisi tersebut disebut dapat memicu konflik keluarga, membuat penghuni mudah emosi, dan menghambat datangnya rezeki.

Menata alas kaki di tempat yang semestinya menjadi langkah yang disarankan agar suasana rumah tetap rapi.

5. Cermin pecah

Cermin berkaitan dengan refleksi. Dalam kepercayaan primbon Jawa, cermin yang pecah dianggap melambangkan energi yang rusak dan dapat memancarkan aura negatif.

Video tersebut juga menyebut mitos bahwa melihat bayangan diri sendiri di cermin pecah bisa membawa kesialan beruntun. Cermin yang retak atau pecah disarankan segera dibuang atau diganti.

6. Payung yang dibuka di dalam rumah

Membuka payung di dalam rumah disebut sebagai kebiasaan yang sebaiknya dihindari. Payung dipercaya sebagai simbol perlindungan. Jika dibuka di dalam rumah, benda ini diyakini dapat menghalangi datangnya rezeki.

Baca Juga: Primbon Jawa September 2026, 3 Weton Ini Disebut Punya Aura Paling Kuat

Karena itu, payung disarankan hanya digunakan ketika berada di luar rumah atau saat benar-benar diperlukan.

7. Piring dan gelas retak

Peralatan makan yang retak disebut melambangkan kehidupan yang tidak utuh. Retakan tersebut dipercaya menggambarkan rezeki yang bocor atau hubungan rumah tangga yang tidak harmonis.

Video tersebut menyarankan agar piring dan gelas yang sudah rusak segera diganti dengan yang baru.

8. Benda pusaka yang tidak dirawat

Benda pusaka seperti keris, batu bertuah, atau benda lain yang dianggap memiliki kekuatan tertentu juga masuk dalam daftar. Menurut kepercayaan yang dibahas, benda pusaka yang tidak dirawat atau tidak diperlakukan sesuai tata cara yang diyakini dapat membawa energi negatif.

Benda-benda tersebut disebut perlu dirawat atau diperlakukan dengan cara yang benar agar tidak menjadi sumber kesialan bagi pemiliknya.

9. Jam dinding mati

Jam dinding yang sudah tidak berfungsi dipercaya dapat menghambat perkembangan bisnis dan menimbulkan ketidakstabilan dalam rumah tangga. Jam dianggap sebagai simbol perjalanan waktu dan kelanjutan kehidupan.

Karena itu, jam yang mati disarankan segera diperbaiki atau diganti dengan yang baru.

10. Kalender yang sudah lewat

Kalender lama yang sudah melewati masanya juga disebut sebagai benda yang sebaiknya tidak terus disimpan. Dalam kepercayaan primbon Jawa, kalender yang sudah tidak berlaku dipercaya dapat menghambat kemajuan hidup dan rezeki.

Ketika tahun berganti, kalender lama disarankan diganti agar rumah tetap tertata dan keberuntungan diyakini terus mengalir.

Pada akhirnya, video tersebut mengingatkan bahwa kesuksesan tidak hanya dikaitkan dengan usaha dan doa, tetapi juga lingkungan yang diciptakan di sekitar seseorang. Menyingkirkan benda rusak, membersihkan rumah, dan menata barang dapat menjadi cara untuk menciptakan suasana hidup yang lebih nyaman. Kepercayaan mengenai benda pembawa sial menurut primbon Jawa sendiri merupakan bagian dari tradisi dan mitos yang berkembang di masyarakat.

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
benda pembawa sial Mitos Rumah rezeki Primbon Jawa kepercayaan jawa