TULUNGAGUNG- Poso Weton merupakan salah satu laku tirakat dalam tradisi Jawa yang dilakukan pada hari kelahiran atau weton seseorang. Dalam materi yang dibahas channel Olah Roso 7, laku ini dimaknai sebagai bentuk prihatin untuk mengendalikan hawa nafsu, membersihkan diri lahir batin, serta mendekatkan diri kepada Gusti.
Dalam kepercayaan Jawa yang dijelaskan dalam video tersebut, weton bukan sekadar tanggal lahir. Weton merupakan gabungan hari dengan pasaran Jawa yang dipercaya menjadi identitas spiritual seseorang. Hari kelahiran itu dianggap memiliki posisi khusus karena diyakini berkaitan dengan energi pribadi.
Karena itu, Poso Weton dilakukan secara khusus pada hari weton kelahiran. Misalnya, seseorang yang lahir pada Selasa Kliwon menjalankan puasa ketika hari Selasa Kliwon kembali datang dalam kalender Jawa. Begitu pula dengan kelahiran pada hari dan pasaran lainnya.
Pada dasarnya, Poso Weton dilakukan seperti puasa pada umumnya, yakni menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, materi tersebut menekankan bahwa tirakat ini tidak hanya berkaitan dengan makanan dan minuman.
Pelakunya juga diharapkan mampu menahan amarah, mengurangi ucapan yang tidak perlu, serta menjaga hati dan pikiran. Dengan demikian, inti Poso Weton ditekankan pada pengendalian diri dan kesungguhan niat.
Baca Juga: Terungkap Rahasia Weton Pahing: Diprediksi Mengalami Pergeseran Nasib dan Banjir Rezeki
Dalam materi video, tata cara Poso Weton diawali dengan niat. Puasa tidak ditujukan semata-mata untuk mengejar kekayaan atau keberhasilan duniawi, tetapi untuk membersihkan diri, mendekatkan diri kepada Gusti, dan menyelaraskan diri dengan kehidupan.
Selama menjalankan puasa, seseorang dianjurkan memperbanyak doa, zikir, atau mantra sesuai keyakinan masing-masing. Setelah matahari terbenam, puasa dibuka secara sederhana dan tidak berlebihan.
Pada malam hari, sebagian pelaku juga melakukan tirakat tambahan. Bentuknya dapat berupa semedi, tapa brata, salat hajat, maupun doa untuk keselamatan diri dan keluarga. Dalam tradisi tertentu, ada pula yang menggunakan kemenyan, dupa, atau lilin sebagai simbol yang berkaitan dengan leluhur.
Materi tersebut juga menyebut sejumlah pantangan. Poso Weton tidak dianjurkan dilakukan dengan niat buruk, seperti keinginan mencelakai orang lain atau mencari kekuatan untuk kesombongan. Pelaku juga diingatkan agar tidak menjadikan tirakat sebagai bahan pamer.
Selain itu, hasil tidak semestinya dituntut secara instan. Dalam materi tersebut, Poso Weton ditegaskan bukan jalan pintas untuk mengubah nasib. Perubahan yang diyakini muncul justru berkaitan dengan kejernihan pikiran, ketenangan hati, dan kemampuan mengendalikan diri.
Baca Juga: 9 Weton Kaya Raya 2026 Menurut Primbon Jawa, Ada yang Diprediksi Panen Rezeki
Materi video menggambarkan sejumlah manfaat yang dipercaya dapat dirasakan pelaku Poso Weton, mulai dari ketenangan batin, kejernihan pikiran, kewibawaan, hingga kemudahan dalam urusan rezeki. Ada pula kepercayaan mengenai perlindungan dari gangguan gaib.
Namun, narasi tersebut juga menekankan bahwa semua manfaat itu tidak berdiri sendiri. Poso Weton dianggap harus disertai niat yang tulus, konsistensi, rendah hati, doa, serta perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam wejangan yang disampaikan, tirakat bahkan dikaitkan dengan amal kebajikan seperti bersedekah, menolong sesama, dan menjaga ucapan maupun perilaku. Dengan demikian, hasil laku spiritual diharapkan tidak berhenti pada pengalaman pribadi, tetapi tercermin melalui perbuatan.
Salah satu pesan yang ditekankan adalah “Urip iku urup”, yang dimaknai bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain. Poso Weton kemudian ditempatkan sebagai bagian dari upaya mengenali diri, mengendalikan hawa nafsu, dan mengingat hubungan manusia dengan Gusti.
Pada akhirnya, materi tersebut menempatkan Poso Weton bukan semata-mata sebagai praktik untuk memperoleh kekayaan atau kesaktian. Keampuhan tirakat lebih ditekankan pada perubahan perilaku dan batin seseorang.
Orang yang sebelumnya mudah marah diharapkan menjadi lebih sabar. Mereka yang serakah diharapkan mampu hidup lebih sederhana. Sementara itu, orang yang menjalani tirakat juga diarahkan untuk semakin dekat kepada Gusti dan memperbanyak kebaikan kepada sesama.
Editor : Syarifatul InsaniyahSumber : Diolah dari berbagai sumber