JAKARTA – Dalam tradisi pernikahan adat Jawa, tahap perhitungan keselarasan antara calon pengantin pria dan wanita merupakan prosesi yang sangat sakral. Perhitungan ini mengandalkan kalkulasi weton kelahiran dari masing-masing pasangan untuk memprediksi tingkat keharmonisan, rezeki, serta potensi kendala rumah tangga di masa depan.
Proses analisis jodoh menggunakan weton kelahiran ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal serta solusi spiritual apabila ditemukan ketidakcocokan neptu antar-pasangan.
Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tata cara pernikahan masyarakat Jawa hingga saat ini.
Baca Juga: Penerawangan Bencana Alam 2026: Pergerakan Sesar Lembang Hingga Isu Krakatau, Ini Pesan Spiritualnya
Rumus Dasar Penjumlahan Neptu Pasangan
Mekanisme perhitungan jodoh berbasis weton kelahiran dilakukan dengan cara menjumlahkan total neptu calon pengantin pria dengan total neptu calon pengantin wanita. Hasil penjumlahan kedua neptu tersebut kemudian dibagi dengan angka 8, atau dicocokkan dengan kategori hasil hitungan tradisional berikut:
-
Pegat (Hasil 1, 9, 10, 18, 19, 27, 28, 36): Mengindikasikan adanya potensi ujian keharmonisan atau masalah ekonomi dalam rumah tangga yang membutuhkan kesabaran ekstra.
-
Ratu (Hasil 2, 11, 20, 29): Melambangkan pasangan yang sangat cocok, dihargai oleh lingkungan sekitar, dan rumah tangganya akan dipenuhi kebahagiaan.
-
Jolo (Hasil 3, 12, 21, 30): Menandakan kehidupan rumah tangga yang akan dianugerahi kemudahan dalam mencari rezeki dan kecukupan materi.
-
Topo (Hasil 4, 13, 22, 31): Mengisyaratkan bahwa di awal pernikahan pasangan akan mengalami cobaan, namun akan memetik kesuksesan dan kebahagiaan di kemudian hari.
-
Tinari (Hasil 5, 14, 23, 32): Menggambarkan kehidupan rumah tangga yang murah rezeki, sering mendapatkan keberuntungan, dan tidak kekurangan.
-
Padu (Hasil 6, 15, 24, 33): Menandakan pasangan yang sering mengalami perselisihan paham kecil, namun tidak sampai merusak keutuhan ikatan pernikahan.
-
Sujanan (Hasil 7, 16, 25, 34): Memperingatkan pasangan untuk saling menjaga kepercayaan agar terhindar dari isu kecemburuan atau pihak ketiga.
-
Pesthi (Hasil 8, 17, 26, 35): Melambangkan rukun, damai, dan tenteram hingga tua tanpa ada permasalahan besar yang mengganggu.
Baca Juga: Persiapan Dana Pensiun Sejak Usia 30 Tahun, Ini Strategi agar Tak Bergantung pada Anak
Solusi Ruwatan dan Penentuan Hari Baik Pernikahan
Apabila hasil perhitungan weton kelahiran menunjukkan kategori yang kurang menguntungkan (seperti Pegat atau Sujanan), Primbon Jawa tidak lantas melarang pernikahan tersebut secara mutlak. Para tetua adat biasanya menyediakan solusi ritual penyeimbang (ruwatan) serta memilihkan hari pernikahan (dino becik) yang memiliki nilai netralisir tinggi.
Penetapan hari ijab kabul yang tepat dipercaya mampu menolak energi negatif dan menutupi kekurangan neptu dari kedua calon pengantin.
Langkah ini menunjukkan bahwa perhitungan weton bukanlah takdir kaku, melainkan bentuk ikhtiar dan kehati-hatian manusia sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Pentingnya Komunikasi di Samping Perhitungan Tradisional
Para budayawan Jawa menegaskan bahwa perhitungan weton kelahiran hendaknya disikapi secara bijaksana sebagai alat mawas diri. Kunci utama keharmonisan rumah tangga tetap berada pada komitmen, komunikasi, dan rasa saling menghargai antara suami dan istri.
Dengan memahami hasil perhitungan weton, pasangan suami istri diharapkan dapat lebih siap dan kompak dalam menghadapi setiap dinamika kehidupan berumah tangga.
Baca Juga: Kenaikan Pensiunan PNS 2026 Golongan I-IV Belum Pasti, Cek Aturan dan Nominalnya
Editor : Dinar Ananda PutriSumber : youtube