RADAR TULUNGAGUNG - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas harus bergerak cepat dalam menangani longsor yang terjadi di lokasi pembangunan Bendungan Bagong, Kecamatan Bendungan, Trenggalek.
Tujuannya agar proyek strategis nasional (PSN) tersebut bisa segera selesai.
Karena itu, sebagai langkah awal penanganan, material longsor dikeruk dan tebing dilandaikan guna mencegah longsor susulan yang dapat menghambat pembangunan.
Sebab, dalam memulai pengerjaan, pengupasan area longsor menjadi prioritas agar tidak semakin meluas dan tidak menutup akses konstruksi utama bendungan.
"Kami melakukan pengupasan agar outlet (terowongan pengelak) di bawahnya tidak tertutup material," ungkap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Bagong, Senna Ananggadipa Adhitama,.
Terowongan pengelak memiliki peran krusial dalam mengalirkan air Sungai Bagong selama proses pembangunan bendungan berlangsung.
Dia khawatir jika material longsor tidak segera ditangani, aliran air dapat terhambat dan berisiko meluber ke area utama pembangunan bendungan.
"Khawatirnya kalau menutupi terowongan, air yang ada di belakang bisa meluber ke timbunan main dam," jelasnya.
Untuk mengurangi risiko longsor lebih lanjut, proyek ini juga akan menyesuaikan tingkat kemiringan tebing agar lebih landai.
Sementara itu, Kementerian PUPR bersama Komisi Keamanan Bendungan (KKB) tengah mengkaji ulang desain proyek guna memastikan keamanan struktur bendungan.
"Kelanjutannya menunggu hasil reviu desain dan rekomendasi dari KKB pusat. Kami akan melakukan perbaikan sesuai dengan revisi desain yang baru," tambahnya.
Senna menegaskan bahwa titik longsor seluas 2.000 meter persegi tersebut berada di luar area konstruksi utama bendungan sehingga tidak memengaruhi proses pembangunan yang masih berjalan.
"Pembangunan Bendungan Bagong tetap berjalan, penimbunan main dam terus dilakukan, dan spillway di sisi kanan juga tetap dikerjakan," imbuhnya.
Karena itu, dia juga memastikan bahwa longsor tersebut bukan disebabkan oleh timbunan tanah dari pengerjaan bendungan, melainkan tebing alami yang ada di lokasi proyek.
Pihaknya sebelumnya telah melakukan langkah mitigasi dengan melapisi tebing menggunakan shotcrete (lapisan semen dan kawat), tetapi curah hujan tinggi selama tiga hari berturut-turut menyebabkan tanah menjadi jenuh, retak, dan akhirnya longsor.
Sementara itu, berdasarkan data BBWS Brantas, pembangunan Bendungan Bagong diproyeksikan rampung pada 2026, bergantung pada kelancaran anggaran.
Penyelesaian proyek ini sebelumnya sempat tertunda dari target awal pada 2022 akibat kendala pembebasan lahan.
"Total anggaran proyek ini sekitar Rp 2,1 triliun," pungkasnya. (kho/c1/jaz)
Editor : Vidya Sajar Fitri