Efisiensi Anggaran Bikin Galau, Infrastruktur dan Event Pariwisata di Trenggalek Terancam Ambyar

Akhmad Nur Khoiri • Dipublikasikan Rabu, 12 Maret 2025 | 22:02 WIB
Pantai Prigi merupakan salah satu lokasi yang menjadi rujukan wisatawan yang pada tahun ini dimungkinkan tidak ada pembangunan akibat efisiensi anggaran.
Pantai Prigi merupakan salah satu lokasi yang menjadi rujukan wisatawan yang pada tahun ini dimungkinkan tidak ada pembangunan akibat efisiensi anggaran.

RADAR TULUNGAGUNG - Pembangunan infrastruktur pariwisata di Trenggalek hampir dipastikan terhambat.

Hal itu akibat kebijakan efisiensi anggaran yang akan diterapkan pada 2025 ini.

Selain itu, sejumlah event wisata rutin juga berpotensi kehilangan anggaran.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, Sunyoto, menyatakan bahwa masih menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah kabupaten terkait sistem penerapan efisiensi tersebut.

Sebab dalam menyikapi instruksi presiden (Inpres) 1 Tahun 2025, disparbud masih dalam tahap meraba-raba.

“Yang jelas, efisiensi harus dilakukan, tetapi kami masih menunggu petunjuk dari pimpinan (bupati, Red) terkait apa saja yang harus diefisiensi,” ujarnya.

Beberapa kegiatan yang kemungkinan besar terdampak adalah perjalanan dinas, rapat koordinasi antardaerah, studi banding, serta peningkatan sumber daya manusia (SDM).

Menurutnya, di era digital seperti saat ini, kegiatan tersebut bisa dilakukan secara virtual melalui platform seperti Zoom Meeting atau Google Meet.

“Rapat-rapat atau koordinasi antardaerah yang jaraknya jauh tidak perlu lagi dilakukan secara fisik. Kita bisa memanfaatkan teknologi untuk efisiensi waktu dan anggaran,” tambahnya.

Selain itu, event pariwisata yang selama ini menjadi magnet bagi perekonomian masyarakat juga berpotensi terkena dampak pemangkasan anggaran.

Sunyoto menyebut tengah mempertimbangkan opsi untuk mengurangi jumlah event atau hanya menyesuaikan anggaran agar tetap bisa berjalan secara optimal.

“Kami perlu berpikir keras, karena event-event yang selama ini digelar berdampak langsung terhadap masyarakat, terutama dalam pengembangan ekonomi lokal. Jadi, perlu dikaji lagi, apakah mengurangi jumlah event atau hanya mengurangi anggarannya,” jelasnya.

Efisiensi ini bahkan berpotensi berimbas pada pembangunan infrastruktur destinasi wisata.

Namun, Sunyoto menegaskan bahwa proyek yang dianggap mendesak tetap akan menjadi prioritas utama.

“Kami mendapat informasi bahwa efisiensi bisa mencapai 50 persen dari berbagai kegiatan. Infrastruktur di destinasi wisata pun tidak menutup kemungkinan terdampak. Namun, kami masih akan mengkaji urgensi dari setiap proyek pembangunan,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Disparbud Trenggalek berencana mengumpulkan seluruh bidang di dinasnya untuk membahas strategi efisiensi.

Sunyoto mengakui bahwa diskusi informal telah dilakukan, tetapi keputusan final masih menunggu arahan dari tim anggaran pemerintah daerah (TAPD).

“Kami masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari TAPD terkait tata cara efisiensi ini. Hari ini, kami akan membahasnya lebih mendalam dengan tim di masing-masing bidang,” pungkasnya. (kho/c1/jaz)

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Disparbud event TAPD efisiensi anggaran pembangunan infrastruktur pariwisata