RADAR TULUNGAGUNG - Keputusan untuk meniadakan tradisi arak-arakan ketupat pada perayaan Hari Kupatan tahun ini mendapat tanggapan bijak dari sebagian warga.
Sebab, mereka memilih untuk tetap fokus pada esensi utama tradisi Kupatan.
Arak-arakan ketupat yang biasanya menjadi puncak perayaan dengan parade warga, tahun ini tidak digelar demi alasan keterbatasan dana.
Meskipun demikian, suasana perayaan tetap berlangsung meriah dengan kegiatan doa bersama dan pembagian ketupat di lingkungan masing-masing.
“Sebenarnya sayang juga, tapi saya pribadi tidak mempermasalahkan. Yang penting, makna Kupatan tetap ada, bisa berkumpul dengan keluarga dan tetangga,” ujar seorang warga Desa Durenan, Manto.
Tanggapan serupa juga disampaikan oleh Komarudin.
Dia mengatakan bahwa nilai kebersamaan tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk arak-arakan.
Terpenting adalah tradisi Kupatan tetap lestari.
“Kita tetap bisa menjaga tradisi meski dengan cara yang sederhana. Justru ini kesempatan untuk lebih fokus ke sisi spiritual dan sosial dari Kupatan,” jelasnya.
Menurutnya, walaupun tanpa adanya arak-arakan, inti peringatan Hari Kupatan tetap terlaksana seperti biasanya.
Tradisi berkunjung ke tokoh agama, pondok pesantren, serta keluarga tetap menjadi bagian terpenting.
Baca Juga: Sidak ASN Pascalibur Lebaran, Bupati Tulungagung Singgung Optimalisasi PAD
Selain itu, pembagian ketupat gratis juga tetap dilakukan oleh warga di rumah masing-masing.
Tradisi Kupatan tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga ruang untuk introspeksi dan memperkuat nilai gotong royong yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Dengan suasana hangat, akrab, dan penuh kekeluargaan, Kupatan tahun ini kembali menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kebersamaan, saling memaafkan, dan menjaga nilai-nilai tradisi yang diwariskan para leluhur.
“Yang terpenting bukan kemeriahannya, melainkan semangat kebersamaan dan rasa syukur kita semua,” tandasnya. (was/c1/jaz)
Editor : Vidya Sajar Fitri