RADAR TULUNGAGUNG – Meski menyandang nama "Stasiun Magetan", stasiun kereta api ini sebenarnya berlokasi di Desa Karangsono, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan.
Stasiun Magetan ini merupakan satu-satunya stasiun aktif di Kabupaten Magetan dan berperan penting dalam mendukung konektivitas masyarakat di wilayah barat Madiun Raya.
Baca Juga: Stasiun Plampangan, Jejak Sejarah Kereta Api di Blitar Raya, Lokasi Tepatnya di Sini
Stasiun Magetan awalnya dikenal sebagai Stasiun Barat. Dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda oleh perusahaan kereta api Staatsspoorwegen, stasiun ini berada di jalur utama yang menghubungkan Madiun dengan Solo.
Fungsinya sejak awal adalah sebagai titik persinggahan kereta dan pengangkutan hasil bumi dari kawasan pertanian di lereng Gunung Lawu.
Baca Juga: Yuk Kenalan dengan 4 Stasiun Kereta Api di Madiun Raya, Nomor 2 dan 4 Hanya untuk Persilangan
Seiring perkembangan wilayah dan kebutuhan branding transportasi, nama stasiun diubah menjadi Stasiun Magetan untuk memperkuat identitas daerah. Tepatnya pada 1 Desember 2019.
Meski letaknya tidak berada di pusat kota Magetan, stasiun ini tetap menjadi akses utama warga Magetan yang hendak bepergian ke Yogyakarta, Madiun, hingga Surabaya menggunakan kereta api.
Saat ini, Stasiun Magetan melayani kereta api kelas ekonomi dan campuran seperti KA Kahuripan dan KA Sri Tanjung.
Dengan fasilitas dasar yang cukup memadai, serta integrasi dengan transportasi darat lokal, stasiun ini mendukung aktivitas mobilitas harian, bisnis, dan pariwisata.
Baca Juga: Daftar 9 Stasiun Kereta Api Aktif di Wilayah Malang Raya, Mana yang Paling Sering Kamu Singgahi?
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat peningkatan jumlah penumpang dari dan menuju Stasiun Magetan dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini menunjukkan bahwa transportasi berbasis rel masih menjadi pilihan utama warga, terutama di daerah yang jauh dari bandara dan terminal besar.
Dengan sejarah panjang dan peran strategisnya, Stasiun Magetan tidak hanya menjadi saksi perkembangan transportasi di era kolonial, tetapi juga bagian penting dari masa depan konektivitas Jawa Timur.
Editor : Dharaka R. Perdana