RADAR TULUNGAGUNG - Kabupaten Ngawi, yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, memiliki jaringan transportasi kereta api yang cukup strategis.
Sampai saat ini terdapat empat stasiun kereta api aktif di Ngawi yang beroperasi dan melayani berbagai jenis perjalanan, baik lokal maupun jarak jauh.
Berikut sekilas kisah empat stasiun kereta api di Ngawi
Baca Juga: Stasiun Kereta Api Satu-satunya di Magetan Ini Pernah Berubah Nama, Berikut Kisahnya
1. Stasiun Ngawi (NGW)
Stasiun ini pertama kali dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), pada akhir abad ke-19 sebagai bagian dari jalur kereta lintas selatan Jawa.
Saat itu, nama resminya adalah Station Paron, karena letaknya di Kecamatan Paron.
Jalur ini menghubungkan kota-kota besar seperti Surabaya, Madiun, Solo, dan Yogyakarta yang menjadi koridor ekonomi penting di Pulau Jawa.
Baca Juga: Stasiun Plampangan, Jejak Sejarah Kereta Api di Blitar Raya, Lokasi Tepatnya di Sini
Fungsi utama stasiun saat itu adalah untuk mengangkut hasil pertanian, perkebunan, dan kayu jati dari wilayah Ngawi dan sekitarnya ke pusat-pusat industri dan pelabuhan di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Nama “Ngawi” digunakan sejak 2019 agar lebih mencerminkan identitas kabupaten.
2. Stasiun Walikukun (WK)
Stasiun Walikukun (kode: WK) adalah salah satu stasiun kereta api aktif di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Terletak di Desa Walikukun, Kecamatan Widodaren, stasiun ini memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari jaringan rel strategis yang dibangun pada masa kolonial Belanda.
Hingga kini, Stasiun Walikukun tetap memainkan peran penting dalam sistem transportasi kereta api di jalur selatan Pulau Jawa.
Stasiun Walikukun dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada akhir abad ke-19.
Jalur ini merupakan bagian dari proyek lintas selatan Jawa yang menghubungkan Surabaya, Madiun, Solo, dan Yogyakarta.
Baca Juga: Yuk Kenalan dengan 4 Stasiun Kereta Api di Madiun Raya, Nomor 2 dan 4 Hanya untuk Persilangan
Tujuannya adalah mempercepat distribusi hasil bumi, kayu, dan hasil perkebunan dari pedalaman ke pelabuhan.
Stasiun ini dipilih karena lokasinya dekat dengan kawasan hutan jati yang luas milik Perhutani (dulu milik pemerintah kolonial), sehingga menjadi titik penting pengangkutan kayu dan hasil kehutanan.
3. Stasiun Geneng (GG)
Stasiun Geneng (kode: GG) adalah salah satu stasiun kereta api kecil di Kabupaten Ngawi, tepatnya terletak di Desa Tambakromo, Kecamatan Geneng.
Meski tidak sebesar Stasiun Ngawi atau Walikukun, Stasiun Geneng memiliki nilai historis sebagai bagian dari jalur utama perkeretaapian yang dibangun sejak masa kolonial Belanda.
Stasiun Geneng dibangun pada akhir abad ke-19 oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda.
Pembangunannya merupakan bagian dari proyek jalur selatan Jawa, yang menghubungkan kota-kota besar seperti Surabaya – Madiun – Solo – Yogyakarta.
Tujuan jalur ini adalah mempermudah pengangkutan hasil bumi, logistik, dan komoditas kolonial.
Sebagai stasiun kelas kecil, Stasiun Geneng berfungsi lebih sebagai titik silang dan persinggahan untuk kereta barang dan penumpang lokal, terutama dalam mendukung distribusi pertanian dari wilayah pedesaan Ngawi bagian selatan.
Pada dekade 1980–2000-an, fungsi Stasiun Geneng sempat menurun akibat dominasi transportasi jalan raya.
Beberapa kali, stasiun ini nyaris nonaktif, tetapi tetap dipertahankan untuk mendukung lalu lintas lokal dan kebutuhan teknis operasional.
Stasiun Geneng kembali mendapat perhatian sejak proyek jalur ganda lintas selatan Jawa (double track) digalakkan pada awal 2010-an.
Sebagai bagian dari Daop VII Madiun, stasiun ini kini dilengkapi sistem persinyalan elektrik modern dan jalur ganda yang memungkinkan persilangan kereta lebih efisien.
4. Stasiun Kedunggalar (KG)
Stasiun Kedunggalar (kode: KG) merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Desa Kedunggalar, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Berlokasi pada ketinggian +75 meter di atas permukaan laut, stasiun ini berada di bawah pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi VII Madiun .
Stasiun Kedunggalar dibangun pada masa kolonial oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), sebagai bagian dari jalur rel lintas selatan Jawa yang menghubungkan Madiun–Paron–Sragen–Solo Balapan.
Baca Juga: Stasiun Kediri Tak Hanya Melayani Penumpang di Era Kolonial, Ternyata Langganan Pabrik Gula Berikut
Pembangunan jalur ini dimulai pada tahun 1883 dan selesai pada tahun 1884, dengan panjang sekitar 97 kilometer .
Sebagai stasiun kecil, Kedunggalar berfungsi sebagai titik persilangan dan pemberhentian bagi kereta barang dan penumpang lokal, mendukung distribusi hasil pertanian dan kehutanan dari wilayah Ngawi bagian barat.
Pada era modern, Stasiun Kedunggalar mengalami revitalisasi seiring dengan pembangunan jalur ganda (double track) lintas selatan Jawa.
Baca Juga: Stasiun Bendo Saksi Sejarah Transportasi Masal di Blitar Tinggal Cerita, Begini Kisahnya
Sejak pengoperasian jalur ganda ruas Geneng–Kedungbanteng pada 30 November 2019, tata letak jalur di stasiun ini mengalami perubahan signifikan.
Jalur 2 dijadikan sepur lurus arah Solo, sementara jalur 3 yang baru dijadikan sepur lurus arah Madiun. Sistem persinyalan juga ditingkatkan dari mekanik menjadi elektrik .
Bangunan lama stasiun yang merupakan peninggalan Djawatan Kereta Api telah dirobohkan dan digantikan dengan bangunan baru yang lebih besar.
Gudang pupuk milik Pupuk Sriwidjaja Palembang di sebelah barat laut stasiun juga telah dirobohkan untuk memperpanjang emplasemen stasiun ke arah barat laut.
Editor : Dharaka R. Perdana