TULUNGAGUNG - Beberapa pekan terakhir, warga di berbagai daerah di Jawa Timur termasuk Tulungagung dibuat heran oleh cuaca dingin yang menusuk serta hujan yang turun di tengah musim kemarau.
Wilayah seperti Malang, Batu, Tulungagung, Kediri, hingga Jember mengalami hujan ringan hingga sedang, disertai suhu malam yang mencapai 15–20°C.
Padahal, menurut kalender iklim, saat ini merupakan puncak musim kemarau. Lalu, apa penyebab fenomena ini?
Menurut keterangan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), kondisi anomali cuaca di Tulungagung ini sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi pada pertengahan tahun, terutama di wilayah pegunungan dan dataran tinggi Jawa Timur.
1. Angin Monsun Timur (Muson Australia)
Pada musim kemarau, angin bertiup dari Benua Australia yang sedang mengalami musim dingin. Angin ini membawa udara kering dan dingin ke Indonesia, termasuk ke Tulungagung, Jawa Timur. Hasilnya, suhu udara jadi terasa lebih dingin, terutama di malam hingga dini hari.
2. Pertemuan Massa Udara dan Lembab
Meskipun musim kemarau, kadang terjadi konvergensi atau pertemuan angin yang membawa uap air dari wilayah lain seperti Samudera Hindia. Hal ini bisa menyebabkan terbentuknya awan hujan di Tulungagung secara lokal.
3. Topografi Jawa Timur yang Bervariasi
Daerah-daerah seperti Batu, Malang, Lumajang, dan Ponorogo berada di ketinggian yang cukup tinggi, sehingga suhu udara cenderung lebih rendah dibanding daerah pantai. Ini menjelaskan kenapa daerah-daerah tersebut sering terasa lebih dingin meskipun musim kemarau.
Sama halnya dengan wilayah pegunungan yang ada di Tulungagung, seperti Kecamatan Sendang, Pucanglaban, Pagerwojo, dan Tanggunggunung yang memiliki topografi di ketinggian.
Fenomena suhu dingin dan hujan ini memiliki dampak positif dan negatif. Dimana dampak positif yakni suhu yang lebih sejuk bisa membantu mengurangi risiko kekeringan ekstrem dan membantu pertanian di Tulungagung yang membutuhkan air tambahan.
Kemudian dampak negatif yakni petani di Tulungagung bisa bingung dalam menentukan jadwal tanam, dan warga perlu waspada terhadap penyakit seperti flu, batuk, atau ISPA yang umum terjadi saat suhu turun drastis.
Mendapati hal itu, BMKG menghimbau agar masyarakat Tulungagung selalu memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi.
Mengenakan pakaian hangat saat malam atau pagi hari. Waspadai potensi hujan lokal, terutama di daerah pegunungan. Mengatur pola tanam dengan lebih fleksibel sesuai kondisi cuaca.
Meskipun sedang musim kemarau, hujan dan suhu dingin di beberapa wilayah Jawa Timur, termasuk Tulungagung merupakan fenomena alam yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Dengan memahami penyebabnya, masyarakat diharapkan tetap tenang dan bisa beradaptasi terhadap perubahan cuaca yang terjadi.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz