TRENGGALEK - Pemkab Trenggalek tengah merancang skema penataan kawasan pusat kota dengan usulan penerapan jalur satu arah sepanjang Jalan Panglima Sudirman, dari pertigaan replika Candi Brawijaya hingga Alun-Alun Trenggalek.
Inisiatif ini diharapkan tidak hanya menata lalu lintas di Trenggalek, tapi juga memperkuat daya tarik kota sebagai ruang publik yang hidup dan estetis.
Rencana tersebut diungkapkan oleh Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Trenggalek Agus Dwi Karyanto dalam rapat kerja bersama DPRD Trenggalek beberapa waktu lalu.
“Minimal dari alun-alun sampai Bank Jatim diberlakukan satu arah. Ini akan menjadi ikon baru, seperti Malioboro atau kawasan kota di Madiun,” kata Agus.
Menurut dia, penerapan sistem satu arah di sepanjang Jalan Panglima Sudirman, dari pertigaan replika Candi Brawijaya hingga Alun-Alun Trenggalek akan membuka ruang parkir yang lebih luas dan menciptakan suasana pedestrian yang mendukung masyarakat untuk berjalan kaki.
Kawasan seperti Pasar Pon, Jalan Panglima Sudirman, dan sekitarnya akan menjadi zona aktif masyarakat, baik untuk berbelanja maupun bersantai di Trenggalek.
Tak hanya sekadar pengaturan lalu lintas, dishub juga mengusulkan pengembangan kawasan Pasar Sore Trenggalek menjadi pasar tematik.
“Kami ingin menata Pasar Sore dengan tampilan yang lebih klasik dan terstruktur agar mendukung estetika kota,” jelas Agus.
Dalam konsep tersebut, dishub juga mendorong reposisi tugu di sebelah selatan Pasar Pon Trenggalek sebagai titik nol kilometer utara. Lokasi ini dinilai lebih representatif ketimbang titik nol lama di sekitar toko.
“Tugu Pasar Pon selama ini tidak punya makna khusus. Kalau dijadikan titik nol, itu bisa jadi penanda penting kota Trenggalek,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rekayasa lalu lintas, kendaraan dari arah selatan akan diarahkan melalui Jalan Brigjen Soetran untuk masuk pusat kota, atau dialihkan ke barat melalui Jalan Soedomo. Dishub melihat peluang pertumbuhan ekonomi baru di sepanjang ruas tersebut.
Baca Juga: Museum Angkut Malang, Primadona Wisata Edukasi dan Instagramable di Kota Batu
“Trotoar di Brigjen Soetran juga akan dilebarkan untuk tempat nongkrong. Saat ini jalur itu sepi, tapi kalau ditata bisa jadi kawasan ekonomi baru,” tambah Agus.
Dia menyebut bahwa pelebaran trotoar akan dilakukan dengan tetap memperhatikan hak pejalan kaki.
Pedagang kaki lima (PKL) akan diakomodasi di ruang yang tersedia secara tertib sehingga potensi retribusi parkir daerah bisa meningkat dan toko-toko di kawasan yang sempat mati suri bisa kembali hidup.
“Ini adalah strategi penataan kota jangka menengah. Targetnya dalam lima tahun ke depan dampaknya sudah terasa dan bisa memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi kota,” pungkas Agus. (kho/c1/rka)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz