RADAR TULUNGAGUNG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik masalah.
Di Lamongan, Jawa Timur, sejumlah siswa diduga keracunan setelah menyantap paket MBG. Lalu, di Surabaya, makanan yang diberikan kepada siswa ternyata sudah basi.
Insiden keracunan terjadi di SMA Negeri 2 Lamongan, Rabu (17/9). Hingga kemarin, beberapa siswa masih dirawat di rumah sakit dan puskesmas.
Dilansir dari Radar Lamongan Grup Jawa Pos, ada enam siswa yang dirawat di Rumah Sakit Islam Nashrul Ummah (RSI NU).
Lalu, satu pelajar dirawat di RS Permata Hati, dua pelajar di RS Sartika, dan satu lainnya dibawa ke Puskesmas Deket.
Kepala SMAN 2 Lamongan Sofyan Hadi menuturkan, pendistribusian MBG di sekolahnya dihentikan sementara sampai hasil uji lab keluar. Meski demikian, dia membantah jika menu MBG disebut sudah basi.
Buktinya, banyak siswa yang memakan sampai habis dan baik-baik saja. "Minggu depan sudah normal lagi distribusinya (MBG) setelah sampel keluar," ujar Sofyan.
MBG yang disantap siswa SMAN 2 Lamongan didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jetis, Lamongan.
Pengelola Dapur SPPG Jetis Frangky Irawan mengungkapkan, pihaknya telah menelusuri dari mana bahan makanan yang diduga meracuni belasan siswa SMAN 2 Lamongan.
Dia juga telah bersurat ke pe-merintah pusat untuk menghentikan sementara distribusi MBG. Sampel makanan juga telah dikirim.
Dia juga membantah jika makanan yang disajikan SPPG Jetis mengandung racun. Alasannya, hanya ada 12 siswa yang diduga keracunan.
Padahal, penerima MBG sebanyak 1.200 orang. Dia mengatakan, proses memasak dan penyajian sudah dilakukan sesuai dengan prosedur.
Sementara itu, di Surabaya, kasus menu MBG basi terjadi dua kali dalam sepekan terakhir. Yakni di SMAN 15 dan SMAN 12.
Kepala SMAN 15 Surabaya Johanes Mardijono menjelaskan, menu MBG ditemukan bau pada hari kesembilan pelaksanaan kemarin (18/9).
Setelah istirahat kedua, menu dibagikan kepada ribuan anak. Saat hendak disantap, ditemukan bau tidak sedap pada sayuran.
"Siswa lalu komplain ke wali kelas. Sayuran yang bau ditemukan tidak di semua anak. Sekitar 30. persen dari jumlah 1.286 siswa," paparnya.
Kasus serupa terjadi di SMAN 12 Surabaya. Jumat pekan lalu (12/9) ditemukan menu nasi goreng yang dimasak kurang matang dan bau.
Setelah ada temuan tersebut, wali kelas meminta siswa mengembalikan dan tidak mengkonsumsi. "Sudah kami laporkan ke penyedia. Setelah itu (Jumat pekan lalu, Red) alhamdullilah lancar, tidak ada temuan," tutur Kepala SMA 12 Surabaya Mugono kemarin. ****
Editor : Dharaka R. Perdana