RADAR TULUNGAGUNG -Tim SAR gabungan menghadapi tantangan baru dalam proses evakuasi pasca runtuhnya gedung musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo.
Bangunan lama diketahui sisi musala selatan yang ambruk mengalami kemiringan serius akibat tertimpa atau terdampak puing pemeliharaan.
Hal ini membuat proses pencarian korban dan pembersihan puing dilakukan secara bertahap dan dengan prosedur pengamanan tambahan.
Baca Juga: Korban Runtuhnya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Terus Bertambah, Begini Update Jumlah dari Basarnas
Seiring dengan proses pembersihan pemeliharaan, tim SAR mendapati bahwa sebagian struktur bangunan lama di sebelah musala ikut bergeser dan miring.
Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit menyebut bahwa kondisi bangunan tersebut sangat rawan dan sewaktu-waktu bisa roboh.
Oleh karena itu, proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati agar tidak memicu keruntuhan susulan yang justru dapat membahayakan korban yang masih tertimbun maupun petugas.
Material bangunan lama disebut terhubung dengan struktur musala yang runtuh, sehingga beban puing menarik bangunan lama ikut mengalami pergeseran.
Selain itu, penggunaan alat berat pun dibatasi agar tidak menambah tekanan pada fondasi yang sudah rapuh.
Saat ini, sekitar 80 persen puing utama telah dibersihkan, namun area yang dekat dengan bangunan miring masih menjadi zona merah.
Analisis sementara menyebutkan bahwa musala runtuh karena tidak kuat menahan beban lantai atas yang baru selesai dicor.
Pihak pesantren mengakui bahwa rekonstruksi sedang berlangsung, dan struktur atas memang belum sepenuhnya kering saat digunakan.
Sementara itu, tim SAR terus meluncurkan bangunan miring dan berkoordinasi dengan tim ahli struktur bangunan untuk menentukan apakah perlu dilakukan pembongkaran sebagian atau total terhadap bagian yang terdampak. ****
Editor : Dharaka R. Perdana