Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dari Sarang Penyamun Menjadi Benteng Peradaban Islam Terbesar, Mengungkap Sejarah Kelam dan Karomah Pendiri Ponpes Lirboyo

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Senin, 20 Oktober 2025 | 03:25 WIB

 

gapura masuk PONPES Lirboyo Kediri
gapura masuk PONPES Lirboyo Kediri

RADAR TULUNGAGUNG — Nama Ponpes Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, kini tengah menjadi sorotan publik dan perbincangan hangat, khususnya setelah munculnya kontroversi terkait sebuah tayangan di televisi swasta nasional.

Namun, di balik polemik modern dan kemegahannya sebagai salah satu pesantren salaf terbesar di Indonesia, Lirboyo menyimpan kisah sejarah yang luar biasa, mengubah desa terpencil yang wingit dan ditakuti menjadi pusat pendidikan Islam berpengaruh di Nusantara.

Saat ini, Lirboyo telah menjelma menjadi rumah spiritual bagi lebih dari 40.000 santri yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia.

Pesantren ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai benteng peradaban Islam dan tempat lahirnya ribuan ulama serta pemimpin umat.

Pengaruh Lirboyo sangat kuat, terutama dalam perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintahan di Jawa Timur. Dalam usia yang telah melampaui satu abad, pesantren ini menjadi dambaan para orang tua santri.

Sayangnya, kemegahan dan pengaruh Lirboyo yang terasa saat ini berbanding terbalik dengan kondisi awal pendiriannya di tahun 1910.

Dahulu, wilayah Lirboyo dikenal sebagai daerah yang wingit (angker) dan penuh bahaya, bahkan namanya sendiri—yang semula adalah "NIrboyo"—berarti tempat yang bisa menyelamatkan dari bahaya ("NIr" selamat, "Boyo" bahaya), yang kemudian berubah menjadi Lirboyo (Lir=selamat, Boyo=bahaya).

Lokasi tersebut digambarkan sebagai belantara yang jarang terjamah. Lebih jauh, desa ini menjadi persembunyian para bromocorah dan begal yang sering mencegat saudagar yang melintas, bahkan dikenal sebagai sarang penyamun dan perampok.

Baca Juga: PBNU Bakal Menempuh Jalur Hukum atas Tayangan Trans7, Dinilai Lecehkan Dunia Pesantren dan Ponpes Lirboyo Kediri

Ponpes Lirboyo didirikan oleh Almaghfurlah KH Abdul Karim pada tahun 1910. KH Abdul Karim, yang akrab dipanggil Mbah Manab, bukanlah putra kiai terpandang, melainkan seorang petani biasa dari Magelang, Jawa Tengah. Pendirian pesantren ini merupakan prakarsa dari mertuanya, Kyai Sholeh dari Desa Banjarmlati.

Perjuangan KH Abdul Karim untuk mendirikan Ponpes Lirboyo sangat berat. Saat Kiai Sholeh dan Kiai Asy’ari mengantar Mbah Manab ke Lirboyo, ia hanya berbekal nasi satu bakul, sayur satu mangkuk, dan selembar tikar. Sang istri, Nyai Dlomroh, baru menyusul dua hari kemudian dengan bekal minim.

Sebagai pendatang baru, KH Abdul Karim dan sang istri tidak disambut dengan hangat. Kala itu, Lirboyo hanya dihuni 41 keluarga yang digambarkan masih jauh dari ajaran agama Islam, sehingga banyak yang tidak menyukai kedatangan mereka. Pasangan ini menghadapi caci maki dan teror.

Uniknya, teror yang dihadapi Kiai Abdul Karim tidak hanya datang dari penduduk sekitar, tetapi juga dari penghuni tak kasatmata yang turut mengganggu dan meneror. Konon, lokasi tersebut juga dihuni oleh bangsa jin yang beranak pinak.

Baca Juga: Mengenang Sosok Karismatik KH Achmad Asrori Al Ishaqy RA, Sang Mursid Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah Al Utsmaniyyah

KH Abdul Karim dikenal sebagai sosok panutan yang memiliki ilmu mendalam, yang didapatkan selama bertahun-tahun dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan. Di Lirboyo, beliau mengajarkan hadis Rasulullah Saw.

Berbekal kesabaran dan sopan santun, KH Abdul Karim menghadapi tetangga yang memusuhi sambil perlahan-lahan menyampaikan ajaran Nabi melalui laku dan bahasa sopan.

Secara perlahan, sifat antipati berubah menjadi simpati, dan penolakan berbalik menjadi sambutan hangat, hingga akhirnya Lirboyo bisa menjadi besar seperti sekarang ini.

Salah satu kisah luar biasa yang menjadi bukti karomah KH Abdul Karim adalah cerita tentang santri dari bangsa jin.

Menurut penuturan KH. Effendi Mursyad, salah satu murid dan khodim Kiai Abdul Karim, banyak santri dari bangsa jin yang diajar oleh beliau.

Konon, jin nakal yang sering mengganggu santri bahkan digendongi dan ditempatkan di Dempul oleh KH Abdul Karim.

Karomah lain yang dipercaya para santri dan masyarakat adalah air bersih di Lirboyo yang tidak pernah berhenti mengalir, padahal dulunya kondisi tanah di sana gersang dan sederhana. Keajaiban ini diyakini sebagai karomah dari para ulama pendiri pesantren.

Baca Juga: Asy-Syekh Mustaqim bin Husein, Ulama Besar dan Pendiri Pondok PETA Tulungagung yang Jarang Diketahui Publik

Di tengah kemegahan saat ini, banyak perubahan fisik yang terlihat di kompleks pesantren. Gedung megah yang dibangun oleh pabrik rokok Gudang Garam untuk Muktamar NU ke-30 tahun 1998, yang menelan biaya sekitar Rp1 miliar di atas lahan delapan hektar, berdiri dari arah barat.

Di bagian dalam, puluhan gedung berlantai empat berjajar rapi. Meski modern, kamar-kamar santri kuno tetap dilestarikan sebagai situs sejarah.

Saat ini, Lirboyo menjadi magnet bagi banyak tokoh nasional. Ribuan orang datang setiap tahun untuk belajar, bersilaturahmi, atau berziarah ke makam para pendirinya.

Terkait kontroversi baru-baru ini, Ponpes Lirboyo disorot setelah tayangan televisi swasta memuat gambar aktivitas santri dan kyai, seperti santri berjalan jongkok saat menghadap kyai atau memberikan amplop, dengan narasi yang dianggap menyisipkan budaya feodalisme.

Narasi ini diprotes keras oleh netizen, khususnya mantan santri, yang merasa hal tersebut merupakan penghinaan terhadap pesantren dan kiai.

Sejarah mencatat bahwa Ponpes Lirboyo didirikan dengan perjuangan luar biasa untuk mengubah sarang kejahatan menjadi pusat agama, menjadikannya lembaga yang dibela mati-matian oleh santrinya hingga kini.

Kisah Lirboyo adalah bukti nyata dari kalimat yang terkenal di pesantren tersebut: "Tanpa nasab ilmu pun jadi". Transformasi Lirboyo dari desa yang dijauhi dan ditakuti menjadi pusat ilmu adalah warisan terbesar KH Abdul Karim. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#kediri #ponpes lirboyo #peradaban islam