LAMONGAN – Banjir Lamongan kembali meluas setelah luapan anak Sungai Bengawan Solo merendam ribuan rumah warga dan belasan ribu hektare lahan pertanian. Bencana hidrometeorologi ini berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat di lima kecamatan, dengan total kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, banjir Lamongan telah merendam sedikitnya 1.840 rumah warga yang tersebar di 27 desa pada lima kecamatan. Selain permukiman, genangan air juga menutup lahan sawah produktif yang menjadi sumber utama penghidupan warga setempat.
Luapan sungai terjadi setelah debit air anak Sungai Bengawan Solo meningkat tajam akibat hujan deras yang mengguyur wilayah hulu dalam beberapa hari terakhir. Air meluap dan menggenangi kawasan permukiman dengan ketinggian bervariasi, bahkan di beberapa titik mencapai lebih dari setengah meter.
“Total rumah yang terdampak mencapai 1.840 unit di lima kecamatan. Kerugian sementara yang tercatat sekitar Rp4 miliar,” ujar petugas BPBD Lamongan.
Fasilitas Umum Lumpuh, Aktivitas Warga Terganggu
Selain merendam rumah, banjir Lamongan juga melumpuhkan sejumlah fasilitas umum. Jalan desa dan akses penghubung antarwilayah terendam, sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi ini memaksa warga mengubah pola aktivitas sehari-hari.
Di beberapa desa, warga terpaksa menggunakan perahu untuk beraktivitas, baik untuk berbelanja kebutuhan pokok, bekerja, maupun mengantar anak ke sekolah. Perahu menjadi satu-satunya alat transportasi yang memungkinkan mobilitas warga di tengah genangan banjir.
“Kalau mau keluar rumah sekarang harus naik perahu, jalan sudah tidak kelihatan,” ujar seorang warga terdampak banjir.
Dampak Banjir Meluas ke Jawa Tengah
Tak hanya Lamongan, hujan dengan intensitas tinggi juga memicu banjir dan banjir bandang di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di Kecamatan Wedarijaksa, warga berusaha menghalau tumpukan material kayu dan sampah rumah tangga yang terbawa arus sungai dan menyangkut di bawah jembatan.
Derasnya aliran sungai membawa kayu berukuran besar hingga menyumbat aliran air. Akibatnya, air meluap ke badan jalan dan memicu kepanikan warga. Peristiwa ini terjadi pada Jumat malam setelah hujan lebat mengguyur wilayah Pati dan sekitarnya.
Hingga Minggu pagi, aliran sungai masih dipenuhi tumpukan kayu, sampah, dan lumpur. Alat berat pun diturunkan untuk mengevakuasi material yang menyumbat aliran sungai agar air bisa kembali mengalir normal.
Kali Juana Siaga 2, Warga Diminta Waspada
Luapan air Kali Juana di Kabupaten Pati hingga Minggu masih berada pada status siaga 2. Warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai diimbau tetap waspada, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Petugas mengingatkan bahwa kondisi tanah yang jenuh air meningkatkan risiko luapan susulan dan banjir bandang, terutama di wilayah hilir sungai.
Jembatan Antar Desa Putus Diterjang Banjir Bandang
Banjir bandang juga menyebabkan kerusakan infrastruktur vital. Sebuah jembatan penghubung antar Desa Klakah Kasihan dan Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, putus diterjang banjir bandang pada Jumat malam.
Jembatan tersebut merupakan akses utama warga untuk beraktivitas. Namun kini kondisinya tinggal separuh, dengan puing-puing berserakan dan tebing sungai di seberangnya longsor tersapu arus.
Akibat putusnya jembatan sepanjang sekitar 7 meter itu, warga terpaksa memutar melalui jalur alternatif yang jaraknya berkilo-kilometer lebih jauh.
“Ini jalan utama. Kalau jembatan putus, warga harus mutar jauh lewat jalur lain,” kata salah seorang warga.
Banjir Bandang Rusak Permukiman Warga
Sebelumnya, banjir bandang juga menerjang Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Sejumlah rumah warga hancur tersapu arus deras, sementara ratusan rumah lainnya terendam lumpur.
Hujan lebat di lereng Pegunungan Muria menyebabkan debit sungai meningkat drastis hingga menjebol tanggul sepanjang sekitar 20 meter. Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan tanggul dan infrastruktur untuk mencegah bencana serupa terulang.
Editor : Natasha Eka Safrina