Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jejak Kiai Abu Mansur dalam Sejarah Lahirnya Kabupaten Tulungagung

Dara Shauqy Hadiwijaya • Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40 WIB
Peran Kiai Abu Mansur dalam Sejarah Lahirnya Kabupaten Tulungagung
Peran Kiai Abu Mansur dalam Sejarah Lahirnya Kabupaten Tulungagung

TULUNGAGUNG - Tulungagung tidak lahir begitu saja sebagai sebuah kabupaten. Di balik terbentuknya pusat pemerintahan, tata kota, hingga identitas wilayah, terdapat peran tokoh sentral yang selama ini kerap luput dari perhatian publik luas, yakni Kiai Abu Mansur. Sosok ulama, sufi, sekaligus bangsawan Mataram Islam ini memiliki kontribusi besar dalam proses awal berdirinya Tulungagung, baik secara spiritual, sosial, maupun tata ruang.

Kiai Abu Mansur: Ulama, Sufi, dan Putra Raja Mataram

Kiai Abu Mansur dikenal dengan beberapa nama historis, antara lain Raden Mas Qosim atau Raden Mastolo. Ia merupakan putra ke-8 dari Prabu Amangkurat IV, Raja Mataram Islam yang berpusat di Kartasura. Meski berasal dari lingkungan keraton, Kiai Abu Mansur memilih jalan dakwah dan pendidikan Islam, menempatkan dirinya sebagai ulama dan tokoh sufi, bukan sebagai perebut kekuasaan.

Gelar Abu Mansur sendiri menunjukkan kedalaman spiritualnya. Dalam tradisi Islam, gelar ini kerap dilekatkan pada tokoh yang memiliki kedudukan keilmuan tinggi, terutama dalam tasawuf. Riwayat menyebutkan bahwa Kiai Abu Mansur pernah menimba ilmu hingga ke Timur Tengah, sebelum akhirnya kembali ke tanah Jawa untuk berdakwah.

Peran Spiritual dalam Dakwah Islam di Wilayah Mataraman

Misi utama Kiai Abu Mansur adalah menyebarkan Islam di wilayah-wilayah bekas kekuasaan Mataram yang mulai terfragmentasi. Ia menetap dan berdakwah di kawasan Tawangsari, yang kala itu masih berupa daerah rawa dan belum tertata. Melalui pendekatan kultural dan spiritual, Kiai Abu Mansur berhasil mengislamkan masyarakat tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Salah satu bukti kuat peran dakwahnya adalah keberlanjutan tradisi ratib dan wirid yang hingga kini masih dipraktikkan di kawasan tersebut. Tradisi ini menunjukkan kesinambungan ajaran tasawuf yang diwariskan langsung oleh Kiai Abu Mansur kepada generasi setelahnya.

 

 

Menata Rawa Menjadi Pusat Pemerintahan

Kontribusi Kiai Abu Mansur tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan. Ia juga memiliki peran vital dalam penataan wilayah yang kemudian menjadi cikal bakal Kabupaten Tulungagung. Berdasarkan cerita tutur dan arsip sejarah, wilayah Tulungagung pada masa itu dikenal sebagai daerah rawa dengan sumber air besar.

Melalui prosesi simbolik dan kerja nyata, Kiai Abu Mansur mengatur aliran air dari sumber utama, mengarahkannya ke sungai, lalu membuangnya ke wilayah Ngrowo. Upaya ini perlahan mengeringkan kawasan tersebut hingga layak dijadikan pusat permukiman dan pemerintahan.

Dari sinilah kemudian ditetapkan titik pusat kabupaten, dengan pendopo kabupaten sebagai poros utama. Di sisi lain dibangun masjid, dan di hadapannya berdiri penjara. Tata letak ini mencerminkan konsep kepemimpinan Mataram Islam yang menyeimbangkan unsur pemerintahan, agama, dan hukum.

Asal-usul Nama Tulungagung

Nama Tulungagung diyakini berasal dari kata Telung (tiga) dan Agung (besar), yang merujuk pada keberadaan sumber air besar di wilayah tersebut. Sumber inilah yang menjadi pusat perhatian dalam penataan wilayah oleh Kiai Abu Mansur.

Penetapan lokasi ibukota kabupaten tidak dilakukan secara sepihak. Setiap wilayah kecil seperti Katembungan, Kalangbret, Ringinpitu, hingga Gondang Lor sempat mengajukan diri. Namun, melalui petunjuk keraton dan restu Kiai Abu Mansur, dipilihlah lokasi yang berada di tengah sebagai simbol pemersatu.

Jejak Fisik: Masjid, Pendopo, dan Pesarean

Hingga kini, warisan Kiai Abu Mansur masih dapat disaksikan melalui sejumlah situs penting. Di antaranya adalah masjid tua, pendopo, serta pesarean keluarga di kawasan Tawangsari. Tata ruang kawasan ini sarat makna filosofis, mulai dari posisi bangunan, arah pintu, hingga keberadaan pohon-pohon simbolik seperti tanjung, mundu, dan kepel.

Pesarean yang ada tidak hanya menjadi tempat peristirahatan tokoh-tokoh penting, tetapi juga menyimpan pesan moral tentang keseimbangan antara spiritualitas dan kehidupan duniawi. Setiap elemen dirancang agar manusia senantiasa mengingat Tuhan dalam setiap langkahnya.

 

 

Warisan Tak Benda yang Masih Hidup

Selain peninggalan fisik, Kiai Abu Mansur juga meninggalkan warisan budaya tak benda. Tradisi ziarah, nyadran, ratib, hingga pencak silat masih lestari di lingkungan masyarakat sekitar. Semua tradisi ini berakar pada nilai Islam yang berpadu harmonis dengan budaya Jawa.

Warisan inilah yang menjadi fondasi identitas Tulungagung sebagai daerah yang tumbuh dari spiritualitas, kebijaksanaan, dan harmoni sosial.

Menempatkan Kiai Abu Mansur dalam Sejarah Tulungagung

Melihat besarnya peran Kiai Abu Mansur, sudah selayaknya namanya ditempatkan sebagai tokoh sentral dalam sejarah lahirnya Kabupaten Tulungagung. Ia bukan hanya pendakwah, tetapi juga perancang awal tata wilayah dan penjaga keseimbangan sosial masyarakat.

Mengingat kembali jasa Kiai Abu Mansur bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan upaya memahami jati diri Tulungagung itu sendiri—sebuah daerah yang lahir dari perpaduan iman, ilmu, dan kebijaksanaan leluhur.

Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya
#tulungagung #sejarah tulungagung #sejarah #mataraman