RADAR TULUNGAGUNG- Gunung Kawi selama ini identik dengan stigma sebagai tempat pesugihan atau jalan pintas untuk menjadi kaya mendadak. Namun, di balik mitos yang berkembang dari mulut ke mulut, kawasan spiritual yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, ini menyimpan sejarah panjang, nilai budaya, serta praktik ritual yang jauh lebih kompleks dan sarat makna.
Dalam sebuah video YouTube yang viral, kreator konten Irfan Jayani mengunjungi langsung Gunung Kawi pada Minggu, 11 Januari 2026.
Ia berbincang dengan salah satu juru kunci, Mbah Sunarko, untuk mengurai fakta dan sejarah yang selama ini kerap disalahpahami publik.
Sejarah Keraton Gunung Kawi dari Kerajaan Mataram
Menurut Mbah Sunarko, asal-usul Keraton Gunung Kawi berkaitan erat dengan Kerajaan Mataram Kuno. Tokoh sentral dalam sejarah kawasan ini adalah Empu Sendok, seorang empu besar yang hidup sekitar abad ke-9.
Dari garis keturunannya pula muncul tokoh-tokoh penting seperti Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggulwati yang makamnya hingga kini masih diziarahi.
Di area Gunung Kawi, pengunjung dapat menemukan berbagai peninggalan sejarah, mulai dari gapura kuno bernama Gapura Agung Murgomulyo, patung Begawan Kapiworo (Hanoman), hingga sanggar pamujan yang dahulu digunakan sebagai tempat pertapaan dan semedi.
Lima Tempat Ibadah, Simbol Toleransi di Gunung Kawi
Salah satu fakta menarik yang jarang diketahui publik adalah keberadaan lima tempat ibadah dalam satu kawasan Gunung Kawi.
Di sana terdapat masjid, gereja, pura, wihara, dan kelenteng. Kondisi ini menjadi simbol kuat toleransi antarumat beragama yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Sebelum masuknya agama-agama besar ke Tanah Jawa, masyarakat setempat telah menganut kepercayaan Kejawen. Hingga kini, praktik spiritual Kejawen masih hidup berdampingan dengan keyakinan lain tanpa konflik.
Ritual Ngalah Berkah, Bukan Pesugihan
Mbah Sunarko menegaskan bahwa praktik yang dilakukan mayoritas pengunjung bukanlah pesugihan, melainkan ritual yang dikenal sebagai ngalah berkah. Ritual ini bertujuan untuk menenangkan diri, berdoa, dan memohon kelancaran usaha kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ritual biasanya dilakukan pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Pengunjung berdoa, bermeditasi di gua Sulingga Dewa, serta mengambil tanah keramat dalam jumlah terbatas. Tanah tersebut dipercaya sebagai simbol pembuka jalan rezeki, bukan jaminan kekayaan instan.
Selain itu, terdapat Tirto Wening, air suci yang hanya muncul setahun sekali pada 1 Suro dan digunakan dalam upacara jamasan. Air ini berasal dari sembilan mata air di puncak Gunung Kawi.
Artis, Pengusaha Besar, hingga Politikus Pernah Datang
Fakta lain yang mengejutkan, banyak tokoh nasional pernah berkunjung ke Gunung Kawi. Mulai dari artis, penyanyi ternama, pengusaha besar, hingga politisi menjelang Pilkada atau Pilpres. Bahkan disebutkan bahwa Presiden Joko Widodo pernah mengirim perwakilan dan juga datang sebelum menjabat saat masih berkiprah di Solo.
Namun, juru kunci menekankan bahwa keberhasilan para tokoh tersebut tidak semata-mata karena ritual, melainkan kerja keras, doa, dan usaha berkelanjutan.
Pesan Moral: Kerja Keras Tetap yang Utama
Di akhir kunjungannya, Irfan Jayani mengingatkan bahwa tidak ada kekayaan instan tanpa kerja keras. Ia menegaskan bahwa rezeki sejatinya datang dari Tuhan, sementara ritual hanyalah sarana spiritual untuk menenangkan diri dan memperkuat batin.
Gunung Kawi, pada akhirnya, bukan sekadar destinasi mistis. Ia adalah ruang sejarah, budaya, spiritualitas, dan toleransi yang menyatu dalam satu kawasan sakral di Jawa Timur.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani