RADAR TULUNGAGUNG- Pesugihan Keraton Gunung Kawi sejak lama menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Jawa Timur. Gunung yang terletak di Kabupaten Malang ini kerap dikaitkan dengan ritual mistis untuk mendatangkan kekayaan. Namun, benarkah Keraton Gunung Kawi memang tempat pesugihan, atau justru hanya situs spiritual dan sejarah yang disalahpahami?
Gunung Kawi berada di Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasinya berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Malang dan dapat ditempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan darat.
Sejak memasuki kawasan gerbang, suasana hening dan nuansa mistis langsung terasa. Pohon-pohon besar yang dibalut kain hitam bercorak kotak-kotak putih berdiri mengelilingi area keraton, menambah kesan sakral.
Aura Mistis yang Mengundang Rasa Penasaran
Memasuki area Keraton Gunung Kawi, pengunjung akan melihat banyak sesajen di berbagai sudut lokasi. Hal ini kerap menimbulkan anggapan bahwa tempat tersebut merupakan pusat ritual pesugihan. Tak sedikit peziarah yang datang dengan tujuan berharap kelancaran usaha, rezeki, hingga kesuksesan hidup.
Namun, menurut keterangan penjaga keraton, Pesugihan Keraton Gunung Kawi sejatinya tidak pernah ada.
Mereka menegaskan bahwa mayoritas orang datang untuk berziarah dan berdoa, bukan melakukan ritual menyimpang. Dua lokasi yang paling sering diziarahi adalah makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggulwati.
Makam Eyang Tunggul Manik dan Tunggulwati
Kedua tokoh tersebut diyakini berasal dari keturunan Pecawen Kediri dan memiliki peran penting dalam sejarah spiritual Gunung Kawi. Menariknya, makam yang ada di kawasan keraton bukanlah makam tempat wafatnya mereka.
Menurut cerita yang berkembang, Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggulwati melakukan muksa di tempat tersebut. Muksa merupakan istilah dalam kepercayaan Jawa kuno, di mana seseorang bertapa hingga menghilang secara fisik bersama raganya. Karena itu, lokasi tersebut lebih tepat disebut sebagai petilasan, bukan makam biasa.
Para peziarah biasanya berdoa dengan niat masing-masing. Usai berdoa, ada yang menerima benda tertentu dari area keraton. Benda tersebut dipercaya sebagai simbol atau tanda spiritual. Jika doa mereka terkabul, peziarah akan kembali sebagai bentuk rasa syukur.
Pohon Dewandar yang Diyakini Keramat
Selain makam, daya tarik lain dari Pesugihan Keraton Gunung Kawi adalah keberadaan pohon dewandar. Pohon ini dianggap sakral dan sering menjadi tempat bertapa.
Konon, jika seseorang bertapa di bawahnya hingga kejatuhan buah, daun, atau benda alami lainnya, lalu membawanya pulang, maka ia akan memperoleh keberuntungan, termasuk kekayaan.
Namun proses tersebut tidak instan. Ada yang menunggu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Lamanya waktu diyakini bergantung pada niat, kesabaran, dan keikhlasan batin orang yang bertapa.
Baca Juga: Film Agak Laen 2 Pecahkan Rekor, Jadi Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa Januari 2026
Simbol Pluralisme di Tengah Nuansa Mistis
Di balik cerita mistisnya, Keraton Gunung Kawi menyimpan nilai toleransi yang kuat. Di dalam satu kawasan terdapat lima tempat ibadah dari agama berbeda, yakni masjid, gereja, kelenteng, wihara, dan pura. Keberadaan rumah ibadah ini menjadi simbol nyata pluralisme dan keharmonisan antarumat beragama.
Fenomena ini menjadikan Keraton Gunung Kawi bukan sekadar tempat spiritual, tetapi juga contoh hidup berdampingan dalam perbedaan yang jarang ditemui di tempat lain.
Antara Mitos dan Keyakinan
Hingga kini, Pesugihan Keraton Gunung Kawi masih menjadi perdebatan. Sebagian meyakini adanya unsur mistis yang bisa mendatangkan kekayaan, sementara yang lain menganggapnya hanya mitos yang berkembang dari cerita turun-temurun.
Pada akhirnya, semua kembali pada keyakinan pribadi. Apakah kunjungan ke Gunung Kawi dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan refleksi spiritual, atau justru sebagai harapan pada kekuatan di luar Tuhan, sepenuhnya menjadi pilihan masing-masing.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani