Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto Berujung Cerita Mistis: Mahasiswa Semarang Alami Kejanggalan dari Jalak Gading hingga Sosok Hitam

Ingge Nayla Ayu Karina • Rabu, 21 Januari 2026 | 19:30 WIB
Di balik megahnya Gunung Lawu, tersimpan cerita yang tak semua berani dengar.
Di balik megahnya Gunung Lawu, tersimpan cerita yang tak semua berani dengar.

 

 

JAKARTA Pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto kerap dikenal sebagai jalur favorit pendaki karena lanskap sejarah dan keindahan alamnya. Namun, di balik pesona itu, jalur ini juga menyimpan banyak cerita mistis yang dipercaya turun-temurun. Pengalaman tersebut dialami Wahyu, mahasiswa asal Semarang, yang membagikan kisah pendakiannya melalui sebuah video YouTube.

Cerita pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto ini bermula saat Wahyu ingin merayakan kelulusannya di bangku kuliah. Di tengah keterbatasan informasi pendakian akibat pandemi, ia mendapat kabar bahwa jalur Candi Ceto masih dibuka. Tanpa ragu, Wahyu mengajak pasangannya, Ian, yang sebelumnya sudah beberapa kali mendaki gunung bersamanya.

Perjalanan dimulai dari Semarang menuju Surakarta untuk transit, sebelum akhirnya berangkat ke basecamp Gunung Lawu via Candi Ceto pada Sabtu pagi. Setibanya di basecamp sekitar pukul 07.30 WIB, Wahyu dan Ian terkejut karena suasana cukup ramai, padahal masih dalam masa pandemi. Setelah mengurus perizinan dan mengecek perlengkapan, pendakian pun dimulai.

 

Jalur Awal Pendakian yang Ramah Pendaki

Dari basecamp, jalur menuju Pos 1 Mbah berhenti terbilang landai. Pendaki akan melewati kawasan perkebunan warga serta situs bersejarah seperti Candi Kethek. Sekitar satu jam berjalan, Wahyu dan Ian tiba di Pos 1 tanpa banyak kendala dan langsung melanjutkan perjalanan.

Memasuki jalur menuju Pos 2, trek mulai menanjak dengan dominasi hutan damar. Di Pos 2 Seng, mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos 3 Cemoro Dowo, yang dikenal memiliki mata air deras dan udara sejuk.

 

Mulai Masuk Wilayah yang Dianggap Angker

Cerita mistis Gunung Lawu mulai terasa setelah Pos 3. Wahyu mengaku mendapat informasi bahwa pendaki dilarang bermalam di Pos 4 karena lokasi sempit dan sering dikaitkan dengan kejadian mistis. Jalur setelah Pos 3 juga semakin terjal, dipenuhi hutan pinus lebat.

Saat magrib menjelang, Wahyu dan Ian melihat burung jalak hitam yang oleh warga setempat disebut jalak gading. Burung ini dipercaya sebagai penunjuk jalan sekaligus jelmaan penunggu Gunung Lawu. Uniknya, jalak gading tersebut terus melompat di depan mereka, seolah menuntun perjalanan.

Ketika malam semakin gelap, Wahyu mulai merasakan tubuh dan carrier terasa sangat berat. Tak lama, ia mencium aroma harum misterius di jalur pendakian, meski tak ada pendaki lain di sekitar mereka. Bau itu muncul beberapa saat lalu menghilang begitu saja.

Baca Juga: Jejak Kiai Abu Mansur dalam Sejarah Lahirnya Kabupaten Tulungagung

Penampakan dan Suara Misterius di Jalur

Memasuki Pos 4 hingga menuju Bulak Peperangan (Pos 5), kondisi fisik mereka sempat menurun. Di bawah cahaya bulan purnama yang sangat terang, mereka akhirnya memutuskan mendirikan tenda darurat sebelum Pos 5 karena angin kencang.

Dini hari saat melanjutkan pendakian, kejanggalan kembali terjadi. Mereka mendengar suara langkah kaki di belakang, namun tak menemukan siapa pun. Bahkan Wahyu sempat melihat sosok hitam menyerupai pria setengah baya di jalur depan. Ia spontan mengucap salam dan izin lewat.

Menjelang subuh, mereka tiba di Pasar Dieng, sabana luas yang dikenal memiliki aura berbeda. Wahyu mengaku merasakan suasana yang tak biasa, namun perjalanan tetap berlanjut hingga akhirnya tiba di Hargo Dalem dan melanjutkan ke puncak.

Baca Juga: Banjir Lamongan Akibat Luapan Bengawan Solo Rendam 1.840 Rumah, Warga Terpaksa Pakai Perahu dan Kerugian Tembus Rp4 Miliar

Puncak Lawu dan Pelajaran Berharga

Sekitar pukul 06.30 WIB, Wahyu dan Ian akhirnya tiba di Puncak Lawu, Argodumilah. Rasa lelah terbayar lunas dengan panorama alam yang menakjubkan. Setelah beristirahat, mereka turun dan singgah di Warung Mbok Yem sebelum kembali ke basecamp.

Usai turun gunung, kejadian aneh belum sepenuhnya berakhir. Ian mengaku kerap mengalami ketindihan setelah pulang dari Lawu. Wahyu pun merenungkan berbagai pantangan, termasuk kepercayaan larangan membawa atribut berwarna hijau saat mendaki Gunung Lawu.

 

Dari pengalaman pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto tersebut, Wahyu menarik satu pelajaran penting: manusia hanyalah tamu di alam. Sikap sopan, menjaga etika, dan selalu mengingat Tuhan menjadi hal utama saat beraktivitas di alam bebas.

Editor : Ingge Nayla Ayu Karina
#Jalak gading #Gunung Lawu Via Candi Ceto #Cerita Mistis Gunung Lawu #Pengalaman Pendaki #Pendakian Gunung Lawu