JAKARTA - Pendakian Gunung Lawu kembali menjadi perbincangan setelah sebuah kisah horor sekaligus menyentuh tentang persahabatan viral di media sosial. Cerita ini datang dari Gian, seorang pendaki yang membagikan pengalaman pendakian Gunung Lawu bersama tiga sahabatnya: Leon, Rifki, dan Andre. Niat awal mereka sederhana, yakni healing dan memperbaiki hubungan yang sempat retak. Namun perjalanan itu justru berubah menjadi pengalaman mistis yang sulit dilupakan.
Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur memang dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga aura spiritual yang kuat. Dalam kisah ini, pendakian Gunung Lawu menjadi latar bagi konflik persahabatan, ujian mental, hingga peristiwa horor yang terjadi beruntun di jalur pendakian.
Awal Pendakian dan Konflik Lama
Gian dan Rifki memulai pendakian melalui jalur Cetho, sementara Andre dan Leon memilih jalur berbeda. Rencana ini sengaja dibuat agar Leon dan Rifki—yang tengah berseteru akibat masalah klaim asuransi—dipertemukan secara “tidak sengaja” di Pos 2. Konflik bermula ketika Leon merasa dibohongi soal manfaat asuransi yang dijual Rifki, terutama saat ayahnya sakit dan biaya tidak ter-cover penuh.
Sejak awal perjalanan, suasana pendakian sudah terasa berbeda. Gian mengaku melihat banyak payung kuning tertancap di sepanjang jalur, lengkap dengan tangga batu megah yang memberi kesan sakral. Meski demikian, mereka tetap melanjutkan perjalanan hingga Pos 3, di tengah gerimis dan medan yang semakin berat.
Temuan Aneh di Jalur Pendakian
Memasuki jalur menuju Pos 4, rombongan menemukan uang pecahan Rp100 ribu berserakan di tanah. Andre sebagai pemimpin rombongan melarang siapa pun mengambilnya karena terasa janggal. Namun tanpa sepengetahuan yang lain, Leon diam-diam mengambil beberapa lembar uang dan sebuah batu kecil berwarna hijau.
Tak lama setelah itu, Leon terpeleset dan kakinya terkilir. Ketegangan antara Leon dan Rifki kembali memanas, hingga tiba-tiba terdengar suara geraman dari semak-semak. Seekor anjing hutan muncul, namun langsung berlalu. Mereka akhirnya tiba di Pos 4 yang ternyata sepi, tanpa pendaki lain.
Teror Kuntilanak Laba-Laba
Malam di Pos 4 menjadi titik paling mencekam dalam pendakian Gunung Lawu ini. Saat Gian menyorotkan senter ke arah pohon, ia melihat sosok menyeramkan menyerupai kuntilanak dengan posisi seperti laba-laba, menempel di batang pohon dengan rambut menjuntai. Sosok itu bergerak cepat sebelum menghilang di balik dedaunan.
Ketakutan memuncak. Mereka memutuskan meninggalkan Pos 4 di malam hari dan melanjutkan perjalanan hingga Pos 5 yang ternyata ramai pendaki. Rasa lega pun muncul karena mereka tidak sendirian lagi.
Warung Legendaris dan Kedamaian Sementara
Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan menuju Hargo Dalem dan singgah di warung legendaris Mbok Yem, yang dikenal sebagai salah satu warung tertinggi di Indonesia. Pecel hangat di tengah dinginnya Gunung Lawu menjadi momen yang mencairkan suasana. Di puncak Hargo Dumilah, Leon dan Rifki akhirnya berdamai dan saling meminta maaf.
Namun teror belum sepenuhnya berakhir. Malam di Pos 5, seorang pendaki perempuan mendadak kesurupan dan menunjuk ke arah Leon. Seorang sesepuh pendaki kemudian menjelaskan bahwa Leon telah mengambil sesuatu yang “bukan haknya”. Uang dan batu hijau yang diambil Leon diyakini menjadi pemicu gangguan tersebut. Setelah benda itu dikembalikan, suasana kembali normal.
Pelajaran dari Pendakian Gunung Lawu
Kisah ini menjadi pengingat bahwa pendakian Gunung Lawu bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Selain menjaga keselamatan dan etika pendakian, para pendaki diingatkan untuk menghormati alam dan tidak sembarangan mengambil apa pun yang ditemukan di gunung.
Pendakian tersebut akhirnya berakhir selamat. Persahabatan yang sempat retak kembali utuh, dan pengalaman horor itu menjadi cerita yang akan selalu mereka kenang sepanjang hidup.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina