JAKARTA - Pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto kembali menjadi sorotan setelah sebuah perjalanan panjang lintas kota terekam dalam video YouTube yang memperlihatkan sisi santai, hangat, sekaligus sakral dari gunung legendaris di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu. Perjalanan dimulai dari Bandung menuju Semarang, sebelum akhirnya rombongan bergerak ke Solo dan Kabupaten Karanganyar, titik awal pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto.
Sejak awal, pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ada unsur reuni, nostalgia, dan kebersamaan yang kental. Sang pencerita berangkat seorang diri dari Bandung menggunakan kereta malam menuju Semarang untuk bertemu sahabat lamanya, Aji. Dari sana, rombongan kecil mulai terbentuk, diwarnai wajah-wajah lama yang pernah mendaki bersama di proyek sebelumnya, hingga pendaki baru yang ikut meramaikan perjalanan.
Perjalanan Panjang Menuju Kaki Lawu
Dari Semarang, rombongan melanjutkan perjalanan darat menuju Solo. Di kota ini, jumlah peserta semakin lengkap setelah bertemu rekan-rekan lain yang datang dari Jakarta. Total peserta pendakian mencapai belasan orang, mencerminkan betapa pendakian Gunung Lawu sering menjadi magnet bagi para pegiat alam dari berbagai daerah.
Sebelum benar-benar menjejak jalur pendakian, rombongan menyempatkan diri beristirahat dan makan di sejumlah tempat legendaris. Momen ini mempertegas bahwa pendakian bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga menikmati proses, cerita, dan tawa di sepanjang perjalanan.
Tantangan Akses Menuju Candi Ceto
Memasuki wilayah Kabupaten Karanganyar, tantangan mulai terasa. Akses menuju kawasan Candi Ceto dikenal memiliki tanjakan ekstrem. Dengan ketinggian rata-rata sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl), beberapa kendaraan bahkan tidak mampu mencapai basecamp. Sebagian peserta terpaksa turun dan berjalan kaki agar mobil bisa menanjak dengan lancar.
Namun, kelebihan jalur ini adalah fasilitas basecamp yang cukup banyak. Pendaki tidak perlu khawatir kehabisan tempat untuk persiapan. Setelah beres-beres perlengkapan, rombongan melakukan registrasi resmi, pendataan, serta membayar simaksi sebelum memulai pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto pada sore hari.
Mulai Mendaki, dari Gerbang Viral hingga Candi Kethek
Pendakian dimulai sekitar pukul 15.30 WIB. Salah satu spot awal yang menarik perhatian adalah gerbang bertuliskan “Selamat Mendaki” yang viral di media sosial. Tak lupa, rombongan menyempatkan diri berdoa sebelum melangkah lebih jauh.
Di jalur ini, pendaki akan melewati sejumlah situs bersejarah, salah satunya Candi Kethek yang merupakan cagar budaya dilindungi undang-undang. Keberadaan candi-candi ini menegaskan bahwa Gunung Lawu bukan hanya destinasi alam, tetapi juga kawasan dengan nilai sejarah dan spiritual yang kuat.
Mitos, Pasar Setan, dan Kawasan Sakral
Gunung Lawu dikenal kaya mitos. Mulai dari larangan memakai pakaian hijau, kepercayaan tentang burung jalak penunjuk jalan, hingga kisah pasar setan atau pasar gaib yang melegenda. Dalam perjalanan ini, rombongan juga menemukan kawasan wisata pamoksan yang mengharuskan pendaki mengenakan kain selendang sebagai bentuk penghormatan.
Aturan ini berlaku saat melintasi area menuju Sendang dan Pancuran Tujuh. Pendaki diwajibkan bersikap sopan dan beradab, mencerminkan kearifan lokal yang masih dijaga hingga kini di jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Ceto.
Pancuran Tujuh dan Etika Pendakian
Salah satu titik penting adalah Pancuran Tujuh atau Pancuran Pitu. Mata air ini menjadi tempat pendaki beristirahat sejenak dan melepas dahaga. Airnya jernih, namun pendaki diingatkan untuk tidak menggunakan sabun atau bahan kimia demi menjaga kelestarian lingkungan dan sumber air bagi warga sekitar.
Perjalanan ini menegaskan bahwa pendakian Gunung Lawu bukan semata tentang puncak, tetapi tentang menghargai alam, budaya, dan sesama. Jalur Candi Ceto menawarkan pengalaman lengkap: tantangan fisik, kekayaan sejarah, hingga nuansa spiritual yang sulit ditemukan di gunung lain.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina