Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Gunung Semeru Bikin Merinding! Dari Kisah “Paku Jawa” hingga Prasasti Ranu Kumbolo, Benarkah Ini Gunung Para Dewa?

Natasha Eka Safrina • Kamis, 29 Januari 2026 | 18:10 WIB

Sejarah Gunung Semeru penuh misteri: kisah paku Jawa dari India, Ranu Kumbolo, prasasti kuno, hingga Mahameru gunung para dewa.
Sejarah Gunung Semeru penuh misteri: kisah paku Jawa dari India, Ranu Kumbolo, prasasti kuno, hingga Mahameru gunung para dewa.

JAKARTA - Sejarah Gunung Semeru tak hanya bicara soal ketinggian dan jalur pendakian, tetapi juga menyimpan lapisan kisah yang membuat banyak orang merinding. Semeru dikenal sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan puncak Mahameru mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut. Namun di balik data geografis itu, Semeru juga hidup dalam legenda kuno, naskah sejarah, hingga jejak peninggalan yang masih menjadi perbincangan sampai sekarang.

Dalam kosmologi Hindu, Semeru diartikan sebagai pusat jagat raya. Tak heran bila gunung ini kerap dijuluki sebagai gunung tempat bersemayamnya para dewa. Bagi sebagian masyarakat, Mahameru bukan sekadar puncak yang dituju para pendaki, melainkan simbol kebesaran sekaligus ruang spiritual yang dihormati sejak lama. Menariknya, eksistensi Semeru tidak hanya muncul dalam dokumen kolonial Belanda, tetapi juga tercatat dalam naskah kuno Nusantara.

Salah satu sumber penting yang sering dikaitkan dengan Semeru adalah Tantu Panggelaran, naskah dari abad ke-15. Dalam kisah tersebut, Gunung Semeru disebut berasal dari India. Diceritakan, pada masa itu Pulau Jawa masih terombang-ambing di samudra dan belum stabil di posisinya. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Batara Guru sebagai penguasa tunggal memerintahkan para dewa dan raksasa memindahkan Gunung Mahameru dari India ke tanah Jawa sebagai pemberat.

Baca Juga: Update 6NG PKH dan BPNT Tahap 1 2026 Terbaru: Ada Kabar Bansos Cair Rp2,5 Juta dan Rp600 Ribu, Tapi Status Verifikasi Rekening Masih Dominan

Kisah “Paku Jawa”: Semeru Dipindah dari India ke Timur

Dalam cerita itu, Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura raksasa yang menggendong Gunung Mahameru. Sementara Dewa Brahma mengubah dirinya menjadi ular panjang yang bertugas melilit gunung agar dapat ditarik menuju Pulau Jawa. Mahameru kemudian diletakkan di bagian barat Pulau Jawa, namun dianggap tidak seimbang.

Para dewa lalu memindahkan Mahameru ke arah timur. Dalam perjalanan pemindahan itu, beberapa bagian gunung disebut tercecer dan membentuk deretan gunung-gunung di sepanjang Pulau Jawa. Setelah Mahameru ditempatkan di timur, masalah belum selesai karena gunung tersebut miring ke arah utara. Akhirnya diputuskan ujung gunung dipotong dan dipindahkan ke barat laut, lalu diberi nama Gunung Pawitra. Dalam konteks masa kini, Pawitra dikenal sebagai Gunung Penanggungan, sedangkan Mahameru dipercaya sebagai Gunung Semeru.

Tak berhenti di situ, kisah Semeru juga dilegitimasi sebagai area pertapaan Dewa Siwa. Untuk memperindah lokasi pertapaannya, disebutkan Dewa Siwa membuat sebuah danau untuk pemandian suci. Danau tersebut diyakini sebagai Ranu Kumbolo, salah satu titik paling terkenal di jalur pendakian Semeru.

Prasasti Ranu Kumbolo dan Jejak Ziarah Masa Lampau

Cerita legenda itu seakan diperkuat oleh temuan situs purbakala di sekitar Gunung Semeru. Salah satu yang paling sering disebut adalah prasasti di Ranu Kumbolo. Prasasti berbahasa Jawa Kuno ini diperkirakan berasal dari awal abad ke-12.

Isi prasasti tersebut disebut memuat pesan yang memperingati kunjungan tokoh penting dari Kerajaan Kediri yang berziarah ke sebuah pemandian suci. Bahkan, kawasan itu diduga pernah menjadi tempat pertapaan. Temuan semacam ini membuat Semeru tidak hanya dipandang sebagai destinasi alam, tetapi juga menyimpan jejak peradaban dan tradisi spiritual yang panjang.

Baca Juga: Dari Rasa Iri Menjadi Ikhtiar Budaya, Puguh Santoso Berusaha Menyelamatkan Tayub Tulungagungan Karya Yono Prawito

Semeru Mendunia: Pendaki Belanda hingga Destinasi Wisata Hindia

Sejarah Gunung Semeru kemudian makin dikenal dunia setelah banyak peneliti dan pendaki Eropa menaruh perhatian. Sosok yang disebut berjasa mengenalkan Semeru adalah ahli biologi berkebangsaan Belanda, Clinet, yang menjadi orang pertama mendaki Semeru.

Berdasarkan catatan dalam buku yang membahas gunung-gunung pada era itu, Clinet mendaki Semeru dari sebelah barat daya melalui Widodaren pada 19 Oktober 1838. Jalur tersebut dikenal sulit. Namun setelah pendakian itu, nama Semeru makin sering dibicarakan dan menarik pendaki Eropa lainnya.

Salah satu nama yang juga tercatat adalah ahli botani Belanda FW Junghuhn. Ia mendaki Semeru pada 1844 melalui jalur utara lewat Gunung Aye-Aye, Gunung Ider-Ider, dan Gunung Kepolo. Ada pula kisah Residen Pasuruan yang mencoba mendaki namun gagal mencapai puncak.

Popularitas Semeru terus meningkat, termasuk ketika badan pariwisata bentukan pemerintah Hindia-Belanda menjadikan Semeru sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Pulau Jawa. Salah satu rujukan yang sering disebut adalah buku panduan Java The Wonderland tahun 1900, yang menggambarkan Semeru sebagai pemandangan luar biasa, anggun, dan memukau di bawah sinaran matahari pagi.

Baca Juga: Angkat Tokoh Jayeng Kusuma, Ludruk Tulungagungan Ternyata Hadir di Tulungagung

Semeru dalam Lagu dan Catatan Aktivis: Mahameru yang Abadi

Kemegahan Semeru juga hidup dalam berbagai karya. Catatan harian Soe Hok Gie dalam buku Catatan Seorang Demonstran menggambarkan Semeru sebagai tempat menemukan kesunyian abadi. Bahkan, band legendaris Indonesia Dewa 19 pernah merilis lagu berjudul Mahameru pada 1994, yang menyebut Arcapada dan legenda puncak abadi para dewa.

Dari legenda kuno, prasasti, hingga jejak kolonial, Semeru seolah bukan sekadar gunung. Ia menjadi ruang sejarah, spiritualitas, sekaligus simbol kebesaran alam yang terus memikat siapa pun yang mendengarnya.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Taman Nasional Bromo Tengger Semeru #mahameru #tantu panggelaran #gunung penanggungan