Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mitos Gunung Semeru Kembali Viral! Dari Penunggu Ranu Kumbolo Berkebaya Kuning, Tanjakan Cinta, hingga Misteri Kawasan Kelik

Natasha Eka Safrina • Kamis, 29 Januari 2026 | 18:20 WIB

Sejarah Gunung Semeru penuh misteri: kisah paku Jawa dari India, Ranu Kumbolo, prasasti kuno, hingga Mahameru gunung para dewa.
Sejarah Gunung Semeru penuh misteri: kisah paku Jawa dari India, Ranu Kumbolo, prasasti kuno, hingga Mahameru gunung para dewa.

JAKARTA - Mitos Gunung Semeru kembali ramai diperbincangkan warganet seiring tingginya minat pendaki menjajal “atap Pulau Jawa”. Gunung Semeru merupakan gunung berapi kerucut yang secara administratif berada di dua wilayah, yakni Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, Semeru menjadi salah satu gunung favorit pendaki yang mengincar sensasi “di atas awan” di Puncak Mahameru.

Keindahan jalur pendakian Semeru disebut mampu membayar rasa lelah para pendaki meski perjalanan menuju Mahameru membutuhkan waktu berjam-jam. Sepanjang rute, pendaki disuguhi hawa sejuk, pemandangan alam yang memukau, hingga pengalaman berkemah di kawasan yang terkenal ikonik. Namun, di balik pesona itu, Semeru juga menyimpan kisah lain yang membuat namanya tak pernah sepi dibicarakan: mitos dan misteri yang dipercaya sebagian orang turun-temurun.

Perbincangan soal mitos Semeru kembali menguat setelah gunung ini tercatat pernah mengalami erupsi besar. Salah satu yang disebut dalam pembahasan publik adalah letusan pada 24 Desember 2012. Saat itu, Gunung Semeru kembali meletus dan mengeluarkan guguran awan panas. Peristiwa tersebut dilaporkan memakan korban jiwa dan membuat Semeru menjadi topik hangat di tengah masyarakat, termasuk di media sosial.

Baca Juga: Dari Rasa Iri Menjadi Ikhtiar Budaya, Puguh Santoso Berusaha Menyelamatkan Tayub Tulungagungan Karya Yono Prawito

Gunung Semeru Disebut “Pasak Bumi” dalam Kisah Tantu Panggelaran

Salah satu mitos yang paling sering muncul dalam cerita Semeru adalah keyakinan bahwa gunung ini merupakan tempat tinggal Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Dalam kisah yang berkembang, Semeru disebut berasal dari Gunung Meru di India yang dibawa ke Pulau Jawa.

Tujuannya disebut sebagai pasak bumi atau penyeimbang Pulau Jawa. Konon, pada masa itu Pulau Jawa digambarkan masih terombang-ambing di lautan karena belum memiliki penekan. Cerita tersebut juga dikaitkan dengan naskah kuno Tantu Panggelaran, yang sering disebut sebagai salah satu sumber kisah legenda Gunung Semeru.

Dalam mitos lain, Puncak Mahameru juga dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa Hindu dan menjadi penghubung antara bumi dan kayangan. Tak heran jika bagi sebagian orang, Semeru bukan hanya gunung untuk ditaklukkan, melainkan juga kawasan yang dianggap sakral dan harus dihormati.

Baca Juga: Mitos Gunung Lawu: Sunan Lawu dan Kyai Jalak, Penjaga Gaib Jalur Pendakian

Mitos Ranu Kumbolo: Penunggu Wanita Berkebaya Kuning

Nama Ranu Kumbolo hampir selalu muncul ketika membahas Gunung Semeru. Danau ini berada di ketinggian sekitar 2.389 mdpl dan menjadi salah satu spot favorit pendaki. Di sekitar danau terdapat area berkemah, sehingga banyak pendaki mendirikan tenda untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan alam yang menenangkan.

Namun, di balik keindahannya, Ranu Kumbolo juga dikenal memiliki mitos yang cukup kuat. Konon, danau ini memiliki penunggu berupa sosok wanita berkebaya kuning. Mitos tersebut menjadi alasan mengapa pendaki dilarang mandi dan mencuci di danau.

Selain itu, terdapat larangan lain yang sering disebut, seperti tidak mendirikan tenda terlalu dekat dengan bibir danau, termasuk menjaga jarak sekitar 10 meter. Pendaki juga disebut dilarang memancing di Ranu Kumbolo. Dalam cerita yang beredar, penunggu wanita berkebaya kuning itu disebut bisa berubah wujud menjadi ikan mas besar.

Baca Juga: Mitos Gunung Lawu : Larangan Memakai Baju Hijau Saat Mendaki Gunung Lawu

Tanjakan Cinta: Pantang Menoleh, Katanya Jodoh Bisa Terkabul

Perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Mahameru membuat pendaki harus melewati jalur yang dikenal sebagai Tanjakan Cinta. Tanjakan ini cukup panjang dan menguras tenaga, tetapi justru menjadi salah satu titik yang paling populer dibicarakan.

Mitosnya, jika seseorang berhasil melewati Tanjakan Cinta tanpa menoleh ke belakang, maka kisah percintaan atau harapan cintanya akan terkabul. Namun pada praktiknya, banyak pendaki mengaku tak kuat menahan lelah di tengah perjalanan sehingga berhenti untuk istirahat dan akhirnya menoleh ke belakang.

Bagi sebagian orang, kisah ini dianggap sekadar hiburan khas jalur pendakian. Namun bagi yang lain, mitos Tanjakan Cinta menjadi cerita yang menambah “bumbu” pengalaman mendaki Semeru.

Baca Juga: Kawah Putih Ciwidey Bandung, Pesona Danau Vulkanik Berwarna Unik di Kaki Gunung Patuha

Misteri Kawasan Kelik: Batu Nisan dan Cerita Kesurupan

Selain Ranu Kumbolo dan Tanjakan Cinta, Gunung Semeru juga memiliki kawasan yang disebut Kelik. Lokasi ini dikenal sebagai area yang terdapat banyak batu nisan untuk pendaki yang meninggal saat melakukan pendakian, termasuk disebut adanya nisan milik aktivis Soe Hok Gie.

Mitos yang berkembang menyebut, ketika pendaki melewati kawasan Kelik, ada yang mengalami kesurupan. Cerita kesurupan itu disebut melibatkan roh manusia maupun roh binatang. Kisah ini pun semakin menambah citra Semeru sebagai gunung yang bukan hanya menantang secara fisik, tetapi juga penuh cerita misteri yang dipercaya sebagian orang.

Meski mitos terus berkembang, pendaki tetap diingatkan untuk mengutamakan keselamatan, mematuhi aturan, dan menjaga etika selama berada di jalur pendakian Gunung Semeru.

Editor : Natasha Eka Safrina
#tanjakan cinta #misteri gunung semeru #ranu kumbolo #puncak mahameru