TULUNGAGUNG – Sisa-sisa kejayaan industri kolonial di Jawa Timur selalu menyimpan teka-teki yang menarik untuk dikupas. Salah satu yang belakangan ini mencuri perhatian adalah keberadaan Terowongan Pabrik Gula Kunir Tulungagung. Terletak di sebelah utara palang kereta api Ngunut, puing-puing bangunan ini berdiri kokoh di antara rimbunnya semak, menyimpan misteri tentang fungsinya di masa lalu.
Banyak warga lokal yang berspekulasi bahwa lorong bawah tanah ini merupakan sebuah bunker pertahanan atau benteng peninggalan Jepang. Namun, penelusuran mendalam di lokasi memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai Terowongan Pabrik Gula Kunir Tulungagung. Bangunan yang memiliki panjang sekitar 50 meter dan lebar 12 meter ini ternyata memiliki struktur yang sangat spesifik dan berkaitan erat dengan proses produksi gula di era Hindia Belanda.
Akses masuk menuju Terowongan Pabrik Gula Kunir Tulungagung tergolong sempit dengan tangga menurun yang menantang. Meski sebagian besar tertutup reruntuhan dan tanah, struktur di dalamnya masih memperlihatkan kejeniusan arsitektur masa lalu. Lorong-lorong gelap ini bukan sekadar jalan tikus, melainkan bagian vital dari mesin industri raksasa yang pernah menghidupi kawasan Kunir dan sekitarnya.
Struktur Unik: Antara Lorong Udara dan Tungku Pembakaran
Saat memasuki bagian dalam, pengunjung akan disuguhi pemandangan pilar-pilar beton yang menahan lantai dua. Di sepanjang terowongan sisi utara, terdapat lubang-lubang kecil yang mengarah ke atas. Lubang ini menyerupai sistem ventilasi atau jalur pembuangan panas. Berdasarkan analisis di lapangan, besar kemungkinan bagian atas terowongan ini dulunya merupakan kawah-kawah besar atau wadah pengolahan gula tebu.
"Ini mirip sekali dengan pawon (dapur) raksasa dalam tradisi Jawa. Mulut terowongan yang lebih luas di sisi selatan kemungkinan besar menjadi akses bagi para pekerja untuk memasukkan bahan bakar," ujar seorang penelusur sejarah di lokasi. Jalur ini didesain sedemikian rupa agar panas dari pembakaran dapat terdistribusi merata ke tungku-tungku pengolahan di bagian atas sebelum akhirnya asap dibuang melalui sistem ventilasi.
Meski fungsi utamanya adalah untuk produksi, tidak menutup kemungkinan jika Belanda atau Jepang sempat mengalihfungsikan bangunan kokoh ini menjadi tempat perlindungan. Ketebalan dinding beton dan posisinya yang sebagian berada di bawah permukaan tanah menjadikannya tempat yang sangat aman untuk berlindung saat terjadi gempuran selama masa revolusi fisik.
Potensi Sejarah yang Terancam Hilang
Keberadaan terowongan ini menambah daftar panjang warisan kolonial di Tulungagung yang kondisinya kian memprihatinkan. Jika dibandingkan dengan penemuan serupa di Pabrik Gula Cokrotulung, Klaten, yang memiliki terowongan sepanjang 100 meter, potensi sejarah di Kunir ini sebenarnya sangat besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah.
Sayangnya, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa mulut-mulut terowongan kini mulai tertimbun tanah dan sampah. Beberapa bagian bahkan sengaja dibongkar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Kerusakan ini sangat disayangkan mengingat nilai edukasi yang tersimpan di balik setiap bata merah dan semen kuno tersebut.
Hingga saat ini, pemetaan mandiri terus dilakukan untuk mengungkap apakah masih ada jalur rahasia yang lebih panjang di bawah pemukiman warga. Sejarah mencatat bahwa Belanda selalu membangun sistem drainase dan logistik bawah tanah yang sangat kompleks untuk mendukung pabrik gula mereka.
Menjaga Warisan untuk Anak Cucu
Menelusuri puing-puing Kunir bukan sekadar aktivitas uji nyali di bangunan tua. Ini adalah upaya untuk merawat ingatan kolektif masyarakat Tulungagung tentang masa lalu yang membentuk wajah kota hari ini. Harapannya, pemerintah daerah dan pegiat sejarah dapat bersinergi untuk mengamankan aset ini agar tidak hilang ditelan zaman.
Terowongan ini adalah saksi bisu bagaimana keringat para buruh tebu diperas dan bagaimana teknologi Eropa dipaksakan masuk ke tanah Jawa. Menjaganya berarti menghargai perjalanan panjang ekonomi dan perjuangan rakyat di Tulungagung.
Editor : Natasha Eka Safrina