JAKARTA - Nama Ketoprak Siswo Budoyo pernah menjadi legenda di dunia seni pertunjukan tradisional Jawa. Kelompok ketoprak yang lahir dari Tulungagung ini tidak hanya terkenal di Jawa Timur, tetapi juga berhasil menembus panggung nasional hingga tampil di berbagai kota besar di Indonesia. Di balik kesuksesan Ketoprak Siswo Budoyo, terdapat sosok visioner bernama Kiswondo HS, seorang seniman yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan kesenian rakyat.
Didirikan pada 19 Juni 1958, Ketoprak Siswo Budoyo menjadi salah satu kelompok ketoprak paling berpengaruh pada era 1960 hingga 1990-an. Melalui berbagai inovasi panggung, kostum, dan cerita, kelompok ini mampu menarik perhatian masyarakat luas dan menjadikan ketoprak sebagai hiburan rakyat yang sangat populer.
Perjalanan Ketoprak Siswo Budoyo tidak lepas dari perjalanan hidup pendirinya, Kiswondo Harjo Suwito. Sejak kecil, ia telah memiliki bakat seni yang kuat dan ketertarikan mendalam terhadap kesenian tradisional Jawa.
Awal Kehidupan Kiswondo HS
Kiswondo lahir pada 14 Januari 1928 di Tulungagung dengan nama Sukardiman. Ia merupakan anak dari pasangan Harjo Suwito dan Sringatin yang dikenal sebagai pengusaha batik tulis. Keluarga tersebut tergolong cukup mapan pada masa itu.
Sejak kecil, Kiswondo telah menunjukkan minat besar terhadap seni. Ia sering memainkan gamelan dan belajar kesenian tradisional. Pendidikan formalnya dimulai di sekolah Taman Siswa di Tulungagung, lembaga pendidikan yang didirikan oleh tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara.
Meski sempat menempuh pendidikan di Surabaya, perjalanan hidupnya berubah ketika masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada masa agresi militer Belanda tahun 1949, Kiswondo ikut bergabung dengan para pejuang muda untuk mempertahankan kemerdekaan.
Perjalanan di Dunia Ketoprak
Setelah masa perjuangan, Kiswondo merantau dan mulai menekuni dunia seni secara serius. Pada tahun 1951, ia menyaksikan pertunjukan ketoprak di Semarang yang kembali membangkitkan kecintaannya pada seni tradisional.
Ia kemudian bergabung dengan kelompok ketoprak dan mulai tampil sebagai aktor. Berkat bakat aktingnya yang kuat, Kiswondo langsung dipercaya memainkan peran penting seperti Aryo Penangsang. Penampilannya yang memukau membuatnya dikenal sebagai pemain ketoprak berbakat.
Selama beberapa tahun, Kiswondo berpindah dari satu kelompok ketoprak ke kelompok lainnya untuk memperdalam pengalaman. Dari perjalanan tersebut, ia akhirnya memiliki tekad untuk membangun kelompok ketoprak sendiri.
Tekad itu terwujud pada tahun 1958 ketika ia mendirikan Ketoprak Siswo Budoyo di Tulungagung bersama sejumlah rekan dan istrinya, Roemani.
Baca Juga: Heboh Rapel Gaji Pensiunan ASN 2026 dan THR Cair! Ini Klarifikasi Resmi soal Isu yang Sempat Viral
Menjadi Kiblat Ketoprak Nusantara
Awalnya, perjalanan Ketoprak Siswo Budoyo tidak mudah. Banyak pihak meragukan keberhasilan kelompok ini karena ketoprak sering dianggap sebagai kesenian rakyat yang kurang bergengsi.
Namun Kiswondo memiliki visi besar. Ia melakukan berbagai inovasi dalam pementasan ketoprak, mulai dari tata panggung, kostum, hingga efek pertunjukan. Salah satu inovasi yang terkenal adalah penggunaan efek panggung seperti pemain yang dapat “menghilang” atau “terbang”, sesuatu yang jarang ditemui pada pertunjukan ketoprak saat itu.
Selain itu, ia juga menggabungkan dua gaya ketoprak, yaitu gaya Mataraman dari Jawa Tengah dan gaya pesisiran dari Jawa Timur. Inovasi tersebut kemudian melahirkan konsep Ketoprak Gaya Baru Siswo Budoyo.
Pada awal 1960-an, kelompok ini mulai tampil di berbagai kota seperti Blitar, Kediri, Surabaya, hingga Malang. Penonton selalu memadati setiap pertunjukan yang digelar.
Popularitas Ketoprak Siswo Budoyo semakin meningkat ketika mereka tampil di Surakarta, yang saat itu dikenal sebagai barometer kesenian Jawa. Pertunjukan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Puncak Popularitas di Era Televisi
Memasuki era 1980-an, Ketoprak Siswo Budoyo semakin dikenal luas setelah sering tampil di televisi. Stasiun TVRI Surabaya secara rutin menayangkan pertunjukan kelompok ini, sehingga popularitasnya meroket di berbagai daerah.
Dalam satu kelompok, jumlah anggota Ketoprak Siswo Budoyo bahkan mencapai lebih dari 200 orang. Para pemain tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga hidup layaknya satu keluarga.
Kiswondo juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat peduli terhadap kesejahteraan anggotanya. Ia mendirikan yayasan yang membantu pendidikan anak-anak para pemain, bahkan sempat mendirikan sekolah seni untuk mencetak generasi penerus.
Warisan Seni Budaya
Kiswondo HS wafat pada 17 Februari 1997 setelah mengalami serangan tekanan darah tinggi. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni tradisional Jawa.
Baca Juga: Bansos Cair Hari Ini! BPNT Rp600 Ribu hingga BLT Dana Desa Rp900 Ribu Sudah Masuk KKS di Daerah Ini
Ribuan orang mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir di Tulungagung. Ia dikenang sebagai sosok yang berjasa besar dalam mengangkat ketoprak menjadi seni pertunjukan yang dicintai masyarakat.
Hingga kini, Ketoprak Siswo Budoyo tetap dikenang sebagai salah satu kelompok ketoprak paling berpengaruh dalam sejarah kesenian tradisional Indonesia. Dedikasi Kiswondo menjadi bukti bahwa seni budaya dapat terus hidup ketika diperjuangkan dengan sepenuh hati.
Editor : Dyah Wulandari