Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legenda Baru Klinting dan Asal-usul Telaga Ngebel: Kisah Kutukan Naga hingga Tenggelamnya Desa yang Angkuh di Ponorogo

Natasha Eka Safrina • Senin, 9 Maret 2026 | 21:44 WIB

Mengenal legenda Baru Klinting dan asal-usul Telaga Ngebel. Kisah naga Gunung Wilis yang menenggelamkan desa angkuh menjadi danau indah.
Mengenal legenda Baru Klinting dan asal-usul Telaga Ngebel. Kisah naga Gunung Wilis yang menenggelamkan desa angkuh menjadi danau indah.

PONOROGO - Kabupaten Ponorogo tidak hanya tersohor karena kesenian Reognya yang mendunia. Di balik keindahan alamnya, tersimpan sebuah legenda rakyat yang turun-temurun diceritakan tentang asal-usul Telaga Ngebel. Sebuah kisah yang bermula dari meditasi seorang putra naga hingga petaka yang menenggelamkan sebuah desa akibat sikap sombong penduduknya.

Kisah ini berawal dari pasangan suami istri, Ki Ageng Mangir dan Nyai Roro Kijang. Akibat sebuah kesalahan fatal karena menyentuh pusaka Cundrik milik suaminya, Nyai Roro Kijang harus menjalani laku prihatin atau meditasi di tengah rawa. Dalam masa meditasinya, sebuah keajaiban sekaligus kemalangan terjadi. Ia melahirkan seorang putra, namun wujudnya bukanlah manusia, melainkan seekor naga bersisik emas yang mengenakan mahkota.

Putra naga tersebut kemudian diberi nama Baru Klinting. Karena merasa malu dan bingung, Nyai Roro Kijang sempat meninggalkan sang naga kecil. Namun, setelah dewasa, Baru Klinting mencari jati dirinya. Dengan suara dentingan lonceng (klinting) yang selalu menyertai setiap gerakannya, ia berhasil menemui ibunya dan diperintahkan untuk menemui ayahnya yang sedang bertapa di kaki Gunung Wilis.

Baca Juga: Resmi! TPG THR Guru ASN 2026 Cair dengan Tambahan Komponen, Ini Kriteria Penerima dan Skema Lengkapnya

Syarat Menjadi Manusia di Gunung Wilis

Pertemuan dengan sang ayah, Ki Ageng Mangir, menjadi titik balik kehidupan Baru Klinting. Untuk bisa berubah wujud menjadi manusia seutuhnya, sang ayah memberikan syarat yang sangat berat: Baru Klinting harus bermeditasi dengan cara melingkari Gunung Wilis dengan tubuh naganya yang raksasa.

Tanpa membantah, Baru Klinting melaksanakan perintah tersebut. Konon, ia menghabiskan waktu hingga 300 tahun dalam meditasinya yang sunyi. Tubuhnya tertutup tanah, semak belukar, hingga menyerupai batang kayu besar yang melintang di tengah hutan. Di sinilah petaka bagi penduduk desa dimulai, yang sekaligus menjadi awal mula asal-usul Telaga Ngebel.

Keserakahan Penduduk dan Perjamuan Berdarah

Tiga abad berlalu, sebuah desa di dekat Gunung Wilis berencana menggelar acara bersih desa. Kepala desa memerintahkan warga untuk berburu hewan hutan demi jamuan besar. Namun, setelah seharian berburu, tak satu pun hewan didapat. Dalam rasa lelah, para warga menemukan sebuah "batang pohon" raksasa yang tampak bergerak saat tertancap kapak.

Baca Juga: Kabar Gembira! TPG dan THR Guru ASN Maret 2026 Cair Bersamaan, SKTP Dipercepat dan Nominal THR Lebih Besar

Tanpa mereka sadari, yang mereka potong-potong adalah tubuh Baru Klinting yang sedang bertapa. Daging naga tersebut dibawa ke desa dan disantap dengan penuh sukacita oleh seluruh penduduk. Di tengah pesta pora tersebut, muncul seorang bocah laki-laki kecil dengan tubuh penuh luka dan berbau tidak sedap.

Bocah tersebut, yang merupakan penjelmaan Baru Klinting, meminta belas kasihan berupa sedikit makanan. Namun, kesombongan telah membutakan mata hati warga. Mereka mengusir dan menghina bocah tersebut. Hanya seorang nenek tua bernama Nyai Latung yang menunjukkan empati dengan memberinya makan. Sebagai balas budi, sang bocah berpesan agar Nyai Latung segera menyiapkan lesung dan centong kayu jika terjadi sesuatu pada desa tersebut.

Kutukan Lidi dan Terbentuknya Telaga Ngebel

Puncak dari legenda asal-usul Telaga Ngebel terjadi saat bocah itu mendatangi rumah kepala desa. Ia menancapkan sebatang lidi ke tanah dan menantang siapa pun untuk mencabutnya. Tak satu pun warga yang kuat sanggup mencabut lidi tersebut, hingga akhirnya sang bocah sendiri yang mencabutnya dengan mudah.

Baca Juga: TPG Guru Terbaru: Rekening Jangan Sampai Nonaktif, Kemendikdasmen Tegaskan Data Dapodik Jadi Kunci Pencairan Tunjangan

"Kalian akan menerima karma karena telah memakan dagingku," ucapnya sebelum mencabut lidi. Seketika, dari lubang bekas lidi tersebut, menyembur air yang sangat deras. Air tersebut meluap dengan cepat, menenggelamkan seluruh rumah, sawah, dan penduduk yang angkuh.

Hanya Nyai Latung yang selamat karena mengikuti pesan sang bocah dengan menjadikan lesung sebagai perahu dan centong sebagai dayungnya. Desa yang tenggelam itulah yang kini dikenal sebagai Telaga Ngebel, sebuah destinasi wisata populer di Ponorogo yang menyimpan pesan moral mendalam tentang kerendahan hati.

Editor : Natasha Eka Safrina
#legenda Baru Klinting #wisata Ponorogo #asal usul telaga ngebel