BANTUL - Nama Ki Ageng Mangir Wanabaya dan pusaka misteri Tombak Baru Klinting selalu menempati ruang tersendiri dalam sejarah besar Mataram Islam. Pusaka ini bukan sekadar senjata tajam biasa; ia adalah simbol kedaulatan Mangir yang membuat Panembahan Senopati harus memutar otak untuk menaklukkannya. Hingga kini, keberadaan dan asal-usul aslinya masih menyisakan perdebatan antara fakta sejarah dan mitos tutur rakyat yang melegenda.
Secara administratif, perdikan Mangir kini terletak di Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul. Di masa lalu, wilayah ini dipimpin oleh Ki Ageng Mangir III, sosok yang dikenal teguh pendirian dan menolak tunduk pada Mataram. Kekuatannya konon bersumber dari pusaka paling ampuh di tanah Jawa saat itu, yakni Tombak Baru Klinting. Pusaka inilah yang membuat prajurit Mataram segan untuk berkonfrontasi langsung secara fisik.
Asal-usul yang Menggetarkan: Antara Lidah Naga dan Meteor
Menilik sejarahnya, misteri Tombak Baru Klinting berawal dari kakek Ki Ageng Mangir III, yakni Raden Wanabaya (Ki Ageng Mangir I). Dalam kisah tutur yang populer, pusaka ini bermula dari sosok naga bernama Baru Klinting, putra Raden Wanabaya dengan Roro Jelegong. Sang naga yang ingin diakui sebagai anak diminta untuk melingkari Gunung Merbabu sebagai pembuktian.
Namun, karena tubuhnya kurang sedikit untuk bersentuhan, sang naga menjulurkan lidahnya. Pada saat itulah, Raden Wanabaya memotong lidah tersebut yang kemudian berubah menjadi mata tombak sakti. Versi lain yang lebih logis secara historis menyebutkan bahwa tombak ini sebenarnya ditempa dari material meteorit yang jatuh ke bumi, memberikan kekuatan dan ketajaman yang melampaui senjata pada umumnya.
Jatuhnya Pusaka ke Tangan Mataram
Keampuhan tombak ini berakhir secara tragis melalui skenario politik dan asmara. Panembahan Senopati mengirim putrinya, Roro Pembayun, untuk menyamar dan memikat hati Ki Ageng Mangir III. Siasat ini berhasil. Saat Mangir datang ke Mataram untuk sowan sebagai menantu, ia diminta melepaskan pusakanya kepada Juru Martani sebagai syarat protokol istana.
Tanpa perlindungan misteri Tombak Baru Klinting, Ki Ageng Mangir III tewas di tangan mertuanya sendiri. Kepalanya dibenturkan ke Batu Gilang saat ia bersujud menyembah sang raja. Sejak saat itu, tombak yang ditakuti tersebut berpindah tangan menjadi pusaka andalan Kesultanan Mataram. Bahkan pada era Sultan Agung, pusaka ini dipinjamkan kepada perwira Kinoyo Darmo untuk menumpas pemberontakan Adipati Pragola II dari Pati yang dikenal sakti mandraguna.
Polemik Makam dan Jejak Fisik di Sorolaten
Hingga saat ini, publik meyakini jenazah Ki Ageng Mangir dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja di Kotagede dengan posisi separuh di dalam dan separuh di luar pagar sebagai simbol statusnya yang "menantu sekaligus musuh". Namun, sebuah temuan pada tahun 1969 di Dusun Sorolaten, Desa Sidokarto, Sleman, mengguncang keyakinan tersebut.
Warga setempat meyakini bahwa makam asli Ki Ageng Mangir berada di Sorolaten, bukan Kotagede. Di sebelah barat makam tersebut, terdapat makam yang dipercaya milik Eyang Baru Klinting, sang paman sekaligus asal-usul dari nama tombak tersebut. Kompleks makam di Sorolaten ini menjadi magnet bagi peziarah dari berbagai daerah, termasuk luar negeri, yang mencari kebenaran sejarah di balik misteri Tombak Baru Klinting.
Meskipun kebenaran sejarah antara Kotagede dan Sorolaten masih menjadi perdebatan, satu hal yang pasti: Tombak Baru Klinting tetap dirawat dengan penuh penghormatan oleh Kraton Yogyakarta hingga hari ini. Ia menjadi pengingat abadi tentang dinamika kekuasaan, kesaktian, dan harga diri sebuah perdikan di masa lalu yang berani menantang hegemoni besar Mataram.
Editor : Natasha Eka Safrina