PONOROGO - Jawa Timur tidak pernah kehabisan kisah legenda yang memikat sekaligus penuh pesan moral. Salah satu yang paling melegenda adalah asal-usul Telaga Ngebel, sebuah danau alami yang terletak di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Ponorogo. Di balik keindahan airnya yang tenang, tersimpan riwayat kelam tentang naga sakti bernama Baru Klinting yang konon menenggelamkan sebuah desa akibat keserakahan manusia.
Asal-usul Telaga Ngebel bermula dari kelahiran seorang anak naga bernama Baru Klinting. Ia bukanlah makhluk biasa, melainkan putra dari tokoh sakti Ki Ageng Mangir dan Endang Sawitri. Namun, wujudnya yang menyerupai naga membuat sang ayah merasa malu dan enggan mengakuinya. Untuk mendapatkan pengakuan, Baru Klinting diperintahkan untuk bertapa melingkari puncak Gunung Wilis. Saking besarnya, tubuh naga ini melilit gunung hingga kepalanya bertemu dengan ekornya.
Ratusan tahun berlalu, status asal-usul Telaga Ngebel mulai memasuki babak tragis. Suatu hari, penduduk desa setempat tengah menyiapkan pesta besar dan berburu hewan di hutan. Tak kunjung mendapat tangkapan, mereka justru menemukan "batang kayu" raksasa yang ternyata adalah tubuh naga Baru Klinting yang sedang bertapa. Tanpa ampun, penduduk memotong-motong daging naga tersebut untuk dijadikan santapan perjamuan.
Ujian Kesabaran dan Penyamaran Baru Klinting
Setelah terbangun dari tapa akibat tubuhnya yang dicincang, Baru Klinting mengubah wujudnya menjadi seorang bocah laki-laki kurus yang kotor dan penuh luka. Ia turun ke desa yang sedang berpesta pora untuk menguji nurani penduduk. Dengan perut lapar, ia meminta sedekah makanan, namun justru disambut dengan hinaan, cacian, dan pengusiran kasar.
Hanya ada satu sosok yang menunjukkan kasih sayang: seorang janda tua bernama Nyai Latung. Wanita tulus ini memberikan makanan seadanya kepada sang bocah. Sebagai balas budi, Baru Klinting memberikan pesan rahasia: "Nek, jika nanti terdengar suara gemuruh, segeralah naik ke atas lesung dan bawa centong kayu sebagai dayungnya."
Tragedi Lidi: Hancurnya Desa karena Kesombongan
Baru Klinting kemudian kembali ke tengah perjamuan desa dan menantang penduduk yang sombong. Ia menancapkan sebatang lidi ke tanah dan berkata, "Siapa pun yang merasa kuat, cabutlah lidi ini." Tak satu pun pria perkasa atau jawara desa mampu mencabut lidi kecil tersebut. Dengan satu gerakan ringan, Baru Klinting mencabut lidi itu sendiri.
Seketika, dari lubang bekas lidi tersebut, menyembur air yang sangat deras. Air meluap tak terkendali, menghanyutkan seluruh bangunan dan menenggelamkan warga yang tamak. Desa tersebut seketika berubah menjadi danau luas, yang kini dikenal sebagai objek wisata Telaga Ngebel. Hanya Nyai Latung yang selamat karena mengikuti pesan sang naga dengan menaiki lesung kayu.
Misteri di Dasar Telaga dan Pesan Bagi Wisatawan
Hingga saat ini, masyarakat di sekitar Ponorogo masih percaya bahwa naga Baru Klinting masih bersemayam di dasar telaga sebagai penjaga keseimbangan alam. Banyak nelayan dan wisatawan mengaku sering melihat riak air misterius atau bayangan besar di bawah permukaan air pada malam-malam tertentu. Fenomena ini semakin memperkuat aura mistis yang menyelimuti kawasan tersebut.
Secara budaya, setiap tahun diadakan upacara Larung Sesaji sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada leluhur serta penjaga telaga. Kisah asal-usul Telaga Ngebel bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan peringatan keras bagi manusia agar tidak serakah terhadap alam. Legenda ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kerendahan hati dan kemurahan hati, bukan pada kekuatan fisik atau kekayaan materi.
Kini, Telaga Ngebel menjadi destinasi wisata unggulan di Jawa Timur yang menawarkan perpaduan antara keindahan pemandangan pegunungan dan wisata sejarah-budaya. Bagi pengunjung yang datang, disarankan untuk selalu menjaga sikap dan lisan, menghormati kearifan lokal yang telah dijaga selama berabad-abad.
Baca Juga: THR Guru ASN 2026 dan TPG Maret Jadi Sorotan, Ini Jadwal Pencairan Terbaru serta Update Info GTK
Editor : Natasha Eka Safrina