SEMARANG – Kabupaten Semarang tidak hanya dikenal dengan udara sejuknya, namun juga menyimpan sebuah narasi sejarah rakyat yang sangat kuat, yakni Legenda Rawa Pening. Danau alami yang membentang di empat kecamatan—Bawen, Ambarawa, Tuntang, dan Banyubiru—ini diyakini terbentuk dari sebuah peristiwa mistis yang melibatkan sosok naga sakti bernama Baru Klinting. Danau yang terletak di cekungan Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran ini menjadi saksi bisu tentang karma atas kesombongan manusia.
Kisah dalam Legenda Rawa Pening bermula di Desa Ngasem, tempat bermukim pasangan sakti Ki Hajar dan Nyai Salakanta. Saat sang suami sedang menjalani laku prihatin atau bertapa di lereng Gunung Telomoyo, sebuah keajaiban sekaligus ujian menimpa Nyai Salakanta. Ia mengandung dan melahirkan seorang putra, namun wujudnya bukanlah manusia, melainkan seekor naga. Anak naga itu kemudian diberi nama Baru Klinting.
Nama tersebut memiliki makna mendalam; "Baru" berasal dari kata Bra yang merujuk pada keturunan Brahmana, sementara "Klinting" berarti lonceng. Meski berwujud binatang melata, Baru Klinting memiliki jiwa manusia dan kemampuan berbicara. Demi mencari pengakuan sang ayah, Baru Klinting menyusul Ki Hajar ke puncak gunung. Di sana, ia diminta membuktikan jati dirinya dengan cara melingkari Gunung Telomoyo sebagai syarat mutlak pengakuan anak.
Pertapaan yang Berujung Tragedi di Desa Patok
Dalam rangkaian Legenda Rawa Pening, Baru Klinting diperintahkan untuk bertapa di Bukit Tugur agar kelak bisa berubah wujud menjadi manusia seutuhnya. Namun, beberapa tahun kemudian, kedamaian pertapaannya terusik oleh warga Desa Patok yang sedang mencari hewan buruan untuk pesta sedekah bumi. Karena tak kunjung mendapat buruan, warga tanpa sengaja memotong-potong tubuh Baru Klinting yang tertimbun tanah karena disangka akar pohon besar.
Daging naga tersebut dibawa ke desa dan disantap dengan penuh keserakahan oleh penduduk Desa Patok yang dikenal angkuh. Pasca kejadian tersebut, Baru Klinting bangkit dan menjelma menjadi seorang bocah kecil dengan tubuh penuh luka. Ia datang ke tengah pesta desa untuk menguji nurani penduduk dengan meminta sedikit makanan, namun justru diusir dengan kasar dan dihina oleh warga setempat.
Kutukan Lidi dan Terbentuknya Danau Rawa Pening
Hanya seorang nenek tua bernama Nyai Latung yang menunjukkan belas kasih dengan memberinya makan. Sebagai balas budi, Baru Klinting berpesan agar Nyai Latung segera menyiapkan lesung kayu jika mendengar suara gemuruh. Sang bocah kemudian kembali ke pusat desa dan menancapkan sebatang lidi ke tanah, menantang warga yang sombong untuk mencabutnya.
Sesuai narasi Legenda Rawa Pening, tak satu pun warga yang mampu mencabut lidi tersebut. Begitu Baru Klinting mencabutnya sendiri, semburan air yang sangat deras muncul dari bekas tancapan lidi. Air meluap dengan cepat hingga menenggelamkan seluruh Desa Patok beserta penduduknya yang sombong. Desa yang tenggelam itulah yang kini kita kenal sebagai Danau Rawa Pening. Nyai Latung selamat berkat menaiki lesung kayu yang berfungsi sebagai perahu, sementara Baru Klinting diyakini kembali menjadi naga penjaga danau tersebut hingga sekarang.
Editor : Natasha Eka Safrina