Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

10 Mitos Paling Seram di Tanah Jawa yang Masih Dipercaya: dari Larangan Tidur Magrib hingga Kisah Nyai Roro Kidul

Natasha Eka Safrina • Senin, 9 Maret 2026 | 22:15 WIB

10 mitos di Tanah Jawa yang masih dipercaya, dari larangan tidur magrib hingga legenda Nyai Roro Kidul dan pamali yang sarat makna budaya.
10 mitos di Tanah Jawa yang masih dipercaya, dari larangan tidur magrib hingga legenda Nyai Roro Kidul dan pamali yang sarat makna budaya.

JAKARTA – Cerita tentang mitos di Tanah Jawa masih bertahan hingga sekarang, meskipun masyarakat hidup di era modern yang serba rasional. Di berbagai desa dan daerah pedesaan, sejumlah pamali atau larangan tradisional tetap dipercaya sebagai bagian dari warisan budaya leluhur.

Berbagai mitos di Tanah Jawa tidak hanya berisi kisah menyeramkan, tetapi juga menyimpan pesan moral, nilai kehidupan, serta cara masyarakat dahulu menjaga keselamatan dan keseimbangan dengan alam. Banyak dari mitos tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui cerita orang tua kepada anak-anak.

Mulai dari larangan tidur saat magrib hingga kisah mistis penguasa Laut Selatan, mitos-mitos ini masih memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap alam, waktu, dan kehidupan sehari-hari.

Larangan Tidur Saat Magrib

Salah satu mitos paling terkenal adalah larangan tidur ketika waktu magrib tiba. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, waktu senja dianggap sebagai peralihan antara dunia manusia dan dunia makhluk halus.

Banyak orang tua melarang anak-anak tertidur saat magrib karena diyakini dapat membuat mereka mudah diganggu oleh makhluk gaib. Kisah anak yang tiba-tiba sakit atau berperilaku aneh setelah tidur di waktu tersebut sering dijadikan contoh oleh masyarakat yang mempercayainya.

Namun di balik mitos tersebut, terdapat pesan praktis dari leluhur. Senja merupakan waktu dengan pencahayaan yang minim sehingga anak-anak dianggap lebih aman berada di dalam rumah.

Baca Juga: Misteri Naga Baru Klinting dan Legenda Rawa Pening: Kisah Bocah Sakti yang Menenggelamkan Desa Angkuh Menjadi Danau Abadi

Pantangan Menyapu di Malam Hari

Larangan menyapu rumah pada malam hari juga sering terdengar dalam tradisi Jawa. Pesan yang biasa disampaikan adalah, “jangan menyapu malam-malam karena rezeki bisa hilang.”

Pada masa lampau, rumah-rumah hanya diterangi lampu minyak atau obor. Menyapu di malam hari berisiko membuat sampah tidak terlihat jelas atau bahkan menyapu bara api dari tungku dapur yang dapat memicu kebakaran.

Karena itu, larangan ini sebenarnya mengajarkan kehati-hatian serta menjaga keamanan rumah tangga.

Larangan Duduk di Bantal

Mitos lain yang cukup populer adalah larangan duduk di atas bantal. Orang tua biasanya mengatakan bahwa kebiasaan tersebut bisa menyebabkan bisul.

Dalam budaya Jawa, bantal dianggap sebagai simbol kepala yang melambangkan pikiran dan martabat seseorang. Duduk di atasnya dipandang sebagai tindakan yang tidak sopan dan tidak menghargai diri sendiri.

Selain itu, bantal yang biasanya berisi kapuk juga mudah kotor jika diinjak atau diduduki.

Baca Juga: Legenda Baru Klinting dan Misteri Terbentuknya Rawa Pening: Kisah Naga Sakti di Kaki Gunung Telomoyo yang Menuntut Balas atas Kesombongan Manusia

Pohon Beringin yang Dianggap Keramat

Pohon beringin sering dianggap memiliki aura mistis di berbagai daerah di Jawa. Pohon besar dengan akar menjuntai ini kerap ditemukan di alun-alun atau tempat yang dianggap sakral.

Sebagian masyarakat percaya beringin menjadi tempat bersemayamnya makhluk gaib atau penjaga alam. Cerita tentang penampakan atau kesurupan di sekitar pohon beringin turut memperkuat kepercayaan tersebut.

Di sisi lain, mitos ini juga mengajarkan manusia untuk menghormati alam dan tidak merusak lingkungan.

Pantangan Memotong Kuku di Malam Hari

Larangan memotong kuku pada malam hari juga cukup dikenal. Konon kebiasaan tersebut dapat mendatangkan kesialan bahkan kematian.

Secara logis, mitos ini muncul karena pada masa lalu pencahayaan sangat terbatas. Memotong kuku dalam kondisi gelap berpotensi melukai jari dan menimbulkan infeksi.

Dengan demikian, mitos tersebut sebenarnya mengajarkan kehati-hatian dalam aktivitas sehari-hari.

Larangan Menunjuk Pelangi

Dalam budaya Jawa, menunjuk pelangi dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan. Anak-anak sering diperingatkan bahwa jarinya bisa buntung jika menunjuk pelangi.

Bagi masyarakat Jawa kuno, pelangi dipandang sebagai jembatan antara bumi dan kahyangan atau dunia para dewa. Karena itu, fenomena alam tersebut harus dihormati.

Tradisi Sesajen di Persimpangan Jalan

Di beberapa tempat, masyarakat masih menemukan sesajen di persimpangan jalan atau di bawah pohon besar. Sesajen biasanya berupa nasi, bunga, kopi, atau rokok.

Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada penunggu tempat tersebut. Tujuannya bukan untuk menyembah, melainkan meminta izin dan menjaga harmoni dengan lingkungan sekitar.

Baca Juga: Misteri Naga Baru Klinting dan Asal-usul Telaga Ngebel: Kisah Kutukan Lidi yang Menenggelamkan Desa Angkuh di Kaki Gunung Wilis

Suara Gamelan Misterius di Tengah Malam

Sebagian orang mengaku pernah mendengar suara gamelan di tengah malam di daerah hutan atau persawahan, tanpa ada pemain musik yang terlihat.

Dalam kepercayaan masyarakat, suara tersebut dianggap sebagai pesta makhluk halus. Orang yang mendengarnya biasanya disarankan untuk tidak mencari sumber suara dan tetap melanjutkan perjalanan sambil berdoa.

Legenda Ratu Laut Selatan

Salah satu mitos paling terkenal di Jawa adalah kisah Nyai Roro Kidul, yang dipercaya sebagai penguasa Laut Selatan.

Legenda ini berkembang di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Yogyakarta hingga Banyuwangi. Salah satu pantangan yang sering disebut adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau di pantai selatan.

Mitos tersebut dipercaya sebagai peringatan agar manusia menghormati kekuatan besar Samudra Hindia yang terkenal dengan ombaknya yang ganas.

Makhluk Penunggu Persawahan

Di daerah pedesaan, petani juga sering mempercayai adanya makhluk gaib yang menjaga sawah. Sosok tersebut kadang dikaitkan dengan makhluk seperti Wewe Gombel atau makhluk lain yang dipercaya menghuni alam.

Kepercayaan ini mengajarkan manusia untuk selalu menghormati alam serta bersyukur atas hasil panen yang diperoleh.

Pada akhirnya, berbagai mitos di Tanah Jawa bukan sekadar cerita menakutkan. Di baliknya tersimpan nilai-nilai kehidupan seperti tata krama, kehati-hatian, serta penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur yang terus hidup hingga sekarang.

Baca Juga: Misteri Tombak Baru Klinting: Pusaka Sakti Ki Ageng Mangir yang Ditakuti Mataram, Benarkah Berasal dari Lidah Naga?

Editor : Natasha Eka Safrina
#Pamali Jawa #mitos Jawa kuno #mitos jawa